Fatual.Net – Jakarta, Berkenalan dengan sosok Maya Azeezah, wanita yang gigih berkarya dalam bidang seni dan sastra memberikan inspirasi dan motivasi tersendiri bagi kita. Karena ketika kita sibuk bergiat dengan menggunakan otak kiri kita, dengannya kita diajak ke dalam dunia yang sel-sel syaraf otak kanan kita akan berkembang dan akan membuat kita menjadi orang berbahagia karena seimbang hidup kita memanfaatkan otak kiri dan kanan.
Pertama kali berkenalan dengannya tatkala acara film pendek “Perempuan dalam Gerbong” ditayangkan dan asyik didiskusikan dengan para milenial di Perpustakaan dan Arsip Kota Administrasi Jakarta Utara, Jalan Logistik, Jakarta Utara. Maka sekelompok pelajar SMA yang hadir begitu antusias menggali dan berdiskusi bersama.

Ketika ditanya bagaimana proses Maya Azeezah mulai menekuni dunia seni, Maya mengungkapkan : “Sejak kecil saya sudah menari, ikut balet ketika duduk di bangku SD. Di tingkat SMA saya menari di Sanggar Sudio 26 milik Ati Ganda. Tidak itu saja pada tahun 2010 saya menguji kemampuan dengan menulis bersama almarhum suami saya; Eka Surya Saputra, tatkala itu belum menjadi suami saya,” ucapnya.
Tetapi karena pertemuan yang intens dan persamaan dalam hobi dan minat maka jalinan kasih menghantarkan mereka mengikat janji suci dalam pernikahan dan mereka pun menikah di akhir tahun 2010an.
“Suami saya, Eka Surya Saputra status akhinrya adalah konselor di Advokasi Badan Narkotika Nasional. Sayang Tuhan menakdirkan ia lebih dahulu meninggalkan dunia yang fana ini,” ungkapnya penuh haru.
Maya Azeezah dan Eka Surya Saputra di akhir tahun 2010 membuat pertunjukkan prolog untuk acara hari anti narkotika dunia dengan judul “Hitam Putih”. Sejak dari Jogjakarta itulah Maya Azeezah mengembangkan kemampuan menulis yang dilakukan untuk kebutuhan panggung.
Lalu akhir tahun 2011 Maya Azeezah menulis puisi, naskah panggung, skenario film pendek hingga saat ini.
Ketika ditanya apa debut pertamanya, Maya Azeezah menyatakan; “Saya memulai debut pada tahun 2010 di Depok dalam acara Walikota Depok bersama Hello Band, yang diliput TVOne dan beberapa media, sayang saya lupa untuk menyimpan dokumentasinya,” ungkap wanita yang juga pernah menjadi juri literasi di FL2SN tingkat SD, Jakarta Selatan.
Dalam berkarya seni Maya lebih dimotivasi oleh berpikir secara bebas dan dalam menyampaikan pesan Maya Azeezah mengungkapkan kegelisahan pribadi, pesan dan kegelisahan masyarakat dan lain sebagainya.
Maya Azeezah merasa merdeka sebagai seniman tanpa mengaitkan politik dan masalah lainnya. Dalam berkarya Maya Azeezah merasakan kekayaan lebih dari sekedar materi, di sanalah Maya Azeezah mengenal berbagai lapisan kalangan masyarakat baik yang bertaraf rendah hingga tertinggi sekalipun.
Dalam berseni Maya Azeezah memang awalnya kurang disetujui keluarganya. Awalnya keluarga kaget Maya Azeezah memutuskan mengikuti jejak Eka Surya Saputra sang suami. Eka Surya Saputra yang jebolan Sinemotografi IKJ dianggar sebagai seniman yang tidak menjanjikan masa depan karena berpenghasilan rendah. Tetapi bagi mereka berdua berkesenian dengan sendirinya akan menghidupi siapa yang melahirkan seni itu sendiri tanpa dikejar dan dituntut. Mereka melakukan semuanya dengan enjoy.
Saat ini Maya Azeezah sedang persiapan tertunda karena covid untuk :
- Peluncuran buku ke 7, “365 Nyanyian Ranting Cemara.”
- Pameran lukisan mini dan melukis bersama Komunitas dan Masyarakat Didik
- Festival Teater Jakarta (FTJ) 2020
- Pentas Ulang para pemenang FTJ 2019 dengan Dinas Kebudayaan
Tahun 2019 teater yang Maya Azeezah dirikan bersama rekan-rekan memperoleh penghargaan salah satu dari 5 (lima) pemenang dalam Festival Teater Jakarta tahun 2019 dengan nama group teater Maura Lintas Teater (Jakarta Utara) serta ada satu lagi buku karyanya yang ditunda penerbitannya meski sudah mendapat ISBN yaitu Kumpulan Puisi Nyanyian Ranting Cemara 365 puisi yang dikumpulkan sejak tahun 2017 hingga 2019 suatu prestasi yang patut dibanggakan, di samping buku-buku lainnya.
Kini di tengah suasana mewabahnya Covid-19 Maya Azeezah tak kehilangan kesempatan justru ia lebih dapat leluasa bergiat dan melakukan aktivitas yang mungkin di hari-hari biasa harus membagi dengan kegiatan di luar rumah tetapi kini dengan bekerja dari rumah, melukis, menulis buku, menulis puisi dapat terus dikerjakan dan semakin produktif.
