Faktual.Net,Jakarta. – Diskusi publik yang diselenggarakan INDEF pada tanggal 8 Februari 2023 secara daring dengan menghadirkan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia untuk menutup sesi Acara dimulai tepat jam 09.00 WIB dengan pembukaan dari INDEF oleh Esther Sri Astuti selaku Direktur Program INDEF. Kemudian acara dimulai dengan pembahasan oleh Daniel Witt dari ITIC yang berada di Afrika Selatan saat ini dan dilanjutkan oleh John Gardner adalah Vice President, Public Policy, Committee for Economic Development yang berada di Washington DC.

Diskusi diawali oleh Nurul Ichwan selaku Deputi Promosi Penanaman Modal. Nurul menyampaikan bahwa Amerika Serikat selama beberapa dekade selalu berinvestasi dalam bidang eksplorasi di Indonesia. Saat ini Indonesia sedang tidak melakukan eksplorasi untuk minyak dan gas. Tetapi eksplorasi yang masih berjalan adalah batubara dan saat ini nikel untuk bahan batere, dimana batere digunakan untuk kendaraan listrik. Memang investasi Amerika Serikat untuk bidang eksplorasi hampir mencapai 77% sementara yang lainnya di bawah 10%. Hanya sekarang dengan digempur nya penggunaan listrik, maka Amerika Serikat berminat untuk berinvestasi dalam bidang eksplorasi nikel. Rekanan Amerika Serikat dalam hal investasi seperti China, Meksiko, Kanada, Jepang, Jerman dan Indonesia.
Pada kesimpulan akhir, Nurul menyampaikan bahwa ada 6(enam) poin yang harus diingat tentang hubungan Indonesia-Amerika Serikat bahwa:
1. Indonesia dan Amerika Serikat merupakan mitra strategis dalam jangka waktu yang sudah lama.
2. Indonesia dan Amerika Serikat adalah produsen untuk produk yang strategis.
3. Hubungan perdagangan Indonesia-Amerika Serikat harus dinegosiasi ulang.
4. Indonesia maupun Amerika Serikat adalah pasar yang luas, domestik yang bertumbuh dan pasar regional.
5. Indonesia dan Amerika Serikat memiliki faktor kompetitif yang baik.
6. Indonesia dan Amerika memiliki iklim investasi yang harus ditingkatkan.
Kemudian paparan selanjutnya disampaikan oleh Eisha Maghfiruha Rachbini, periset INDEF. Disini Eisha memaparkan bahwa walaupun Indonesia sempat memiliki investasi yang besar dari China, bukan berarti Amerika Serikat ditinggalkan oleh Indonesia. Ekspor dari Indonesia ke Amerika Serikat sebaiknya dire-boost untuk meningkatkan pendapatan kedua negara.
Kebijakan investasi oleh Indonesia diuraikan sebagai berikut:
1. Visi Indonesia untuk tahun 2045 adalah menjadi negara dengan ekonomi pendapatan tinggi.
2. Indonesia memiliki produk yang terdiversifikasi.
3. Dengan menjadi supply chain network untuk produk Indonesia, memiliki potensi dengan nilai yang tinggi dan lebih kompleks.
4. Friend-shoring dan relokasi adalah cara untuk mengundang investor ke Indonesia.
5. Potensi Indonesia untuk menerima investasi.
6. Indonesia mampu menarik investasi yang menarik dan sektor energi alternatif seperti manfaat dari friend-shoring.
Pada akhirnya Menteri Investasi, Bahlial Lahadalia hadir dalam sesi penutupan untuk memberikan gambaran tentang potensi investasi di Indonesia.
Bahlial menyampaikan ada beberapa hal yang mengancam perekonomian Indonesia dimulai dari ketegangan perang dagang China-Amerika Serikat, wabah pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, krisis energi dan pangan, ketegangan Tiongkok dan Taiwan dan saat ini bencana gempa bumi di Turki. Bahlial juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV tahun 2022 mencapai 5,01% dan ini prestasi yang sangat baik dibandingkan negara-negara di Asia.
Bahlial juga memaparkan mengapa Indonesia menjadi negara yang menarik bagi para investor, disebutkan sebagai berikut:
1. Indonesia memiliki stabilitas politik, hukum dan kebijakan.
2. Populasi terbesar di ASEAN.
3. Pertumbuhan pesat kelas menengah baru.
4. Sumber daya alam yang melimpah
5. Potensi investasi pada energi yang terbarukan.
6. Potensi cadangan karbon terbesar ke 3 di dunia.
Bahlial menyebutkan adanya kesepakatan bidang investasi pada pertemuan G20 yaitu:
1. Pentingnya investasi berkelanjutan dan inklusif untuk pemulihan ekonomi.
2. Pentingnya kebijakan yang terkoordinasi dan strategis dalam mendorong investasi dan penyederhanaan prosedur administrasi investasi.
3. Pentingnya mendorong nilai tambah salah satunya melalui hilirisasi serta memperkuat keterkaitan antara investor asing dengan UMKM.
4. Pentingnya iklim pembiayaan investasi yang kondusif dalam rangka mendorong investasi berkelanjutan yang adil dan merata, khususnya negara-negara berkembang.
5. Pentingnya penyusunan kompedium Bali sebagai kompilasi praktik-praktik dan inisiatif-inisiatif baik dari negara-negara anggota G-20 dalam menerapkan investasi berkelanjutan.
Reporter : Debbie C.S
















