
Faktual.Net, Kendari — Tampaknya sejumlah politisi di Kota Kendari mengidap gangguan kepribadian narsistik. Hal ini disampaikan Koordinator Ruang Sipil La Ode Muhammad Safaat setelah menyaksikan kelakuan sejumlah legislator yang ramai berkomentar soal keberadaan dan penyebaran minuman beralkohol (minol).
Bagaimana tidak, isu sederhana yang seharusnya bisa tuntas dengan ketegasan, justru dijadikan media validasi untuk meningkatkan popularitas. Selain itu, pendekatan argumentasi yang digunakan soal minol sangatlah tidak substantif. Menurut Safaat, kemunculan mereka disejumlah media informasi hanya untuk memanipulasi publik.
“Saya sarankan, segera mandi wajib, tobat, kembali ke jalan yang lurus. Kan lucu, melihat legislator terus komentar soal outlet minol, sementara mereka tau, terdapat 20 outlet tidak mengantongi izin. Jadi ngapain panjang lebar, tutup dan sita, selesai. Kalau seandainya memang tidak mau berbuat lebih, gak usah banyak drama” ungkap Safaat, Sabtu, 12 April 2025.
Fenomena maraknya pengusaha minol yang tidak mengantongi izin tapi bisa menjalankan usaha, menurut Safaat, hal itu bisa disebabkan karena para pengusaha mungkin dibekingi oleh sejumlah politisi ataupun pejabat kota. Selain itu, para penjual ilegal kemungkinan telah dijadikan ATM berjalan.
Sebagai alumni mahasiswa politik, Safaat juga menyoroti kemunculan Ketua Komisi I DPRD Kota Kendari Zulham Damu di tengah-tengah hangatnya pembahasan minol. Menurutnya, anggota dewan dari PDIP tersebut seharusnya mematuhi etika organisasi, mengingat minol adalah domain Komisi II.
“Kemunculan Zulham Damu wajib ditafsirkan, karena dia adalah politisi. Mungkin karena Walikota saat ini adalah lawan politik, jadi dia mengelaborasi masalah ini dengan grasak-grusuk. Sederhananya, mungkin Zulham memanfaatkan isu ini untuk mendapat perhatian Siska dan Sudirman,” tutur Safaat. (Red).













