Wakatobi, Intertainment Pariwisata Dunia

768
Hasirun ady

Oleh : Hasirun Ady

Faktual.Net, Wakatobi, Sultra. Wakatobi adalah frame komunitas masyarakat yang terdiri dari Gugusan Kepulauan yaitu; Pulau Wangiwangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia dan Pulau Binongko, yang memiliki kesamaan sejarah (geo history), sosial (geo social), budaya (geo culture), kesamaan ekonomi (geo economics) dan kesamaan politik (geo politics). Dengan kesadaran kolektif, memperjuangkan Wakatobi menjadi wilayah kabupaten.

Dalam Peta Indonesia, Wakatobi tercatat sebagai Kepulauan Tukang Besi. Nama ini belum terungkap asal muasalnya, namun banyak pengamat mengkaitkannya dengan kepandaian menempa besi penduduk Pulau Binongko.Hingga saat ini penduduk Pulau Binongko masih setia melestrarikan keterampilan leluhurnya sebagai penempa besi yang ulung. Mereka memproduksi berbagai macam kebutuhan yang terbuat dari bahan dasar besi, misalnya, pisau parang dan tombak. Produksi mereka di kenal sangat berkualitas.

Nama Wakatobi yang kemudian menjadi nama kabupaten, ini didasarkan kepada pernyataan para pelajar di Kota Baubau pada tahun 1960, saat menghimpun diri dalam menjalin silaturrahmi dan komunikasi. Sejak itulah Wakatobi menjadi populer. Wakatobi adalah akronim dari nama empat pulau besar, yaitu; Wangiwangi (Wa), Kaledupa (Ka), Tomia (To) dan Binongko (Bi).

Arus Kesadaran

Sebagai daerah hasil pemekaran menjadi bagian arus kesadaran baru dalam mengambil prakarsa bagi upaya menentukan masa depan masyarakat. Pada konteks ini, semangat, strategi, pendekatan, arah, sasaran dan program dikembangkan menuju percepatan dan pemerataan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi rakyat.

Wakatobi adalah wilayah konservasi. Dalam pengelolaan pembangunannya diperlukan peingintegrasian dimensi lingkungan. Setidak tidaknya diperlukan prinsip dasar keserasian dan sinergitas program pembangunannya. Mencermati keadaan lingkungannya, nampaknya tidaklah mungkin diselesaikan dengan cara cara berfikir dan bertindak secara rutin (konvensional).

Oleh karena itu, untuk mempercepat pembangunan diperlukan cara berfikir baru yang akan mengantarkan ke cara cara bertindak rasional mesti dilakukan berbagai terobosan, dan dapat dilakukan dengan mengfokuskan jalinan interaksi antarprilaku pembangunan (stakeholder), baik regional, nasional maupun internasional.

Wakatobi adalah bagian integral dari pembangunan nasional. Dengan demikian, mempunyai arti dan peran penting dalam mewujudkan pembangunan nasional. Atas dasar ini, inplementasi pembangunan di wilayah ini perlu mendapat perhatian serius.

Setidak tidaknya terjaga keseimbangan daya dukung lingkungan dengan pemanfaatan sumberdaya lokal untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Baca Juga :  Tanpa Oposisi??? Itu Juga Demokrasi Yang Cantik

Dari sudut letak geogrsfis, perairan Wakatobi memiliki posisi strategis lintas perairan laut, karena berada pada jalur pelayaran dan perdagangan Nusantara dan Mancanegara. Menghubungkan antara kawasan Barat dan Timur Nusantara. Dan antara Benua Australia dan Ocreania.

Letaknya yang strategis menjadi alur perdagangan antara Timur dan Barat sejak Abad ke-16, saat mula berkembangnya perdagangan rempah rempah di Maluku, menjadi komoditi perdagangan internasional oleh Portugis dan Belanda.

Pada sisi lain, Wakatobi memiliki berbagai jenis kekayaan laut berupa terumbu karang, ikan, rumput laut. Keindahan terumbu, karang, masih menarik wisatawan dunia. Masih menyumbang sebagai salah satu intertainment pariwisata dunia. Sumberdaya lokalnya, jika dikelola melalui perencanaan yang tepat, akan menjamin kesejahteraan penduduknya dan membuat “rindu” para pelancong dunia.

Sebagai konsekuensi hidup pada kepulauan yang dikelikingi oleh laut, sebahagian masyarakat asli Wakatobi, pelayaran merupakan budaya turun temurun. Sebahagian besar penduduk di pesisir pantai. Sejak kecil bersahabat dengan lingkungannya, laut. Semangat kebaharian masyarakat Wakatobi cukup tangguh dalam menjelajahi Nusantara, termasuk negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Philipina, dan Australia. Bahkan tradisi lisan menyebutkan orang orang Wakatobi menangkap ikan hingga ke Wanuatu dan Kepulauan Hawaii.

Dahulu, ketika masih mengandalkan layar, peta jalur pelayaran masyarakat Wakatobi, dapat diasosiasikan pada 4 ( empat ) arah mata angin, yaitu Barat, Timur, Utara dan Selatan.

Pertama, pelayaran menuju Barat dari Kepulauan Wakatobi, menyusuri Selat Selayar, Selat Madura hingga kepelabuhan Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan dan Gresik, dan selanjutnya ada yang ke Singapura, Johor, Pulau Penang Malaysia Barat, dan ke Pulau Natuna.

Bagi perahu yang membongkar muatan di Pelabuhan di Jawa Timur, mereka membawa pulang Sembako, bahan bangunan, dan barang pecah belah untuk keperluan pribadi dan diperdagangkan di Kepulauan Maluku.

Mereka balik ke Wakatobi dengan cara opal, menyusuri Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, Pulau Flores. Ketika sampai di Lembata, mereka membelok haluan ke utara menuju ke Wakatobi. Dari Lembata, arah angin bertiup dari Tenggara. Posisi layar sebelah kiri, dan layar berkembang sempurna. Sekitar 6 jam kemudian, perahu sudah sejajar dengan Masjid Agung Popalia, Pulau Binongko.Sementara pelayaran dari Gresik dapat ditempuh seminggu baru sampai di Wakatobi.

Baca Juga :  Drama MRT dan "Undertable Transaction

Kedua, pelayaran ke Timur, menyusuri Taliabo, Pulau Buru (Maluku), Papua (Irian Jaya), bahkan ada yang sampai ke Negara Negara di sekitar Samudra Pasific Selatan seperti Palau, Papua Nuguni, Samoa dan Kaledonia Baru.

Ketiga, pelayaran menuju utara menyusuri Sulawesi Tengah, Banggai, Tolitoli, Sulawesi Utara, (Gorontalo, Bitung, dan Manado), sebahagian diantara mereka langsung ke Malaysia Timur melalui Tarakan, Nunukan (Kalimantan Timur), Kalimantan Utara melalui Sabah (Tawau, Serawak, Sandakan), sampai ke Brunai Darussalam. Dibeberapa Wilayah ditemukan pemukiman etnis Buton, misalnya Kampung Teluk Buton di Kabupaten Pulau Natuna. Sebagian lagi menuju Filipina Selatan melalui Kepulauan Sungihe Talaud dan Kepulauan Maluku.

Keempat, pelayaran menuju ke Selatan menyusuri Pulau Flores, Alor, Sumbawa, Kupang, Dili, dan bahkan diantara mereka ada yanng sampai ke perairan di pantai utara Australia.

Intuisi

Para pelayar Wakatobi sebelumnya menggunakan peralatan secara tradisional, dalam perjalanannya memperhatikan tanda tanda alam, misalnya bentuk awan, posisi bintang bintang di langit, warna air laut, hembusan angin, letak pulau, gunung, tanjung, teluk dan selat. Dengan menggunakan intuisi, mereka dapat mengetahui jika ada bahaya yang mengancam.

Pengetahuan tentang tanda tanda alam ini harus dimiliki oleh seorang Juragan (Nakhoda), dan merupakam sarat utama dalam pelayaran. Penguasaan Ilmu Agama (Islam) patut dimiliki seorang Nakhoda. Ia dapat menjadi Imam Salat dan menyelesaikan proses pemakaman ketika ada sawinya yang meninggal dalam pelayaran.

Filosofi kepemimpinan Juraga- Anakoda (bahasa lokal), mengarahkan dan melindungi sawi, menciptakan harmonisasi melalui komitmen bersama. Gaya kepemimpinan Juraga-Anakoda dianut- dipraktekan oleh Ir. Hugua (Bupati Wakatobi 2 periode), yang menganalogikan dirinya laksana Juragan-Anakoda.

Oleh Hugua, Wakatobi diibaratkan sebuah perarahu. Para Kepala Dinasnya adalah sawi-mitra. Sementara masyarakatnya adalah sasaran yang hendak dibahagiakannya.

“Saya ini Juragan, mencari muatan untuk dibawa pulang ke Wakatobi.” Demikian ucapannya yang sering disampaikan kepada masyarakat.

Kearifan telah mengajari kita tentang hakekat perjuangan. Jejak jejak mereka memberi semangat untuk bangkit membangun Wakatobi, mewujudkan kesejahteraan masyarakat (Berbagai sumber).

Penulis Adalah Anggota Panitia 7 Pemekeran Kabupaten, Mantan Jurnalis Harian Fajar Makassar ( 1982-1986 ).

Opini Diluar Tanggung Jawab Redaksi

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :