Faktual.net – Garut – Sabtu, 16 Mei 2026 – Ada pesan sakral (sacred voice) yang ingin disampaikan rakyat pemilih kepada calon pemimpinnya pada setiap PEMILU/PILKADA. Di lubuk hati yang terdalam, rakyat menjerit; sebuah jeritan tanpa bunyi yang hanya dapat didengar oleh para calon pemimpin yang benar-benar mengenal dengan baik the people NEWS. Di sini, NEWS bisa berarti voice dan bisa berarti singkatan dari Need, Expectation, Want, & Satisfaction.
Kepada para calon pemimpinnya, rakyat menjerit menitipkan negeri ini agar diurus sedemikian rupa sehingga dari waktu ke waktu, di seluruh negeri (1) terpelihara harmoni, dan (2) terjadi kemajuan yang memuaskan rakyat.
Benar, jeritan ini hanya terdiri atas 2 kata dan 1 preposisi, yakni IN HARMONIA PROGRESSIO (Kemajuan dalam Harmoni); pendek dan sederhana. Namun, sangat berbobot dan sarat makna. Itulah pesan sakral dari rakyat!
Pendek kata, kepada para calon pemimpin yang namanya terpampang di PEMILU/PILKADA, rakyat menjerit: “Kalau nanti jadi pemimpin, utamakanlah selalu harmoni dan segera iringilah harmoni itu dengan progress yang membuat rakyat puas.”
SARAN
Kepada para pemimpin, dari pemimpin terendah (rukun tetangga) s/d pemimpin tertinggi (nasional) saya sarankan agar dalam merealisasikan the people NEWS, mulailah dengan menata kosa-kata dalam keadaan bagaimanapun. Kosa-kata menunjukkan siapa kita; dari strata sosial/intelektual mana kita berasal.
Bagi rakyat, para pemimpin adalah guru bangsa; guru yang setiap saat berdiri di depan kelas terbuka ruang kehidupan bangsa. Bagi rakyat, mereka adalah sosok suri tauladan, sumber inspirasi dan sumber motivasi yang mahir memilih kosa-kata; mereka adalah pelaksana sejati dari apa yang disebut Street Education.
BAHAN RENUNGAN
Ada baiknya apabila kita berguru kepada Margaret Hilda Thatcher, the Iron Lady, Perdana Menteri Inggris perempuan yang legendaris. Dia terkenal sebagai seorang pemimpin dunia, setelah Winston Churchill, yang sangat tertib dalam menata dan memelihara kosa-kata pada setiap ucapannya.
Margaret Thatcher lahir dan dibesarkan di keluarga terhormat yang sangat memegang teguh budaya terhormat. Ayahnya senantiasa mewanti-wantikan dia agar: “Berhati-hati menggunakan pikiran, karena pikiran akan menjadi kata-kata. Berhati-hati memilih kata-kata, karena kata-kata akan menjadi tindakan/perilaku. Berhati-hati dalam bertindak/berperilaku, karena tindakan/perilaku akan menjadi kebiasaan. Berhati-hati dengan kebiasaan, karena kebiasaan akan membentuk karakter. Berhati-hati dengan karakter, karena karakter akan menentukan takdir.”
PENUTUP
Kata-kata bijak itu, konon bersumber dari Nabi Sulaeman, menggambarkan bagaimana fikiran manusia (sadar atau bawah sadar) bisa mengalir liar dan bermuara pada malapetaka bagi diri sendiri dan/atau bagi lingkungan dan/atau mungkin bagi seluruh negeri.
Marilah kita berhati-hati memilih kosa-kata. Hindarilah penggunaan kosa-kata yang dapat menimbulkan kegaduhan nasional yang pasti kontra produktif dalam upaya mencemerlangkan kehidupan bangsa.
Just my 2 cents for the nation.
Salam dari Garut,
Maman A. Djauhari (Pensiun dari ITB tahun 2009).












