Faktual.net – Jakarta Pusat, DKI Jakarta | Indonesia baru saja memasuki tahun 2023 dan diharapkan tahun 2023 menjadi awal ekonomi yang lebih baik untuk Indonesia setelah merebaknya pandemi Covid-19 selama 2 tahun (2020-2022) di dunia dan merusak seluruh sendi-sendi ekonomi dunia.
Perekonomian Indonesia sempat menyentuh garis negatif pada saat Covid-19 dan begitu banyak korban jatuh yang disebabkan oleh Covid-19.
Tetapi jika dibandingkan dengan ekonomi Amerika Serikat yang lebih parah, sempat menyentuh -7% sementara Indonesia hanya menyentuh -2%, maka dapat dikatakan bahwa Indonesia masih lebih baik daripada keadaan negara-negara dunia.
Hari ini (7 Februari 2023) INDEF melakukan pemaparan tentang “Akselerasi Ekonomi di Ujung Tanduk – Tanggapan Terhadap Kinerja Ekonomi Triwulan IV tahun 2022.” secara daring. Di sini Wakil DIrektur INDEF, Eko Listiyanto memaparkan bahwa kompetisi yang cukup kuat antara Indonesia dengan Vietnam dan Filipina. Pada triwulan IV tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Vietnam sudah mencapai angka 8% dan diikuti oleh Filipina yang mencapai 7% sementara Indonesia masih juga bertahan pada 5%.
Pergerakan ekonomi global juga masih melambat dan ini juga mempengaruhi Indonesia yang menghadapi 4(empat) tantangan dalam mengakselerasi ekonomi yaitu:
1. Biaya hidup yang cukup tinggi
2. Kenaikan BBM
3. Kebutuhan makan dan minum
4. Meningkatnya inflasi
Sesungguhnya GDP (Gross Domestic Product) Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Vietnam dan Filipina. Dari sumber data CEIC tahun 2023, maka GDP Vietnam hanya mencapai US$409 juta dan Filipina hanya mencapai US$404 juta, sementara Indonesia bisa mencapai US$1319 juta.
Ada yang baik untuk dilakukan Indonesia setelah Covid-19 ini adalah berhenti berharap untuk mendapat bantuan sosial dari Pemerintah Indonesia.
Bagaimanapun diperlukan bekerja keras, bekerja cerdas,bekerja tuntas untuk mendukung kehidupan perekonomian Indonesia.
Masyarakat Indonesia pada saat ini hanya mengharapkan bantuan pemerintah dalam bentuk bansos, bantuan, kartu prakerja dan bantuan sosial lainnya.
Masyarakat Indonesia sebaiknya berjuang untuk keluar dari kemiskinan. Tahun 2023 bukan lagi menjadikan alasan bahwa kehidupan masih miskin akibat wabah Covid-19.
Mulailah dari diri sendiri apa yang bisa kita lakukan saat ini. Semoga pintu kebaikan selalu terbuka untuk tujuan yang baik agar dapat keluar dari kemiskinan dan bertanggung-jawab untuk hidup sebagai warga Indonesia.
Sementara itu, Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif INDEF memaparkan bahwa konsumsi tertinggi di Indonesia adalah untuk makanan/minuman, komunikasi dan transportasi. Esther menyampaikan rekomendasi kebijakan berupa:
1. Meningkatkan daya beli masyarakat dengan meningkatkan pendapatan per kapita (peningkatan kualitas SDM)
2. Pengeluaran Pemerintah untuk hal produktif agar punya daya ungkit lebih pada perekonomian.
3. Penanaman modal ditingkatkan dan fokus pada investasi yang bisa membuka lapangan pekerjaan lebih banyak (laborintensive)
4. Hilirisasi industri untuk melakukan substitusi impor dan meningkatkan ekspor produk yang bernilai tambah sehingga nilai ekspor meningkat.
Dan Ahmad Heri Firdaus, Direktur INDEF juga dalam paparan dengan judul
“Menyoal Fundamental Pemulihan Pertumbuhan Ekonomi”
Menyampaikan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia sesungguhnya sudah dimulai pada tahun 2022, tetapi dengan masih ada saja korban yang jatuh karena pandemi Covid-19 maka akselerasi ekonomi Indonesia menjadi sangat lambat.
Adapun sektor pertanian di Indonesia masih bertumbuh tetap tinggi yaitu 6% tetapi pertumbuhan penebangan kayu mengalami penurunan drastis mencapai -1,2%.
Untuk sektor pertambangan yang cukup tinggi adalah pertambangan baru bara (9%) dan pertambangan logam lainnya (dalam hal ini nikel) mencapai 74,3%. Untuk pertambangan minyak, gas dan panas bumi mengalami penurunan drastis yaitu -14,5%.
Demikian juga untuk industri olahan. Industri tekstil mengalami penurunan (-4,4%) dan industri tembakau (-9,2%). Dan industri transportasi juga mengalami peningkatan pertumbuhan yang signifikan mencapai 47,2% berupa transportasi penyeberangan.
Untuk industri jasa, yang mengalami peningkatan pertumbuhan secara pesat adalah jasa komunikasi (27,3%) dan jasa kesehatan/kegiatan sosial mencapai pertumbuhan sebesar 26,6%.
Bagaimana Implikasinya?
Ahmad Heri Firdaus Memberikan Kesimpulan bahwa:
1. Tantangan untuk menjaga momentum pemulihan atau pertumbuhan ekonomi menjadi semakin berat di saat ketidakpastian global meningkat.
2. Indonesia membutuhkan akselerasi ekonomi yang didasari pada perbaikan struktur dan fundamental yang kuat, hal ini diharapkan berdampak terhadap perbaikan kesejahteraan melalui penciptaan lapangan kerja dan optimalisasi nilai tambah.
3. Momen pemulihan seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki dan memperkuat fundamental Ekonomi Indonesia.
Reporter : Debbie C.S















