Faktual.net – Garut, Jawa Barat – MERDEKA …! Mengawali bulan kemerdekaan Agustus 2025, ijinkan saya mengajukan sebuah pertanyaan: “Apa yang menjadi prioritas dalam membangun Indonesia secara komprehensif?”
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mengajak, mari kita mulai dengan membuat mind-map. Untuk itu, agar lebih terarah, mari kita gunakan piramida Abraham Maslow sebagai alat bantu.
Menurut pengamatan saya, pembangunan selama ini hanya difokuskan pada 2 (dua) layers terbawah dalam piramida Maslow. Tak bisa disangkal, sebagian terbesar kebutuhan rakyat Indonesia berada di kedua layers itu. Namun, itu akan selalu menjadi kebutuhan jangka pendek. Kebutuhan jangka menengah berada pada layer kedua dari atas atau ketiga dari bawah. Sedangkan kebutuhan jangka panjang (bahkan sepanjang masa) berada di layer teratas.
Itu memang sudah menjadi hukum alam. Oleh karena itu, janganlah energi kita banyak dihabiskan hanya pada 2 (dua) layers terbawah saja. Apalagi dengan cara memberi gula-gula kepada rakyat. Stop kebijakan memberi gula-gula seperti itu.
Perlu diketahui, 3 (tiga) layers terbawah tidak akan bisa menjamin bangsa kita ini eksis dengan CEMERLANG. Yang bisa menjamin, hanyalah layer teratas. Artinya, PENDIDIKAN…!
PENDIDIKAN YANG BAGAIMANA?
Tentu saja, yang saya maksud adalah pendidikan beyond yang mampu disediakan oleh negara. Semangatnya adalah “memberikan pendidikan melebihi apa yang negara minta.” Ini berarti, pendidikan tinggi harus mampu mencetak petarung dan sekaligus patriot di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Jangan lupa, fungsi PTN/PTS hanya 2 (dua) yakni (1) memproduksi ilmu baru (new scientific knowledge), dan (2) mempersiapkan manusia-manusia baru yang berilmu pengetahuan (well-educated persons).
Seorang petarung di bidang STEM adalah dia yang mampu memproduksi global novelty di bidang STEM yang berpotensi memiliki global impacts. Sedangkan seorang patriot di bidang STEM adalah dia yang memiliki tekad luar biasa kuat untuk memajukan (bukan hanya mengembangkan) bidang STEM dengan niat just for the sake of the glory of the nation bukan untuk niat lain.
Itulah format pendidikan yang akan mampu menghantarkan bangsa Indonesia menjadi peserta terpandang di gelanggang GIR (global intellectual racing).
Bagaimana kongkritnya? Kongkritnya, ialah pendidikan yang dilaksanakan oleh PTN/PTS yang memiliki budaya riset yang ketat; katakanlah 70% aktivitasnya untuk R&A (Research for Science Advancement) bukan R&D (Research for Development) atau riset lainnya dan 30% sisanya untuk pendidikan. Mau tidak mau, ini menuntut dilaksanakannya Innovation Research dan bukan Imitation Research apalagi Idiot Research.
Klasifikasi riset itu (Innovation Research, Imitation Research, Idiot Research) dikenal sebagai “Warren Buffett’s 3Is classification of research.” Ia diadaptasi dari klasifikasi investasi yang diperkenalkan oleh Warren Buffett sang legenda investor dunia. Perbedaan ketiganya terletak pada basisnya. Yang disebut pertama berbasis pada “pure curiosity yang diwujudkan melalui rigorous techniques.” Adapun, yang kedua hanya berbasis pada rigorous techniques saja dan tidak mengandung pure curiosity. Sedangkan yang ketiga, yakni Idiot Research, adalah riset yang tidak berbasis pada pada pure curiosity dan juga tidak menampilkan rigorous technique.
REKOMENDASI
Sayang sekali, 3 (tiga) PTN papan teratas yang paling diharapkan untuk tampil menjadi PTN penghasil petarung dan patriot di bidang STEM, belakangan ini terjebak di kubangan pasir penghisap. Ketiganya berkutat dalam masalah penyimpangan academic values. Bahkan menyerempet human values.
Dalam keadaan demikian, saya melihat satu-satunya PTN yang memiliki potensi besar untuk menghasilkan petarung dan sekaligus patriot dalam bidang STEM adalah UNHAN RI. Saya menaruh harapan besar kepada UNHAN RI untuk menelorkan para petarung tangguh dan sekaligus patriot di arena GIR dalam bidang STEM.
Saya sangat berharap, dari UNHAN RI akan lahir peraih Nobel Prize sebagai Cadeau ulang tahun RI ke-100 pada 2045. Sebuah Cadeau yang sekaligus akan menjadi tanda dimulainya era Indonesia Emas. Apa itu Indonesia Emas? Bagi saya, Indonesia Emas adalah Indonesia yang dihormati dan disegani di mata dunia; yang menjadi salah satu referensi bagi dunia.
Untuk sementara, rekomendasi saya kepada UNHAN RI adalah sbb. Dobraklah keterisolasian Indonesia dalam bidang STEM, fokuslah pada upaya memajukan STEM tanpa melupakan pengembangannya, dan perluaslah pergaulan di International Scientific Community dalam bidang STEM.
Memajukan STEM adalah the real battlefield bangsa Indonesia sepanjang masa. Jika diperlukan oleh UNHAN RI, saya siap membantu.
Just my 2 cents for the nation!
Salam dari Garut,
Maman A. Djauhari (Pensun dari ITB tahun 2009)
Ketua Majelis Guru Besar ITB 2007-2008
International scientific writer, activist in scientific knowledge production (kata UNESCO dan kata AEGIS; Australian Expert Group in Industry Studies) (Red/JS)


















