Faktual.Net, Batang, Jateng – Ambisi menjadikan Pantai Jodo sebagai destinasi prioritas pariwisata 2027 kini terkesan kontradiktif. Di lapangan, akses utama menuju lokasi justru dibiarkan memprihatinkan—jembatan sempit yang sudah bertahun-tahun diusulkan perbaikannya tak kunjung dibangun.
Ironisnya, usulan tersebut bukan hal baru. Setiap tahun, warga Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, terus menyuarakan kebutuhan perbaikan melalui Musrenbang. Namun hingga kini, aspirasi itu seolah hanya berputar di meja perencanaan tanpa realisasi nyata.
Ketua Komisi III DPRD Batang, Nur Cahyaningsih, bahkan secara tegas menyebut kondisi ini tak bisa lagi ditoleransi.
“Mosok mau jadi pariwisata nasional tapi jalannya masih sempit,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Pernyataan tersebut seakan menampar kondisi riil di lapangan. Jembatan dengan lebar hanya sekitar 4 meter itu memaksa kendaraan besar bergantian saat melintas. Saat akhir pekan dan musim liburan, situasinya kerap memicu antrean dan rawan kecelakaan.
Camat Gringsing, Ridho Budi Kurniawan, mengakui bahwa persoalan ini sudah berlarut-larut lintas periode pemerintahan.
“Sudah lama, selalu muncul di Musrenbang, tapi belum terealisasi,” katanya.
Fakta ini memperkuat kesan bahwa perencanaan pembangunan belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan riil masyarakat. Padahal, jembatan tersebut bukan hanya akses wisata, melainkan urat nadi aktivitas warga sehari-hari.
Di sisi lain, Kepala Bapperida Batang, Bagus Pambudi, menyebut proyek tersebut belum menjadi prioritas karena pemerintah masih fokus pada infrastruktur yang dianggap lebih mendesak.
Alasan klasik kembali mengemuka: keterbatasan anggaran dan banyaknya proyek lain. Tahun ini, pemerintah memilih memprioritaskan pembangunan Jembatan Kali Belo yang rusak parah.
Namun bagi warga, penundaan demi penundaan justru mempertegas kesan lambannya respons pemerintah terhadap kebutuhan dasar.
Janji pengembangan wisata tanpa dukungan infrastruktur dinilai hanya menjadi slogan. Padahal, Pantai Jodo sudah lama menjadi magnet wisata di wilayah timur Batang, dengan kunjungan yang terus meningkat setiap musim liburan.
“Kalau aksesnya saja tidak dibenahi, ini bukan pengembangan, tapi pembiaran,” keluh warga.
Kini publik menunggu, apakah Pemerintah Daerah serius menjadikan Pantai Jodo sebagai destinasi unggulan, atau sekadar menjadikannya proyek wacana tanpa eksekusi.















