Faktual.Net, Makassar, Sulsel– Dalam rangka menjelang (Road to) Musyawarah Komisariat (Musykom) VIII, Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Hasanuddin (Unhas) mengadakan Dialog Kebangsaan dengan mengangkat tema “Hakikat dalam Memimpin,”.
Kegiatan tersebut dengan menghadirkan narasumber Ir. Habibie Razak, S.T., M.M., IPU, APEC Eng. ASEAN Eng. ACPE (Indonesia Country Director for SMEC Pty Ltd.) dan di ikuti puluhan Mahasiswa (i) yang turut berpartisipasi dalam memeriahkan acara ini dengan penuh semangat dan aktif dalam sesi tanya jawab.
Habibie Razak Ia menjelaskan secara mendasar, leadership (Kepemimpinan) berarti mempengaruhi orang. Sebagian besar perspektif leadership memandang pemimpin sebagai sumber pengaruh. Pemimpin negara, dalam sejarah kebudayaan Islam biasa digunakan khalifah, amir, dan sultan. Istilah lain yaitu idarah atau manajemen. Pemimpin dan kepemimpinan disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an.
“Adapun menurut Islam, pemegang fungsi kepemimpinan biasa disebut imam dan kepemimpinan itu sendiri disebut imamah,” tutur Habibi melalui zoom meeting, Rabu 29/12/2021.
Selain itu, tak luput juga Habibi memparkan terkait penggolongan mahasiswa dalam dunia kampus yang merupakan sebagai harapan masa depan pelanjut kepemimpinan. Dalam lingkup perkuliahan, mahasiswa memiliki mazhab yang berbeda-beda. Setidaknya ada empat jenis mazhab, yaitu Mazhab Bureng-Bureng, Mazhab Religius, Mazhab Hedonis dan Mazhab Humanis.
“Bureng-Bureng adalah mahasiswa yang hanya datang ke kampus untuk ikut perkuliahan setelah itu pulang tanpa mengikuti berbagai kegiatan apapun. Mazhab Religius adalah mahasiswa yang senantiasa mengikuti organisasi maupun kegiatan yang berbau agama. Mazhab Hedonis merupakan mahasiswa yang suka bikin keributan di kampus. Seperti nama mazhabnya, mahasiswa yang berpegang pada mazhab ini cenderung berfoya-foya, sementara Mazhab Humanis, yaitu mahasiswa yang aktifis atau organisatoris. Selain mengikuti perkuliahan, mereka mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan serta memperkaya diri dengan bacaan yang berkaitan dengan kepemimpinan,” urainya.
Tak hanya itu, dalam closing statement, ia menegaskan bahwa mahasiswa jangan takut melakukan kesalahan, khususnya di organisasi non-profit. Karena organisasi adalah tempat mahasiswa untuk bereksperimen maupun melakukan exercise.
“Kalau ingin menjadi pemimpin, ia harus bisa merangkul semua mahasiswa yang memiliki mazhab berbeda tanpa terkecuali,” tandas Sekretaris PP PII Itu.
Terakhir ia menegaskan bahwa mahasiswa jangan takut berorganisasi, sebab dengan berorganisasi yakin dan percaya teman-teman akan menemukan jati dirinya.
“Kedepan akan ia tahu mau menjadi orang seperti apa di masa depan. Maka sangat berbeda dengan mahasiswa yang sama sekali tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di kampus,”pungkas Sekretaris IKA Unhas Jabodetabek.
Reporter: Nur Alawiyah Khaerunnisa
Editor: Kariadi










