Faktual.net, Gowa, Sulsel-Biaya kesehatan bagi jemaah haji yang kini menyentuh angka Rp 1 juta kembali memicu gelombang kritik calon Jemaah Haji, DPP Gempa Indonesia secara tegas menyebut kebijakan tersebut tidak rasional dan membebani calon jemaah, terlebih di tengah tingginya biaya penyelenggaraan ibadah haji secara keseluruhan.
Wakil Ketua Umum DPP Gempa Indonesia, Ari Paletteri, menilai kebijakan biaya kesehatan ini menjadi tanda bahwa pemerintah perlu lebih serius mengevaluasi seluruh komponen pembiayaan haji. Menurutnya, meskipun regulasi mengenai pemeriksaan kesehatan jemaah memang ada, namun penetapan tarif sebesar Rp 1 juta dianggap tidak sesuai dengan semangat pelayanan publik.
“Ini kemahalan, Kita tidak menolak regulasinya, tapi besaran biayanya harus dikaji ulang, Sebenarnya, pemeriksaan kesehatan untuk calon jemaah haji yang disebut syarat istitha’ah kesehatan telah diatur secara resmi, Pemeriksaan ini diwajibkan sesuai ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istitha’ah Kesehatan Jemaah Haji.
Jangan sampai biaya kesehatan justru menjadi beban tambahan yang menggerus kemampuan jemaah haji yang sudah menabung bertahun-tahun,” tegas Ari dalam pernyataannya.
DPP Gempa Indonesia menyoroti bahwa pemeriksaan kesehatan seharusnya bersifat mendukung kelancaran ibadah, bukan menjadi komoditas yang melemahkan akses masyarakat. Mereka juga menuntut transparansi terkait komponen biaya, standar layanan yang diberikan, serta alasan harga ditetapkan setinggi itu.
“Harus dijelaskan secara terbuka, apakah biaya tersebut proporsional dengan pelayanan yang diterima? Jika tidak, maka negara wajib hadir memperbaiki,”
“Saat meminta tanggapan kepada Kepala Departemen Agama Kab.Gowa membenarkan bahwa biaya Kesehatan Jamaah haji sudah ada regulasinya” tambahnya
Dengan semakin banyaknya keluhan dari masyarakat, DPP Gempa Indonesia mendesak kementerian Kesehatan,Dinas Kesehatan Kab.Gowa dan Depag Gowa terkait untuk membuka ruang dialog serta menyusun ulang formulasi biaya kesehatan yang lebih manusiawi dan berpihak pada calon jemaah.
Sorotan terhadap mahalnya biaya kesehatan ini diperkirakan akan terus menguat, terlebih menjelang musim haji di mana ribuan calon jemaah mulai melengkapi persyaratan administrasi.
Reporter Sattu.
Redaksi.














