Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D
Faktual.net – Jakarta Barat, DKI Jakarta – Rabu (15/4/2026) – Kerajaan Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang pernah berkuasa di wilayah barat Pulau Jawa, tepatnya pada abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi. Keberadaan kerajaan ini meninggalkan jejak sejarah yang kaya, baik melalui prasasti, bangunan bersejarah, maupun hubungan erat dengan sungai-sungai di sekitarnya, salah satunya adalah Sungai Candra Bhaga yang kini dikenal sebagai Kali Gomati. Kali ini juga memiliki kaitan erat dengan sejarah pembangunan Gereja Tugu yang terletak di Jakarta Utara.
Sejarah Singkat Kerajaan Tarumanegara
Tarumanegara dikenal sebagai kerajaan Hindu pertama di Pulau Jawa yang meninggalkan bukti arkeologi yang jelas. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah yang kini menjadi bagian dari Provinsi Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Raja yang paling terkenal dan memimpin kerajaan ini pada masa kejayaannya adalah Purnawarman.
Bukti keberadaan Tarumanegara dapat dilihat dari tujuh buah prasasti yang ditemukan di berbagai lokasi, seperti Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Tugu, dan lain-lain. Prasasti-prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, yang menceritakan tentang kekuasaan raja, pencapaian, serta kegiatan-kegiatan penting yang dilakukan pada masa itu.
Kaitan dengan Sungai Candra Bhaga (Kali Gomati)
Sungai Candra Bhaga, yang sekarang dikenal sebagai Kali Gomati, memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah Kerajaan Tarumanegara. Menurut catatan sejarah, pada tahun 417 Masehi, Raja Purnawarman memerintahkan untuk melakukan penggalian sungai ini beserta Sungai Gomati sepanjang sekitar 11 km.
Penggalian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengatasi masalah banjir yang sering terjadi pada masa itu serta untuk keperluan irigasi pertanian. Dengan adanya sungai yang lebih dalam dan lebar, air dapat mengalir dengan lancar ke laut, sehingga mengurangi risiko banjir dan juga menyediakan air yang cukup untuk mengairi sawah-sawah milik rakyat. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat Tarumanegara, karena pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi yang utama.
Selain itu, nama “Candra Bhaga” sendiri memiliki makna yang menarik. Secara filologis, kata “Candra” berarti bulan dan “Bhaga” berarti bagian, sehingga Candra Bhaga dapat diartikan sebagai “bagian dari bulan”. Nama ini mungkin memiliki kaitan dengan kepercayaan atau mitologi yang berkembang pada masa itu.
Sungai Candra Bhaga juga menjadi salah satu penanda wilayah kekuasaan Tarumanegara. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman, pendiri Kerajaan Tarumanegara, juga ditemukan di sekitar wilayah Sungai Gomati, yang semakin memperkuat hubungan antara sungai ini dengan sejarah kerajaan.
Gereja Tugu yang terletak di Cilincing, Jakarta Utara, memiliki hubungan yang erat dengan Kali Gomati. Gedung gereja ini menghadap ke arah timur, bukan ke arah Jalan Raya Tugu di sisi utara. Alasannya adalah karena pada masa lalu, akses utama menuju Kampung Tugu adalah melalui Kali Gomati. Sungai ini merupakan sarana transportasi yang penting bagi masyarakat setempat untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain, baik untuk keperluan perdagangan maupun kegiatan sehari-hari lainnya.
Sejarah pembangunan Gereja Tugu sendiri cukup panjang. Gereja ini sempat rusak dan kemudian dibangun kembali pada tahun 1747 oleh tuan tanah Belanda bernama Justinus van der Vinch. Meskipun telah mengalami renovasi dan pembangunan kembali, gereja ini masih mempertahankan beberapa bagian asli seperti mimbar dan jendela yang memiliki nilai sejarah yang tinggi.
Hingga kini, Gereja Tugu masih digunakan sebagai tempat peribadatan oleh masyarakat setempat dan menjadi salah satu saksi bisu perjalanan sejarah Jakarta, mulai dari masa Kerajaan Tarumanegara hingga masa kolonial Belanda. Keberadaan gereja ini yang berdiri di tepi Kali Gomati semakin memperkuat ikatan antara masa lalu dan masa kini, serta menjadi bukti adanya interaksi dan akulturasi budaya yang terjadi di wilayah tersebut selama berabad-abad.
Peninggalan Seni dan Budaya
Selain prasasti, Kerajaan Tarumanegara juga meninggalkan peninggalan seni dan budaya lainnya yang menunjukkan tingkat peradaban yang cukup tinggi pada masa itu. Salah satunya adalah Candi Blandongan, yang merupakan salah satu candi peninggalan kerajaan ini. Candi ini memiliki arsitektur yang unik dan menjadi bukti adanya pengaruh budaya India dalam seni bangunan di Nusantara.
Selain itu, seni ukir pada prasasti-prasasti juga menunjukkan keterampilan dan keahlian para pengrajin pada masa itu. Motif-motif yang diukir pada batu-batu prasasti memiliki nilai estetika yang tinggi dan menceritakan tentang kehidupan, kepercayaan, serta sejarah kerajaan.
Kesimpulan
Kerajaan Tarumanegara merupakan bagian penting dari sejarah seni dan budaya Indonesia. Hubungan erat antara kerajaan ini dengan Sungai Candra Bhaga (Kali Gomati) menunjukkan bagaimana manusia pada masa itu berinteraksi dengan alam dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidup. Selain itu, kaitan antara sungai ini dengan Gereja Tugu juga memberikan gambaran tentang bagaimana sejarah terus berlanjut dan bagaimana berbagai elemen budaya dan sejarah saling berkaitan satu sama lain. Peninggalan-peninggalan yang ditinggalkan oleh Tarumanegara dan bangunan bersejarah seperti Gereja Tugu tidak hanya menjadi bukti sejarah, tetapi juga menjadi warisan budaya yang harus dilestarikan dan dihargai oleh generasi mendatang.
Daftar Pustaka
– Abhiseva.id. (n.d.). Kerajaan Tarumanegara (Abad 4 – 7 M). Diakses dari https://abhiseva.id/kerajaan-tarumanegara-abad-4-7-m/
– Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. (2026). Tarumanagara. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tarumanagara
– Sejarah309.wordpress.com. (n.d.). Tarumanagara – Sejarah Indonesia (Nusantara). Diakses dari https://sejarah309.wordpress.com/2015/11/25/102/
– IDN Times. (n.d.). 7 Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Diakses dari https://www.idntimes.com/life/education/seo-intern/prasasti-peninggalan-kerajaan-tarumanegara
– Tirto.id. (2021). Sejarah Tarumanegara, Purnawarman & Daftar Prasasti Peninggalannya. Diakses dari https://tirto.id/sejarah-tarumanegara-purnawarman-daftar-prasasti-peninggalannya-f7M3
– Detik.com. (2024). Sejarah Kerajaan Tarumanagara di Sunda, Lokasi hingga Peninggalan. Diakses dari https://www.detik.com/jabar/budaya/d-7241754/sejarah-kerajaan-tarumanagara-di-sunda-lokasi-hingga-peninggalan/amp
– Library.tanahimpian.web.id. (n.d.). Tarumanagara – 400 AD ~ Dreamland Library. Diakses dari https://library.tanahimpian.web.id/2012/10/tarumanagara-400-ad.html
– Kurusetra.republika.co.id. (2023). Ditulis dengan Huruf Pallawa, Prasasti Tugu di Museum Nasional Ungkap Sejarah Jakarta Sejak Raja Tarumanegara. Diakses dari https://kurusetra.republika.co.id/sejarah/1583030104/ditulis-dengan-huruf-pallawa-prasasti-tugu-di-museum-nasional-ungkap-sejarah-jakarta-sejak-raja-tarumanegara
– Banten.antaranews.com. (2023). Menyusuri jejak sejarah di Kampung Tugu Jakarta Utara. Diakses dari https://banten.antaranews.com/berita/258819/menyusuri-jejak-sejarah-di-kampung-tugu-jakarta-utara?page=2
Penulis adalah Humas Ikatan Keluarga Besar Quiko, Kampung Tugu.



















