Faktual.net,Pinrang — Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Pinrang menegaskan pentingnya kehadiran organisasi petani sebagai alat perjuangan kolektif di tengah berbagai persoalan yang terus membelit masyarakat tani, mulai dari lemahnya perlindungan harga hasil panen hingga tingginya biaya produksi pertanian.
Hal tersebut disampaikan dalam rilis resmi yang dikirimkan kepada awak media pada 15 Mei 2026, menyusul pelaksanaan Musyawarah SPI Kabupaten Pinrang yang digelar pada 11 Mei 2026.
Musyawarah tersebut dihadiri perwakilan petani dari berbagai desa di Kabupaten Pinrang dengan mengusung semangat persatuan dan perjuangan bersama demi mewujudkan kesejahteraan petani yang lebih adil dan mandiri.
Ketua Panitia Musyawarah, Bung Alex, menilai selama ini petani kerap menghadapi persoalan secara sendiri-sendiri tanpa wadah perjuangan yang kuat dan terorganisir. Menurutnya, kondisi tersebut membuat posisi petani lemah dalam menghadapi permainan harga pasar maupun minimnya keberpihakan kebijakan terhadap sektor pertanian.
“Sudah seharusnya petani punya wadah perjuangan, tempat belajar bersama, tempat menyampaikan keluhan, dan tempat memperjuangkan persoalan petani secara kolektif,” ujar Alex.
Ia menegaskan bahwa persoalan harga hasil produksi hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi kesejahteraan petani. Tidak sedikit petani yang harus menerima harga jual hasil panen jauh di bawah harapan akibat lemahnya kontrol dan perlindungan pemerintah terhadap stabilitas harga komoditas.
“Kondisi hari ini, harga hasil produksi petani masih sangat rentan dipermainkan. Perlindungan pemerintah terhadap harga hasil produksi juga dinilai masih minim. Karena itu, petani membutuhkan organisasi yang mampu memperjuangkan harga hasil panen secara kolektif, terorganisir, dan memiliki kekuatan tawar,” tegasnya.
Dalam musyawarah tersebut, Muh. As’ad terpilih sebagai Ketua SPI Pinrang. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa perjuangan petani tidak hanya berbicara soal harga hasil panen, tetapi juga menyangkut upaya menekan biaya produksi yang selama ini menjadi beban besar bagi petani kecil.
Menurut Muh. As’ad, SPI Pinrang akan mendorong program pengembangan pupuk organik, pertanian organik berkelanjutan, hingga pengelolaan lahan organik sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan biaya produksi yang terus meningkat.
“SPI Pinrang akan memprogramkan pembuatan pupuk organik, pengembangan pertanian organik jangka panjang, serta pengelolaan lahan organik agar biaya produksi petani dapat ditekan dan masyarakat memperoleh hasil pertanian yang sehat untuk dikonsumsi,” ungkap Muh. As’ad.
Musyawarah tersebut turut dihadiri perwakilan petani dari Desa Samaenre, Desa Patobong, Desa Siwolong Polong, dan Desa Massulo Walie di Kecamatan Mattiro Sompe, Desa Marannu di Kecamatan Mattirobulu, serta Desa Benteng Paremba di Kecamatan Lembang.
Melalui forum tersebut, para petani berharap SPI Pinrang dapat menjadi kekuatan perjuangan yang konsisten dalam mengawal hak-hak petani, memperjuangkan keadilan harga hasil panen, serta mendorong kebijakan pertanian yang lebih berpihak kepada masyarakat tani.
Reporter : Sattu
Sumber : SPI Kabupaten Pinrang
















