Faktual.Net, Batang, Jateng – Diduga perbedaan warna seragam batik sejumlah siswa tahun ajaran baru di SMP Negeri 1 Batang menjadi perhatian publik. Di tengah penerapan seragam sekolah yang semestinya mencerminkan keseragaman identitas, terlihat adanya perbedaan warna batik antara sebagian siswa.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat. Pasalnya, apabila seragam batik telah ditetapkan sebagai identitas sekolah, semestinya terdapat standar yang jelas mengenai warna, motif, maupun spesifikasi seragam yang digunakan siswa.
Sorotan tersebut semakin menarik setelah muncul perbedaan keterangan mengenai pihak yang mengerjakan pengadaan seragam batik tersebut.
Saat di konfirmasi Kepala SMP Negeri 1 Batang Darsono, menyampaikan bahwa pengadaan seragam batik yang mengerjakan seorang pengrajin bernama Muksin. Dan terkait adanya beberapa warna berbeda pada seragam batik yang di terima murid ajaran baru, Ia mengaku belum mengetahui atau menerima laporan dari pihak koperasi sekolah.
“Terkait seragam batik tersebut, dikerjakan oleh pengrajin yaitu Muksin. Dan terkait dengan adanya beberapa siswa tahun ajaran baru yang menerima batik dengan warna yang berbeda, atau tidak sesuai dengan teman yang lainnya, saya tidak tahu karena saya belum mendapatkan laporan dari koperasi,” kata Darsono.
Sementara itu, keterangan berbeda disampaikan Muksin, yang disebut sebagai pihak yang mendapatkan tender pengadaan seragam batik SMP Negeri 1 Batang. Muksin membenarkan bahwa dirinya mendapatkan pekerjaan tersebut. Namun, ia mengaku tidak mengerjakan langsung seragam batik tersebut.
“Memang saya yang dapat pengadaan seragam batik di SMP Negeri 1 Batang tersebut, tetapi saya bagikan ke salah satu pengrajin yang bernama Ratna,” terang Muksin kepada awak media.
Perbedaan keterangan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan publik mengenai mekanisme pengadaan seragam batik, pihak yang sebenarnya mengerjakan, standar warna yang ditetapkan, hingga proses pemeriksaan sebelum seragam dibagikan kepada siswa.
Persoalan ini bukan semata-mata mengenai perbedaan warna pakaian. Keseragaman seragam sekolah juga berkaitan dengan kepastian standar barang yang diterima peserta didik serta transparansi proses pengadaan.
Masyarakat berharap pihak sekolah maupun koperasi dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme pengadaan tersebut, termasuk bagaimana proses penentuan pengrajin, pemesanan, pemeriksaan kualitas, hingga pendistribusian seragam kepada siswa.
Terlebih, apabila benar terdapat siswa yang menerima batik dengan warna berbeda, pihak terkait diharapkan segera memastikan apakah perbedaan tersebut disebabkan oleh kesalahan produksi, distribusi, atau memang terdapat ketentuan tertentu yang sebelumnya telah ditetapkan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah dan pengelola koperasi diharapkan dapat memberikan klarifikasi secara menyeluruh agar persoalan tersebut tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Media Faktual.Net juga membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak SMP Negeri 1 Batang, koperasi, Muksin, maupun pihak pengrajin yang disebut dalam pengadaan tersebut.
Tim/Red














