
Faktual.Net, Kendari, Sultra – Jual sayur dipasar sebagian orang menganggap gengsi, tapi bagi emak-emak alias perempuan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara justru sebaliknya. Simak laporannya yang terkuat melalui hasil Monitoring dan Evaluasi (Monev) Tim Ahli Provinsi Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling up Initiative (READSI) Provinsi Sulawesi Tenggara, Aisa Rauf dan tim, saat berdialog langsung dengan para penerima manfaat program di tiga desa, dalam kunjungan Monev selama dua hari, (8-9/12/2022).
Monev Hari pertama, Rabu (8/12/2021) kunjungan di Desa Waworaha Kecamatan Lambuya Kabupaten Konawe, dirumah ibu Dahlia anggota KWT Masumpulolo, sebanyak 13 orang anggota KWT telah berhasil menjual hasil panen tanaman sayur dengan harga bervariasi antara 1,2 juta sampai dengan 3 juta per bulan.
Jumriat anggota KWT Masumpolo bercerita, jika sekali panen kangkung, kacang panjang biasa mendapatkan penghasilan bersih 35 ribu, biasa 3-4 kali menjual sayur setiap minggu. Sebulan ia berhasil mengumpulkan uang rata-rata 1,6 juta.
“Biasa jual 20 ikat sayur per sekali panen harga 5 ribu tiga ikat sayur, panen 3 sampai 4 kali seminggu dibawa jual ke pasar Lambuya,” ungkap Jumria.
Andi Manti, rekan sekompok KWT Masumpololo juga meceritakan jika dirinya bahkan bisa menjual sampai 3 juta perbulan jika harga lagi bagus.
Dari 25 anggota KWT Masumpololo, sebanyak 13 anggota mengaku telah berhasil menjual hasil panen sejak tiga bulan terakhir dari bibit bantuan Program READSI.
Kepala Desa Waworaha, Karman, berterimakasih atas perhatian Program READSI kepada warganya. Ia pun bertekad akan mendukung keberlanjutan kegiatan kelompok melalui alokasi pemberdayaan dana desa, sehingga ia meminta agar Poktan dan KWT segera usulkan kegiatan yang bisa dibantu melalui dana desa pada tahun 2022.
Cerita lain di Desa Waworaha, diungkapkan salah satu anggota KWT Siamaseang, Purnami, ibu beranak dua ini menuturkan dari hasil menggarap kurang lebih satu hektar lahan yang awalnya hanya ditanamami rumput, kini ia telah rutin menjual sayur dengan penghasilan 400 ribu per sekali panen, ia menjual sayur tiap 4 kali seminggu, atau 1,6 juta per minggu pendapatan yang ia peroleh.
“Saya jual sayur harga 2 ribu rupiah per ikat, biasa menjual 200 ikat, total harga 400 ribu sekali panen dan jual sendiri di pasar, satu minggu dapat sekitar 1,6 juta,” ungkap Purnami.
Purnami mengaku menggarap sendiri lahannya tanpa bantuan suami, sebab suaminya tidak memiliki pekerjaan jelas di kota dan tidak menentu kapan pulang.
Masuknya program READSI menurut pengakuan angota kelompok di dua Desa Waworaha dan Watarema tersebut dirasakan sangat bermanfaat bagi perekonimian keluarga petani.
Sementara hasil Monev TA READSI Sultra di hari kedua Kamis (9/12/2021) di Desa Tetembomua Kecamatan Lambuya, Kelompok Tani Kakao dan Lada berbagi cerita manfaat lain dari program READSI bukan saja dari segi hasil panen komoditi yang mereka tanam, namun ada aktivitas lain yang dilakukan anggota guna antisipasi gagal panen akibat masuk musim kemarau, yaitu budidaya lebah madu trigona.
Hal tersebut diungkapkan oleh Jumaing Ketua Poktan Kakao Desa Tetembomu, bahwa masuknya Program REDASI banyak ilmu yang diperoleh utamanya dari cara perawatan dan pemupukan tanaman kakao, namun memasuki musim kemarau terancam gagal panen sebanyak buah gosong saat buag mulai keluar sebesar jari telunjuk.
“Ini buah sudah mulai keluar tetapi banyak yang gosong sebab pas masuk kemarau, sehingga harus cari alternatif kegiatan lain,” ungkap Jumaing.
Adapun aktivitas lain yang sedang diiniaiasi oleh Poktan dampingan READSI menurut
Ahmad Fajar Sekertaris Desa Tetembomua adalah budidaya lebah madu trigona, dimana ia sendiri yang mulai mencontohkan kepada petani.
“Jadi saya memberi contoh budidaya lebah madu trigona sebagai alternatif lain penghasilan petani saat gagal panen kakao dan lada,” ungkap Ahmad Fajar.
Anggota kelompok dampingan READSI juga merupakan kombinasi dari Kelompok Petani Hutan di Desa Tetembomua, sehingga jenis kayu dan pohon yang cocok untuk budidaya lebah madu trigona sudah diketahui oleh mereka.
Harapan Ahmad Fajar kedepan Desa Tetembomua menjadi desa wisata untuk percontohan dan penelitian budidaya lebah madu trigona.
Aisa Rauf TA READSI Sultra sangat apresiasi dengan progres kegiatan anggota Poktan dan KWT di Konawe, ia berharap selain manfaat ekonomi yang didapat saat ini, petani juga tetap memikirkan keberlanjutan aktivitas mereka paska Program READSI berakhir, sehingga petani penting untuk memiliki aktivitas usaha dan menghidupkan kegiatan simpan pinjam kelompok (KSP), sebagai wadah potan untuk bertemu secara rutin, dan mengumpulkan modal baik guna mengakses bantuan alsintan 30 persen dari Program READSI, maupun untuk aktivitas usaha poktan saat anggota memerlukan bantuan pembelian bibit bisa mengambil di dana KSP.(RED)















