Faktual.net,Gowa, Sulsel– Program SPPG (Sekolah Penggerak Pemberian Gizi) yang bertujuan meningkatkan gizi peserta didik di sekolah-sekolah kini mendapat sorotan tajam dari warga dan orang tua murid di Kelurahan Je’nebatu, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.
Pasalnya, pembagian nasi untuk peserta didik dilakukan di pinggir jalan, bukan di area sekolah seperti seharusnya. Akibatnya, para siswa harus meninggalkan ruang belajar hanya untuk mengambil makanan yang disimpan di tepi jalan, sebelum kembali ke sekolah.
“Anak-anak itu mestinya belajar di kelas, bukan mondar-mandir ambil nasi di pinggir jalan. Ini sangat tidak wajar,” ujar salah satu warga dengan nada kesal saat ditemui awak media di lokasi kejadian.
Yang lebih disayangkan, pembagian nasi di pinggir jalan tersebut diduga dilakukan oleh pegawai dari Dapur Badan Gizi Kecamatan Bungaya, yang menjadi pelaksana penyedia konsumsi program SPPG di wilayah itu.
Warga menilaidan menyampaikan kepada awak media (5/11/2025), tindakan ini mencerminkan kelalaian dan lemahnya pengawasan dari pihak pengelola SPPG.
“Kalau pegawai dari Dapur Badan Gizi Bungaya sendiri yang membagikan nasi di pinggir jalan, berarti sistemnya kacau. Harusnya makanan dibagikan langsung di sekolah, bukan di luar area belajar anak-anak,” tegas seorang tokoh masyarakat Je’nebatu.
Warga juga mengkhawatirkan keselamatan dan kesehatan anak-anak yang harus berjalan ke jalan raya untuk mengambil makanan, sementara pihak yang berwenang seolah menutup mata.
“Kalau begini caranya, anak-anak yang jadi korban. SPPG ini program bagus, tapi kalau dilaksanakan asal-asalan seperti ini, justru merusak citra pemerintah,” tambah warga lainnya dengan nada tajang.
Warga berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa dan instansi terkait segera turun tangan meninjau langsung kejadian ini. Mereka meminta agar pihak pengelola program dan Dapur Badan Gizi Bungaya memberikan klarifikasi resmi serta memperbaiki mekanisme pembagian makanan di lapangan.
“Tujuan program SPPG itu sangat baik, tapi pelaksanaannya harus diawasi. Jangan sampai niat mulia pemerintah justru tercoreng oleh kelalaian pegawainya sendiri,” tutup seorang tokoh masyarakat Bungaya.
Reporter Sattu.
Redaksi.
