Maya Azeezah dilahirkan dengan nama Maya Damayanti. Azeezah ditambahkan sebagai nama alias atau nama sebagai penulis karena nama Azeezah merupakan nama kecil sebagai nama kesayangan dari sang kakek ketika Maya Damayanti sudah berumur 17 tahun.
Bahkan ada cerita lain, tatkala Maya bersama ayah dan ibunda tercinta ke tanah suci pada tahun 1990 seseorang yang mengurus air zam-zam di Masjidil Haram memberi Maya nama : “Hai Siti Rahmah, your name Azeezah right?” ungkapnya. Dan jadilah Maya Azeezah ia abadikan sebagai namanya di dunia kepenulisan hingga kini.
Pesan Maya Azzezah terhadap generasi milenial ia tuangkan dalam tulisan karyanya sebagai berikut :
Sebuah pertanyaan pemilik generasi Z
Suatu hari bersama puteri kecilku yang mulai beranjak remaja mungkin suatu hari tanpa aku sadari akan dewasa, di sebuah resto umum, keramaian di ruang luar beberapa anak muda berkumpul di sana, berada di antara mereka menyempatkan diri menilik semua dengan mata, telinga dan rasa, menyimak dari jauh bahasa kelompok dari tiap meja, tiba-tiba suara terbahak cukup kencang terdengar bising dan terus menerus dari meja yang agak jauh, mereka perempuan-perempuan generasi milenial/ Y berkostum tertutup, generasi ini cenderung mengejar solidaritas, kebahagiaan bersama, dan eksistensi diri agar dihargai secara sosial, work life balance, nilai-nilai persamaan dan hak asasi manusia, sehingga mempengaruhi pembawaan mereka yang bisa dinilai lebih demokratis, lebih jeli dalam melihat suatu peluang, terutama bisnis dengan konsep yang lebih inovatif.
Di meja lainnya di belakang saya sekelompok muda mudi generasi X berbusana seadanya bahkan ada yang sexi terbuka, bahasa mereka lebih terdengar santun tanpa teriakan dengan tawa yang terbatas, generasi X dibesarkan dalam situasi serta event politis yang cukup panas dan bergejolak di era pemerintahan Orde Baru, secara internasional, mereka juga menyaksikan cukup banyak konflik atau kejadian politik global,
dan kemudian di sebelah kiri meja saya sekelompok anak yang baru tumbuh remaja ke dewasa yaitu generasi Z berkostum aneka ada yang terbuka ada yang tertutup dan membuka perbincangannya mereka lebih kepada tugas di sekolah dan membicarakan besok akan membuat apa, terdengar lebih santun dari generasi X. 44 persen dari Generasi Z saya perhatikan lebih sering memeriksa media sosial setidaknya setiap jam sekali mereka lebih cepat memperoleh informasi dari pada generasi-generasi sebelumnya, teknologi bagi mereka dapat melakukan apa saja termasuk belajar dan bekerja, bukan sekadar bersenang-senang, bahkan media sosial sebagai lahan mereka.
Lalu terjadilah ruang diskusi dibuka oleh puteri saya yang termasuk kategori generasi Z, “mam aku gak pernah yah ngakak seperti generasi milenial /Y, dan pakaian yang kupakai tetap santun meski tak berhijab sebab menurutku hijab itu adalah batas, aku juga gak seperti generasi X di belakang mama itu, dengan baju yang seronok padahal bahasa mereka sudah lebih santun kan.., menurut mama apakah yang mereka lakukan sudah benar mam, dan apakah aku juga sudah melakukan hal benar?”
Berat nih menjawab pertanyaan puteri kecil yang sudah remaja menjelang dewasa, aku harus jujur pada dia, “Begini yah nak, ini bukan masalah benar atau salah, tetapi mau apa tidak memiliki sikap baik saja dulu, mulai dari generasi tradisional sampai generasi alpha, tetap harus memiliki attitude dan itu kembali kepada peran orang tua mereka memberikan pendidikan tata krama di rumahnya masing-masing, agar pada saat tampil bergaul di luar rumah dapat menempatkan diri, memiliki pendidikan tinggi, pendidikan agama, atau memiliki ketrampilan, kekayaan, kecantikan, jabatan lebih pun tidak menjamin seseorang memiliki sikap, perilaku atau tingkah laku yang baik. Dalam melakukan interaksi dengan orang lain apalagi di muka umum harus disertai cenderung untuk bertindak sesuai norma-norma, sebab norma-norma adalah tatanan dan pedoman yang diciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang sifatnya wajib tunduk pada peraturan tersebut dalam bersosialisasi, bahkan pakaian pun tidak menjadi mutlak sebagai cermin dari seseorang, kadang hanya sekedar cover, segala nasehat orang tua dalam hal menuju tatanan itu baik tujuannya, tak ada orang tua yang akan menjerumuskan anak-anaknya bukan? Maka saran mama cerdaslah dalam menghadapi pergaulan.”
Ia tersenyum dan menjawab, “Semakin pusing mah melebihi pelajaran sekolah.”
Lalu bagaimana sikap generasi boomer nih, aku ada di generasi X, selamat istirahat!
(Johan Sopaheluwakan)
















