Faktual.net – Jakarta – Rabu, 8 Juli 2026 – Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2026, Regina Art menghadirkan pendekatan baru dalam dunia seni pertunjukan melalui pementasan Fantasy Land, sebuah teater musikal yang dirancang inklusif dan ramah bagi anak-anak penyandang autisme. Pertunjukan yang akan digelar pada 18 Juli 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, ini diharapkan menjadi ruang aman bagi seluruh anak untuk menikmati seni tanpa hambatan.
Berbeda dengan pertunjukan pada umumnya, Fantasy Land mengusung konsep sensory-friendly dengan berbagai penyesuaian agar anak-anak yang memiliki sensitivitas sensorik dapat menikmati pertunjukan dengan lebih nyaman.
Pendiri Regina Art sekaligus penulis naskah Fantasy Land, Joane Win, mengatakan gagasan tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap masih minimnya ruang hiburan yang benar-benar ramah bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya penyandang autisme.
“Anak-anak dengan autisme sering menghadapi tantangan saat menyaksikan pertunjukan konvensional karena pencahayaan yang terlalu terang maupun suara yang terlalu keras. Kami ingin meruntuhkan batasan tersebut. Seni adalah hak setiap anak yang harus dapat diakses secara aman, nyaman, dan tanpa diskriminasi,” ujar Joane Win dalam keterangannya di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Selain menghadirkan hiburan, Fantasy Land juga membawa pesan tentang pentingnya penerimaan terhadap perbedaan. Menurut Joane Win, pertunjukan ini menggambarkan dunia imajinasi tempat setiap anak dapat bermain, bermimpi, dan diterima apa adanya tanpa memandang kondisi maupun latar belakang.
“Melalui cerita ini kami ingin menanamkan nilai persahabatan, empati, dan kepercayaan diri kepada anak-anak. Bagi orang tua, kami ingin mengingatkan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang patut dihargai dan didukung,” katanya.
Untuk menciptakan suasana yang ramah bagi penyandang autisme, Regina Art melakukan sejumlah penyesuaian teknis. Volume musik dan efek suara dibuat lebih nyaman, penggunaan lampu berkedip (strobe) dihilangkan, sementara pencahayaan di area penonton tetap dibuat temaram dan tidak gelap total.
Selain itu, para aktor telah mendapatkan pelatihan agar mampu merespons secara adaptif apabila terjadi interaksi spontan dari anak-anak di dalam auditorium.
Joane Win mengatakan persiapan pementasan berlangsung selama sekitar tiga hingga empat bulan. Proses tersebut meliputi riset mengenai kebutuhan anak berkebutuhan khusus, konsultasi dengan terapis dan ahli perilaku anak, penyesuaian naskah, penataan panggung, hingga latihan intensif para pemain.
Ia menilai kehadiran ruang seni yang inklusif penting untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dalam menikmati karya seni.
“Ruang seni inklusif bukan sekadar konsep, tetapi bentuk nyata bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati seni. Kami berharap masyarakat semakin terbiasa berbagi ruang dan membangun empati terhadap penyandang disabilitas,” ujarnya.
Joane Win berharap Fantasy Land dapat menjadi safe space bagi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, masih banyak orang tua yang merasa khawatir membawa anak mereka ke ruang publik karena takut mendapat stigma atau penilaian negatif.
Melalui pertunjukan ini, Regina Art ingin menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus berhak memperoleh hiburan berkualitas dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan menerima keberadaan mereka.
Meski dirancang ramah autisme, Fantasy Land terbuka untuk seluruh keluarga. Anak-anak pada umumnya tetap dapat menikmati cerita, musik, dan visual yang disajikan. Di sisi lain, pertunjukan ini juga menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar menghargai perbedaan dan berinteraksi dengan teman-teman berkebutuhan khusus sejak dini.
Ke depan, Joane menegaskan konsep inklusif akan menjadi bagian dari identitas Regina Art. Fantasy Land merupakan langkah awal untuk menghadirkan lebih banyak karya seni pertunjukan yang ramah dan dapat diakses oleh berbagai komunitas penyandang disabilitas.
“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat. Inklusivitas bukan tentang belas kasihan, melainkan tentang kesetaraan dalam memenuhi hak setiap anak. Yang dibutuhkan adalah ruang, penerimaan, dan hilangnya stigma terhadap anak-anak berkebutuhan khusus beserta keluarganya,” tuturnya.
Pementasan Fantasy Land digelar bertepatan dengan momentum menyambut Hari Anak Nasional 2026. Melalui karya ini, Regina Art menghadirkan pertunjukan musikal yang mengusung konsep inklusif dan ramah autisme sebagai wujud komitmen menghadirkan ruang seni yang dapat dinikmati oleh seluruh anak.
Fantasy Land akan dipentaskan secara gratis di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, pada 18 Juli 2026 dalam dua sesi pertunjukan, yakni pukul 15.00 WIB dan 19.00 WIB. Masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan wajib melakukan reservasi tiket melalui situs IndonesiaKaya.com. Pendaftaran dijadwalkan dibuka sekitar 12 Juli 2026 dengan kapasitas sekitar 150 kursi, sehingga calon penonton disarankan segera melakukan reservasi saat pendaftaran dibuka. (Red/JS/EWT)















