Faktual.net, Luwu – Tragedi pembunuhan disertai perampokan yang menewaskan Ririn (31), karyawan Agen BRI-Link di Desa Lolong, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Rabu (18/02/2026), kini memicu gelombang kecaman keras.
Korban ditemukan tewas bersimbah darah di dalam tempat kerjanya dengan luka robek parah di bagian kepala dan bawah telinga akibat hantaman benda tumpul. Pelaku kabur membawa brankas berisi uang tunai dan melarikan diri menggunakan sepeda motor.
Jenazah korban telah dibawa ke RSUD Sawerigading Palopo untuk proses autopsi. Aparat kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap pelaku.
Namun, kemarahan publik kini tidak hanya tertuju pada pelaku, melainkan juga pada lemahnya sistem pengamanan agen layanan keuangan di lapangan.
Asywar SH: “Ini Bukan Sekadar Kriminal, Ini Alarm Keras bagi Sistem!”
Ketua Investigasi LSM Inakor Sulawesi Selatan, Asywar SH, angkat bicara dengan nada tegas.
“Kami mengecam keras peristiwa ini. Jangan sampai ada pembiaran sistemik. Agen yang menyimpan uang dalam jumlah besar tidak boleh dibiarkan tanpa standar keamanan yang jelas. Ini menyangkut nyawa manusia,” tegas Asywar.
Ia menilai tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi total terhadap sistem operasional Agen BRI-Link di wilayah Sulawesi Selatan.
“Ekspansi layanan keuangan memang penting, tapi perlindungan terhadap mitra dan pekerja jauh lebih penting. Jangan sampai target bisnis mengorbankan keselamatan. Jika ada kelalaian dalam standar pengamanan, itu harus diusut dan diperbaiki secara menyeluruh,” lanjutnya.
Desakan Terbuka ke Bank Rakyat Indonesia
LSM Inakor Sulsel secara terbuka mendesak pihak Bank Rakyat Indonesia untuk:
Melakukan audit keamanan menyeluruh terhadap seluruh Agen BRI-Link.
Mewajibkan pemasangan CCTV aktif dan sistem alarm darurat.
Membatasi jumlah maksimal uang tunai di setiap agen.
Memberikan jaminan perlindungan dan asuransi bagi mitra/karyawan.
Menurut Asywar, jika tidak ada langkah tegas dan konkret, potensi kejadian serupa sangat mungkin terulang.
“Kami akan mengawal kasus ini. Jangan sampai setelah pelaku tertangkap, sistemnya tetap sama dan korban berikutnya kembali jatuh,” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa keamanan agen layanan keuangan di daerah tidak boleh lagi dipandang sebelah mata.
Publik kini menanti dua hal: pelaku segera ditangkap dan sistem keamanan segera dibenahi.
Karena satu nyawa telah melayang.
Dan tragedi ini tidak boleh dianggap biasa.
Reporter : Saenal Abidin










