
Faktual.Net – MAROS, SULSEL — Limbah pertanian yang selama ini kerap dibakar atau dibiarkan membusuk mulai dimanfaatkan menjadi sumber pakan ternak bernilai ekonomi di Desa Minasa Baji, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Peternak Sapi Pedaging melalui Inovasi Pakan Limbah Pertanian Berbasis Teknologi dan Pengembangan Agribisnis di Desa Minasa Baji Kabupaten Maros.”
Program ini menyasar Kelompok Tani Sadar Minasabaji dan dilaksanakan melalui kolaborasi tim pengabdian Universitas Muslim Maros bersama Universitas Sembilanbelas November Kolaka. Kegiatan tersebut mendapat pendanaan Program Pengabdian Masyarakat Pemula Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM).
Desa Minasa Baji memiliki potensi besar dalam pengembangan peternakan sapi pedaging. Sebagian besar masyarakatnya merupakan peternak skala kecil dengan kepemilikan sekitar tiga hingga delapan ekor sapi.
Di sisi lain, desa tersebut memiliki ketersediaan bahan baku pakan yang cukup melimpah dari aktivitas pertanian. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan. Jerami, tongkol jagung dan berbagai limbah pertanian lainnya masih banyak yang belum diolah menjadi pakan ternak.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam program pemberdayaan ini. Selama ini peternak masih mengandalkan rumput lapangan yang kualitas nutrisinya relatif rendah dan ketersediaannya sangat bergantung pada musim.
Melalui pelatihan dan pendampingan, peternak diperkenalkan dengan teknologi sederhana untuk mengolah limbah pertanian menjadi pakan yang lebih berkualitas dan dapat disimpan dalam waktu tertentu.
Teknologi yang diperkenalkan meliputi pencacahan bahan, fermentasi, amoniasi, pencampuran hingga proses pengawetan. Untuk mendukung proses tersebut, kelompok tani juga diperkenalkan dengan penggunaan mesin pencacah, mesin mixer pakan serta wadah fermentasi.
Salah satu metode yang menjadi fokus pelatihan adalah fermentasi. Jerami dan bahan pakan lainnya terlebih dahulu dicacah, kemudian dicampur dengan bahan pendukung sebelum difermentasi dalam wadah tertutup selama kurang lebih 14 hingga 21 hari.
Ketua Pengusul program, Muh. Amin, mengatakan pemanfaatan limbah pertanian dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan hijauan sekaligus meningkatkan nilai guna limbah yang tersedia di sekitar desa.
“Limbah pertanian tidak lagi dipandang sebagai sisa produksi yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi pakan untuk mendukung usaha peternakan,” ujar Muh. Amin di sela kegiatan pelatihan.
Menurutnya, inovasi pakan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan persoalan ketersediaan pakan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun usaha peternakan rakyat yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Selain keterampilan teknis pengolahan pakan, program tersebut turut memberikan penguatan pada aspek manajemen usaha dan agribisnis. Dengan demikian, peternak diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan pakan secara mandiri, tetapi juga dapat menghitung biaya produksi, mengelola usaha dan meningkatkan nilai ekonomi peternakan.
Program pemberdayaan ini juga menargetkan sejumlah luaran, antara lain karya audio visual, peningkatan level keberdayaan mitra khususnya pada aspek produksi, serta artikel ilmiah sebagai bagian dari pertanggungjawaban akademik kegiatan.
Pemanfaatan limbah pertanian menjadi pakan fermentasi diharapkan dapat menjadi model sederhana yang bisa diterapkan oleh peternak lainnya di wilayah pedesaan.
Bagi peternak skala kecil, penerapan teknologi tidak selalu harus menggunakan peralatan mahal dan kompleks. Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar lingkungan, disertai pengetahuan pengolahan yang tepat, dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan efisiensi usaha.
Desa Minasa Baji pun memiliki peluang untuk mengembangkan pola peternakan yang memanfaatkan sumber daya lokal. Limbah pertanian yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi dapat masuk ke dalam mata rantai ekonomi baru sebagai bahan baku pakan ternak.
Dengan dukungan pengetahuan, teknologi sederhana dan pengelolaan agribisnis, inovasi tersebut diharapkan mampu memperkuat usaha peternakan masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan limbah pertanian secara lebih produktif dan ramah lingkungan.











