Example floating
Example floating
KampusPendidikan

Warga Tambeanga Hidup dalam Gelap, Mahasiswa UHO Bersuara

×

Warga Tambeanga Hidup dalam Gelap, Mahasiswa UHO Bersuara

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

faktual.net, Konawe Selatan, Sultra. Universitas Halu Oleo (UHO), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), mendesak Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara agar segera menyelesaikan berbagai persoalan mendasar yang hingga kini masih dialami masyarakat Desa Tambeanga, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan. Minggu (24/5/2026)

Desakan tersebut muncul setelah mahasiswa melihat langsung kondisi masyarakat yang masih hidup dalam berbagai keterbatasan, mulai dari krisis listrik, jembatan penghubung yang terputus, hingga sulitnya akses air bersih.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Saat malam tiba, sebagian besar wilayah Desa Tambeanga kembali tenggelam dalam gelap. Warga hanya mengandalkan tenaga surya sebagai sumber listrik utama. Ketika cuaca mendung atau hujan berkepanjangan, pasokan listrik ikut padam.

Akibatnya, aktivitas masyarakat menjadi terganggu. Anak-anak kesulitan belajar pada malam hari, sementara kehidupan masyarakat seakan berhenti bersamaan dengan hilangnya cahaya.

Mahasiswa menilai kondisi tersebut sangat memprihatinkan, terlebih di tengah narasi pembangunan dan pemerataan yang terus digaungkan pemerintah.

Tidak hanya persoalan listrik, jembatan penghubung antara Dusun 4 dan pusat Desa Tambeanga kini juga dalam kondisi terputus.

Kondisi itu menyebabkan akses masyarakat terganggu dan memaksa siswa-siswi menggunakan perahu setiap hari untuk pergi ke sekolah.

Pemandangan anak-anak berseragam sekolah menyeberangi perairan demi mendapatkan pendidikan menjadi potret pilu yang dinilai tidak seharusnya lagi terjadi.

Keselamatan mereka dipertaruhkan setiap hari akibat belum adanya penanganan serius terhadap infrastruktur penghubung tersebut.

Selain itu, warga Dusun 4 juga menghadapi kesulitan memperoleh air bersih.

Air disebut sering tidak mengalir secara normal, bahkan tidak mampu menjangkau rumah-rumah warga, termasuk kebutuhan dapur sehari-hari.

Dalam kondisi tertentu, masyarakat harus menunggu tanpa kepastian kapan air kembali mengalir.

Mahasiswa magang UHO FPIK menegaskan bahwa masyarakat Desa Tambeanga tidak membutuhkan janji semata, melainkan tindakan nyata dari pemerintah.

Mereka menyampaikan tiga tuntutan utama kepada Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo, serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara:

Segera menghadirkan akses listrik yang layak dan stabil bagi masyarakat Desa Tambeanga.

Segera membangun kembali jembatan penghubung antara Dusun 4 dan pusat desa demi keselamatan masyarakat dan siswa-siswi.

Segera memperbaiki distribusi air bersih agar dapat dinikmati secara layak oleh seluruh warga.

“Jangan sampai masyarakat pesisir terus hidup dalam gelap dan keterbatasan. Anak-anak di desa ini berhak sekolah dengan aman, masyarakat juga berhak hidup dengan fasilitas dasar yang layak,” tegas mahasiswa magang.

Mahasiswa berharap pemerintah tidak lagi menunggu kondisi menjadi lebih buruk sebelum bertindak. Sebab, bagi masyarakat Desa Tambeanga, persoalan ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan perjuangan hidup yang mereka hadapi setiap hari.

Reporter : Sattu

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit