Faktual.net – Jakarta Barat, DKI Jakarta – Sabtu (7/3/2026) – Benst Mundung adalah pengrajin sekaligus pengusaha yang mengkhususkan diri dalam pembuatan rumah adat Manado berjenis rumah panggung.
Selain di daerah asalnya Sulawesi Utara, karya-karyanya juga dapat ditemukan di di beberapa daerah di Indonesia misalnya Toraja, Makassar dan lain-lain.
Dengan desain yang tidak hanya tradisional, melainkan juga dapat disesuaikan dengan gaya kontemporer sesuai permintaan pelanggan. Konsep dasar pembuatan rumah ini berasal dari warisan budaya arsitektur Sulawesi Utara, yang telah dikenal secara luas sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah tersebut.
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan rumah panggung adalah kayu Cempaka dan kayu Waisan, yang merupakan khas daerah Manado. Kedua jenis kayu ini memiliki keunggulan khusus dibandingkan kayu lain, terutama dalam menghadapi kondisi iklim panas. Meskipun terpapar suhu tinggi secara terus-menerus, kayu Cempaka dan Waisan tidak mudah rusak atau mengalami kerusakan yang cepat. Kayu-kayu ini banyak ditanam oleh petani di berbagai daerah di Sulawesi Utara, dengan masa tanam hingga siap digunakan mencapai 15 tahun.
Pada usia tersebut, diameter kayu dapat mencapai hingga 80 cm, dan dari satu batang kayu berdiameter 8 cm saja dapat diolah menjadi beberapa balok sesuai kebutuhan konstruksi.
Standar ukuran balok yang digunakan untuk konstruksi utama rumah panggung adalah panjang 3 meter dengan ukuran 10×10 cm untuk balok penyangga utama, sedangkan untuk balok penyangga lainnya dapat mencapai ukuran 5,5×6 cm atau 10×20 cm dengan panjang disesuaikan. Misalnya, untuk rumah dengan panjang 9 meter yang terdiri dari dua kamar, diperlukan sekitar 20 buah balok penyangga utama. Sebuah unit rumah panggung dengan luas 36 meter persegi biasanya dapat menampung ruang tamu, ruang keluarga, dua kamar tidur, serta teras. Untuk lantai, digunakan kayu merah yang memiliki kualitas baik dan mampu menunjang ketahanan rumah terhadap gempa, mengikuti prinsip arsitektur tradisional Sulawesi Utara yang telah terbukti kokoh.
Benst Mundung juga mengelola sebuah asosiasi pengrajin rumah adat dari Sulawesi Utara dengan nama Prestasi dengan anggota yang terdiri dari petani yang bekerja sebagai pengrajin di sela-sela waktu bertani. Selain Manado, daerah penghasil pengrajin dan bahan kayu ini juga meliputi Kecamatan Wenang, Tomohon, dan beberapa wilayah di Minahasa Selatan. Banyak di antara mereka yang bukan hanya sebagai petani produktif, melainkan juga memiliki keahlian dalam pembuatan rumah adat, menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari warisan budaya yang diwariskan antar generasi.
Pengalaman Benst Mundung dalam bidang ini telah mencapai 40 tahun. Awalnya, pembuatan rumah adat hanya dilakukan untuk keperluan pribadi dan lingkungan sekitar, dengan konsep yang tidak dapat diwariskan secara luas. Namun seiring waktu, karya-karyanya mulai dikenal dan berkembang menjadi usaha yang lebih terstruktur. Saat ini, desain dan konstruksi rumah panggung yang dibuatnya telah dipatenkan secara legal, dengan surat izin dan dokumen pendukung yang dikeluarkan melalui kerja sama dengan pihak terkait. Distribusi produk juga dapat dilakukan baik melalui darat maupun laut, menjangkau berbagai daerah di Indonesia.
Tipe-tipe rumah panggung yang sering dipesan bervariasi sesuai kebutuhan pelanggan. Mulai dari tipe dengan lebar 7 meter dan ruangan tamu berukuran 3 meter, hingga rumah dengan panjang 10 meter yang mencakup ruang tengah, satu atau dua kamar tidur, dan teras.
Bagi yang membutuhkan fasilitas tambahan seperti dapur dan toilet, konstruksi dapat disesuaikan dengan menggunakan kombinasi kayu dan batu bata untuk bagian dapur agar aman dari bahaya kebakaran. Ukuran rumah dengan semua fasilitas tersebut dapat mencapai hingga 7×10 meter persegi, dan produk siap kirim ke berbagai daerah jika ada permintaan.
Pengetahuan dan keterampilan pembuatan rumah panggung yang dimiliki Bapak Mundung bersumber dari turun temurun dan pengalaman langsung, bukan dari pendidikan formal tertentu. Meskipun demikian, ia menyadari pentingnya melindungi karya ini melalui hukum kekayaan intelektual.
Sebelum fokus pada pembuatan rumah adat dan bertani, Benst Mundung pernah bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Koperasi sejak tahun 1989 selama 7 tahun. Saat ini, ia masih tetap menjalankan aktivitas bertani selain usaha pembuatan rumah, dengan komoditas tanaman antara lain padi, jagung dan Nilam di lahan seluas beberapa hektar. Dalam sebulan, rata-rata ia menerima pesanan hingga 10 unit rumah panggung, dengan modal yang dikeluarkan untuk satu unit rumah bergantung pada ukuran dan spesifikasi. Misalnya, untuk rumah satu kamar dengan berbagai perlengkapan, modal yang dikeluarkan dapat mencapai sekitar 70 juta hingga 100 juta rupiah, dengan harga jual yang disesuaikan agar memberikan keuntungan yang wajar dan dapat dijangkau oleh pasar lokal maupun luar daerah.
Permintaan akan rumah panggung semakin meningkat seiring dengan minat masyarakat terhadap desain yang menggabungkan unsur tradisional dan modern. Banyak orang yang mencari rumah dengan karakter unik dan memiliki nilai budaya, sekaligus nyaman untuk dihuni. Menurut Bapak Mundung, rumah yang dibuatnya dapat bertahan hingga 50 tahun atau lebih, berkat kualitas bahan kayu yang baik dan konstruksi yang sesuai dengan prinsip arsitektur tradisional. Ia juga menyatakan kesediaannya untuk berbagi foto karya dan kegiatan pembuatan rumah agar dapat lebih dikenal masyarakat luas.
Benst Mundung tinggal di Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Bagi yang berminat untuk menghubungi melalui Redaksi Faktual.net (Johan Sopaheluwakan).
Ia juga terbuka untuk kerja sama pemasaran dan memberikan komisi bagi pihak yang berhasil membawa pesanan. Dengan semangat yang kuat untuk melestarikan seni budaya arsitektur Sulawesi Utara, Bens Mundung mengingatkan bahwa “siapa yang tidak kerja tidak makan”, sehingga usaha yang dilakukannya tidak hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk menjaga kelangsungan warisan budaya yang telah ada sejak lama. Keluarganya juga memiliki latar belakang yang beragam, dengan salah satu anaknya yang pernah bertugas di Kopassus dan telah meninggal dunia pada usia 40 tahun saat bertugas di Afrika Tengah. Dan putrinya yang melayani umat Tuhan sebagai pendeta.
Reporter: Johan Sopaheluwakan (082210111653)













