Faktual.Net, Batang, Jateng – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang meminta seluruh pihak sekolah untuk tidak menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Imbauan ini disampaikan guna mengantisipasi kekhawatiran masyarakat yang dinilai masih memendam trauma pascadugaan kasus keracunan makanan.
Kepala Disdikbud Batang Bambang Suryantoro Sudibyo, menegaskan bahwa sekolah memegang peranan penting dalam mendukung keberlangsungan program pemerintah ini. Penolakan ini mungkin sebagian masyarakat masih trauma.
Meski memahami kecemasan para orang tua, Bambang meminta agar penolakan tidak datang dari pihak institusi pendidikan. Jika ada wali murid yang berkeberatan, mekanisme penolakan telah disiapkan melalui koordinator wilayah.
“Silakan, yang penting saya sarankan kepada sekolah, sekolah jangan menolak. Kalau orang tua menolak silakan, karena dari Korwil Satdik juga memberikan semacam formulir bagi orang tua yang tidak mau menerima MBG. Tetapi alhamdulillah untuk Batang khususnya, kok belum ada selentingan yang mau mundur. Kalau dari pihak sekolah saya pastikan tidak ada yang menolak,” katanya saat ditemui di Kantornya, Rabu (30/9/2026).
Bambang menjelaskan, penolakan dari pihak orang tua murid wajib disertai dengan dokumen resmi agar pendistribusian porsi dapat disesuaikan. Guna menjaga keamanan dan keselamatan para siswa penerima manfaat, Kepala Disdikbud menyampaikan beberapa arahan penting. Selain mengingatkan manfaat positif program, ia juga meminta siswa dan guru lebih waspada terhadap kondisi makanan yang diterima.
“Satu, ini programnya kan baik. Yang kedua, sekolah jangan menolak. Yang ketiga, kalau memang dirasa pada saat menerima makanan itu mencurigakan atau kurang layak, ya jangan dimakan, gitu aja. Yang keempat, tapi jangan dibawa pulang, kembalikan saja,” tegasnya.
Terkait kepastian kualitas dan ketahanan sajian, Bambang menyarankan agar penyedia makanan mencantumkan batas waktu konsumsi (kadaluarsa) pada setiap kemasan. Langkah ini dianggap penting agar penerima bantuan mengetahui batas aman mengonsumsi makanan tersebut.
“Kalau saran saya, sebaiknya iya. Jadi siswa, guru, atau siapa pun yang mendapatkan MBG tahu bahwa, ‘Oh, ini batas akhir harus dimakan, minimal menyantumkan Jam berapa gitu harus ada,” ujar dia.
Di sisi lain, menanggapi sorotan publik terkait unggahan video salah satu guru di Kecamatan Bawang yang sempat viral di media sosial mengenai porsi MBG, Bambang mengonfirmasi bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah insiden dugaan keracunan.
Menyikapi riuh komentar di media sosial, pihak dinas meminta para tenaga pendidik untuk lebih tenang dan tidak merespons masalah secara berlebihan.
“Yang penting gini, kita imbau kepada para guru untuk menyikapi dengan bijaklah masalah seperti itu,” pungkasnya.













