Example floating
Example floating
Berita

Dapur SPPG Pecalungan 2 Dikepung Masalah: Dekat Kandang, Lalat Masuk, Risiko Kontaminasi Mengintai

×

Dapur SPPG Pecalungan 2 Dikepung Masalah: Dekat Kandang, Lalat Masuk, Risiko Kontaminasi Mengintai

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.Net, Batang, Jateng – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pecalungan 2 kini menjadi sorotan serius DPRD setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang menemukan sejumlah persoalan krusial terkait sanitasi dan potensi kontaminasi pangan.

Hasil inspeksi lapangan mengungkap kondisi dapur yang belum sepenuhnya memenuhi standar kebersihan lingkungan. Situasi ini dinilai berisiko langsung terhadap keamanan makanan yang diproduksi.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Kepala Dinkes Batang, Ida Susilaksmi, melalui Kasi Penyehatan Lingkungan dan Olahraga, Adib Rachman, mengungkapkan bahwa proses penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bahkan sempat dihentikan. Penyebabnya tak sepele—lokasi dapur berada sangat dekat dengan kandang ternak.

“Proses sempat kami hentikan sebelum ada rekomendasi dari Satgas MBG, karena posisi dapur berdekatan dengan kandang,” ujar Adib, Jumat (8/5/2026).

Setelah inspeksi terpadu oleh Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama lintas instansi, dapur akhirnya diperbolehkan kembali beroperasi. Namun, izin itu diberikan dengan catatan tegas: banyak persoalan harus segera dibenahi.

Dinkes menemukan sejumlah pelanggaran teknis yang tidak bisa diabaikan. Mulai dari tidak adanya pintu pembatas antara ruang kantor dan ruang produksi, ketiadaan tirai plastik untuk menahan lalat, hingga keberadaan kandang ayam terbuka di sekitar dapur yang dinilai berisiko tinggi.

Baca Juga :  Ekonomi Sulawesi Selatan Tumbuh 6,88 Persen, 170 Ribu Lapangan Kerja Baru Tercipta  

“Kandang terbuka dan posisinya lebih tinggi dari tembok pembatas. Ini membuat potensi lalat masuk ke dapur sangat besar,” tegas Adib.

Temuan di lapangan memperkuat kekhawatiran tersebut. Saat inspeksi berlangsung, lalat terlihat masuk ke area dapur—indikasi nyata lemahnya pengendalian sanitasi dan tingginya ancaman kontaminasi dari lingkungan sekitar.

Masalah tak berhenti di situ. Prosedur pencucian ompreng dan pengelolaan sisa makanan juga dinilai belum sesuai standar. Praktik yang ada berpotensi memicu kontaminasi silang yang berbahaya.

“Sisa makanan seharusnya tidak dibongkar di area pencucian peralatan makan. Itu sangat berisiko,” jelasnya.

Meski hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dan air masih dinyatakan memenuhi syarat kesehatan, Dinkes menegaskan kondisi tersebut tidak boleh membuat lengah. Nilai inspeksi memang telah melampaui ambang batas minimal 80 persen, namun celah risiko tetap ada.

Dinkes pun memberi peringatan keras: seluruh rekomendasi wajib segera dilaksanakan tanpa kompromi.

“Kami minta SOP kebersihan diperketat dan pengawasan ditingkatkan. Jangan sampai ada celah yang bisa membahayakan keamanan pangan,” pungkas Adib.

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit