Example floating
Example floating
BeritaDaerahHeadlineNasionalPertanian

Bumi Panrita Kitta Rentang Bencana Banjir dan Longsor

×

Bumi Panrita Kitta Rentang Bencana Banjir dan Longsor

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Muhlis Salfat, S.TP.,MP.
Peneliti Bencana dan Dosen di Salah satu kampus Swasta naungan LLDIKTI 9 Wilayah Sulawesi dan Gorontalo.

Faktual.Net, Sinjai, Sulsel – Kebencanaan dibagi atas 4 (empat) jenis yaitu bencana vulkanologi, bencana hidrometeorologi basah, hidrometeorologi kering dan kebencanaan non alam.

Berdasarkan pengamatan pengamat kebencanaan yang melakukan penelitian dari tahun 2019 sampai tahun 2020, kabupaten sinjai termasuk wilayah yang rawan kebencanaan alam berdasarkan kategori hidrometeorologi basah (banjir dan longsor).

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Kabupaten Sinjai memiliki potensi kebencanaan hidrometeorologi dengan kategori sedang hingga sangat tinggi. Untuk bencana longsor di Kabupaten Sinjai tersebar dengan kategori rendah, sedang hingga sangat tinggi.

Berikut peta sebaran longsor di Kabupaten Sinjai. Peta sebaran longsor.

Dari gambar tersebut menampilkan sebaran wilayah rawan longsor secara tegas berdasarkan kriteria masing-masing kelas longsor,

hal ini berdasarkan data kemiringan lereng, tekstur tanah dan curah hujan.

Sebaran wilayah longsor dengan kategori bahaya longsor tinggi pada peta disimbolkan dengan warna kuning.

Ketiga kecamatan yang yaitu Kecamatan Sinjai Barat, Kecamatan Sinjai Borong, Sinjai Tengah, Sebagian wilayah Kecamatan Sinjai Selatan meliputi Desa Palangka dan Desa Polewali, Untuk wilayah Kecamatan Tellu limpoe meliputi sebagian Desa Samaturue, desa Saotengnga, Desa Lembang Lohe, Desa Sukamaju.

Untuk wilayah Sinjai Timur tersebar di Desa Panaikang, Desa Sanjai, Desa Bongki Lengkese.

Wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah yang rawan longsor berdasarkan faktor alam dengan pembobotan berdasarkan nilai curah hujan, kemiringan lereng dan tekstur tanah atau sifat tanah,

Ket.Foto: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial terjun langsung meninjau lokasi bencana longsor di Dusun Manubbu, Desa Pattongko, Kecamatan Sinjai Tengah, Jumat (14/05/2021).

Wilayah yang tersebar di wilayah Sinjai Barat, Sinjai Borong, Sinjai Tengah serta palangka dan Polewali di Sinjai Selatan perlu perhatian yang serius terutama dalam hal alih fungsi lahan.

Di wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah dengan tingkat kelerengan yang rata-rata diatas 45% dan perlu dijadikan sebagai kawasan lindung namun justru banyak dimanfaatkan sebagai arena untuk pertanian dan perkebunan sehingga potensi longsor menjadi tinggi.

Untuk wilayah dengan kategori potensi bahaya longsor sedang.

Tersebut tersebar di Kecamatan Sinjai Tengah di Desa Gantarang, Desa Kompang, Desa Saohiring, Desa Pattongko, di Kecamatan Bulupoddo Desa Bulu Tellue, untuk Sinjai Borong ada di Kelurahan Pasir Putih, Desa Kassi Buleng, untuk Kecamatan Sinjai Selatan tersebar di Desa Puncak, Sebagian Desa Songing, Sebagian wilayah Kelurahan Sangiasseri, Sebagian Desa Alenangka, sebagian Desa Talle, dan sebagian Desa Aska.

Untuk wilayah Sinjai Timur meliputi Desa Lengkese dan Biringere, untuk wilayah Sinjai Bulupoddo, tersebar di Desa Lamatti Riaja dan Lamatti Riawang dan sebagian lamatti Rilau.

Untuk longsor dengan kategori rendah, pada peta di perlihatkan dengan warna merah, sebarannya tersebar di Kecamatan Sinjai Timur dan tersebar di Desa Kaloling dan Biringere.

Daerah rawan longsor paling dominan di Kabupaten Sinjai berada di Kecamatan Barat, Sinjai Tengah dan Sinjai Borong.

Pembuatan peta sebaran longsor ini menitik beratkan pada curah hujan, jenis tanah serta elevasi, sehingga ketiga kecamatan tersebut lebih tinggi potensi longsornya karena curah hujan yang tinggi sekitar 3500 – 4000 mm/tahun.

Berdasarkan peta sebaran wilayah di beberapa kecamatan yang menjadi sebaran longsor dengan kategori potensi bahaya longsor tingkat tinggi,

Ket.foto: Ruas jalan utama di Kota Sinjai bahkan tergenang banjir antara lain Jalan Jend. Sudirman, Jalan Tondong, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Jum’at (14/05/2021)

Bahwa curah hujan memiliki pengaruh yang sangat besar, Kecamatan Sinjai Barat dan Sinjai Borong serta Sinjai Tengah merupakan Sentra sebaran longsor dengan potensi bahaya tingkat tinggi.

Baca Juga :  Kerja Bakti Bersihkan Halaman Puskesmas Bontolempangan 1, Ciptakan Lingkungan Asri dan Nyaman

Kesimpulan kecamatan tersebut memiliki curah hujan tahunan rata-rata 3000, 3500 sampai 4000 mm/tahun.

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan yang dilakukan oleh tim peneliti dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang berpengaruh terhadap potensi longsor di wilayah Kabupaten Sinjai adalah kemiringan lereng, tekstur tanah, elevasi, tutupan lahan dan curah hujan yang tinggi.

Berikut beberapa wilayah yang merupakan sampel dan kriteria yang diambil gambarnya oleh penulis ketika melakukan pengamatan

Wilayah tahura di Desa Batubelerang (051858,3/ 1200117,3) dengan deskripsi wilayah sebagai berikut:

Gambar wilayah tahura di Desa Batubelerang (051858,3/ 1200117,3) dengan deskripsi wilayah

Topografi kawasan tersebut memiliki kemiringan 80o dengan ketinggian ±200m fegetasi kawasan tersebut merupakan kawasan lindung tetapi di alih fungsikan menjadi bumi perkemahan sehingga berpotensi terjadinya longsor.

Tersebut merupakan kawasan lindung berdasarkan pendekatan geospasial yang dilakukan oleh pihak tertentu (perlu diingat bahwa kawasan lindung tidak boleh ditebang pohonnya, jangankan satu hektar satu pohon pu tidak boleh itu bisa dipidanakan).Lokasi hutan Bolalangiri Desa Bontokatute (051618,5/1200157,2)

Topografi kawasan tersebut memiliki kemiringan 90⁰ dengan ketinggian ±700m dengan fegetasisemak belukar pohon enaw dan tanaman kakao kawasan tersebut termasuk hutan lindung bolanggiri sehingga berpotensi terjadinya longsor

Gambar berikut merupakan sampel

Gambar berikut merupakan lokasi di Desa Bontokatute (hutan bolalangiri)

Desa Bonto Kecamatan Sinjai Tengah (Daerah rawan longsor berdasarkan hasil pembacaan data citra kemudian dibuktikan dengan ground truth di lapangan) (051515,9/1200101,3).

Topografi kawasan tersebut memiliki kemiringan 80 derajat dengan ketinggian 60m topografi kawasan tersebut termasuk kawasan hutan lindung dengan jenis tanaman yaitu pohon pus dan semak belukar sehingga berpotensi terjadinya Longsor dan pada 2 tahun lalu perna terjadi longsor.

Gambar berikut merupakan lokasi di Desa Gantaran kecamatan Sinjai Tengah

Desa Gantarang, Desa Kompang, Desa Pattongko, Kecamatan Sinjai tengah (Daerah rawan longsor berdasarkan hasil pembacaan data citra kemudian dibuktikan dengan ground truth di lapangan) (051414,6/1200246,4).

Topografi kawasan tersebut memiliki kemiringan 850 dengan ketinggian 100m topografi masi termasuk kawasan lindung dengan jenis tanaman pinus dan tanaman liar lainya tetapi berpotensi terjadinya longsor.

Berdasarkan sampel yang diamati oleh Factor penyebab longsor adalah alih fungsi lahan.

Seharusnya kepada stakeholder agar dilakukan evaluasi lahan serta perlunya sistem’ pertanian sistem” agroforestry dan mengubah sistem’ pertanian monokultur.

Gambar Perubahan tutupan lahan berdasarkan pembacaan citra satelit landsat antara tahun 2014 sampai tahun 2019.

Sebaran wilayah yang berpotensi banjir adalah sebagai berikut, untuk kategori banjir dengan potensi bahaya rendah, pada peta disimbolkan dengan warna hijau, tersebar di beberapa Kecamatan,Untuk Kecamatan Sinjai Selatan berada di Desa Puncak, Desa Songing, Desa Gareccing, Desa Alenangka dan Sangiasserri.

Untuk wilayah Kecamatan Tellu Limpoe tersebar di Desa Massaile, Mannanti, Tellu Limpoe, Sukamaju.

Untuk wilayah Kecamatan Sinjai Timur meliputi Desa Sanjai, Salohe, Saukang, Kampala. Untuk Sinjai Utara meliputi Biringere dan Bongki.

Untuk Kecamatan Bulupoddo meliputi Desa Alewanuae.

Daerah-daerah ini merupakan daerah dengan topografi datar dan berada pada dataran tinggi.

Sebaran wilayah dengan potensi banjir dengan bahaya sedang disimbolkan dengan warna kuning.

Untuk wilayah Kecamatan Sinjai Selatan berada di Desa Puncak, Songing, Gareccing, dan Talle.

Untuk wilayah Kecamatan Tellu limpoe meliputi Desa Tellu Limpoe, Desa Pattongko dan Sukamaju.

Untuk Wilayah Sinjai Timur meliputi Desa Pasimarannu, Panaikang, Tongke-tongke, Samataring, Kaloling.

Untuk Wilayah Kecamatan Sinjai Utara meliputi Balangnipa, Lappa dan Bongki.

Untuk wilayah Kecamatan Bulupoddo meliputi Lamatti Rilau dan Lamatti Riaja.

Sebaran wilayah dengan potensi tinggi disimbolkan dengan warna merah, tersebar di beberapa Kecamatan, meliputi:

untuk Sinjai Selatan daerah yang berpotensi banjir dengan bahaya tinggi meliputi Desa Puncak dan Talle.

Untuk wilayah Sinjai Timur yang berpotensi banjir dengan resiko tinggi yaitu pasimarannu, Panaikang, Samataring dan Kaloling. Untuk Sinjai Utara meliputi Lappa dan Balangnipa.

Berdasarkan peta pengamatan dapat disimpulkan bahwa wilayah yang merupakan sentra banjir dengan potensi tinggi adalah Kecamatan Sinjai utara dan Sinjai Timur.

Hal ini Karena kondisi wilayah yang rendah serta kurangnya wilayah serapan air akibat DAS-DAS yang ada di daerah hulu rusak seperti DAS tangka dan DAS Garaccing serta Kalamisu.

Penulis: Muhlis Salfat
Editor   : Dzul

 

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit