faktual.net,Malakaji,Sulsel — Di balik kehidupan yang tampak sederhana, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu yang begitu memilukan. Supiana (31), warga Kelurahan Malakaji, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, kini hanya bisa terbaring di tempat tidur setelah musibah yang mengubah seluruh perjalanan hidupnya.
Menurut pantauan media faktual.net Senin (5/10/2026) di lapang bahwa Selama kurang lebih empat tahun terakhir, Supiana mengalami kelumpuhan pada bagian tubuh dari pinggang ke bawah. Kondisinya semakin memprihatinkan karena bagian tubuh tersebut sudah tidak lagi dapat merasakan sentuhan, bahkan mengalami pembengkakan hingga luka.
Namun di tengah keterbatasan dan rasa sakit yang harus ditanggung setiap hari, Supiana masih menyimpan satu harapan besar: melihat anaknya kembali bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Sebelum musibah itu terjadi, Supiana pernah bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ia berangkat dengan satu tujuan sederhana, yakni mencari rezeki dan memperbaiki kehidupan keluarganya.
Namun takdir berkata lain.
Saat sedang bekerja di sebuah ladang, Supiana bersama rekannya tertimpa pohon sawit. Peristiwa tersebut hampir merenggut nyawanya. Beruntung, ia masih berhasil diselamatkan dan mendapatkan perawatan medis di salah satu rumah sakit di Malaysia sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.
Berbagai upaya pengobatan dan terapi telah dijalaninya. Namun hingga kini, kondisi Supiana belum menunjukkan kesembuhan seperti yang diharapkan.
Yang membuat kisah ini semakin menyayat hati adalah sosok kecil yang selama ini menjadi tangan dan kaki bagi sang ibu.
Reyhan, anak laki-laki Supiana yang baru berusia 9 tahun, harus rela meninggalkan bangku sekolah demi merawat ibunya.
Di usia yang seharusnya dipenuhi dengan belajar, bermain, dan mengejar cita-cita, Reyhan justru harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang begitu berat. Ia membantu merawat ibunya yang tidak lagi mampu beraktivitas seperti dahulu.
“Kurang lebih empat tahun, Pak. Sakit saya mulai dari pinggang ke bawah sudah tidak terasa lagi, meskipun dicubit,” tutur Supiana saat ditemui awak media Faktual Net.
Dengan suara penuh harap, ia kemudian menceritakan tentang anak semata wayangnya.
“Reyhan, anak saya satu-satunya, yang merawat saya selama ini. Dia rela berhenti sekolah demi menjaga saya,” ucap Supiana.
Kondisi keluarga ini pun semakin berat karena keterbatasan ekonomi. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, Supiana sebelumnya pernah menerima bantuan sosial berupa BPNT. Namun, belakangan namanya tidak lagi tercatat sebagai penerima bantuan tersebut. Penyebab hilangnya data tersebut belum diketahui.
Di tengah kondisi yang serba terbatas, Supiana kini hanya bisa berharap ada perhatian dan uluran tangan dari pemerintah, masyarakat, maupun para dermawan yang tergerak hatinya untuk membantu.
Bukan hanya untuk dirinya.
Ia lebih mengkhawatirkan masa depan anaknya.
Meski tubuhnya tidak lagi mampu berbuat banyak, seorang ibu tetaplah seorang ibu. Dalam kondisi terbaring sakit sekalipun, Supiana masih terus memberikan semangat kepada Reyhan agar kembali mengenyam pendidikan.
“Saya sangat berharap Reyhan bisa bersekolah kembali. Meskipun keadaan saya seperti ini, saya tetap mendukung anak saya dari segi pendidikan,” katanya.
“Saya berharap kelak dia bisa menjadi anak yang pintar dan berguna bagi banyak orang,” lanjutnya.
Harapan sederhana itu menjadi impian terbesar Supiana saat ini.
Ia tidak meminta kehidupan mewah. Ia hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk menjalani pengobatan dengan layak dan melihat anaknya kembali mengenakan seragam sekolah, duduk di bangku kelas, belajar, dan mengejar cita-citanya.
Di balik tubuh seorang ibu yang tak lagi berdaya, masih ada hati yang terus berjuang demi masa depan anaknya.
Kisah Supiana dan Reyhan kiranya mengetuk pintu hati kita semua. Jika ada dermawan, komunitas sosial, pemerintah, maupun pihak yang memiliki kepedulian terhadap sesama, diharapkan dapat memberikan bantuan dan pendampingan kepada keluarga ini.
Sebab terkadang, bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, uluran tangan kecil dari kita bisa menjadi harapan besar untuk kembali bangkit.
Reporter: Dhenkjallo













