Faktual.Net, Kendari, Sultra. Untuk mencapai target Herd Immunity 80% masyarakat tervaksin, maka pemerintah tidak henti-hentinya mengkampanyekan ajakan ke masyarakat agar terbangun kesadaran mandiri untuk divaksin. Setelah program vaksin untuk orang dewasa terlaksana dengan capaian 70 %, pemerintah kembali mencanangkan program vaksin untuk anak tahap 1 dan tahap 2.
Bertempat di SD dan SMP Ibnu Abbas Kendari, pemerintah Kota Kendari yang diwakili oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Mokoau melaksanakan program sosialisasi pentingnya vaksin kepada orang tua siswa/wali murid.
Diacara yang terselenggara pada Selasa, 1 Maret 2022 bertempat di pelataran SD dan SMP Ibnu Abbas Kendari, pihak Puskesmas Mokoau yang diwakili oleh DR. Juriadi Pado melakukan komunikasi langsung dengan orang tua siswa/wali murid yang diundang khusus oleh pihak sekolah.
DR. Juriadi Pado kepada peserta sosialisasi menjelaskan bahwa vaksin untuk anak bukan hal yang baru, karena anak – anak sejak awal lahir telah melakukan proses vaksin yang dikenal dengan istilah imunisasi. Bahkan orang – orang yang hendak berangkat haji atau umrah pun wajib di vaksin.
Terkait vaksin Covid – 19 untuk anak, DR Juriadi Pado mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan penelitian yang panjang terkait konsekuensinya sebelum disasarkan ke anak – anak. Walaupun vaksin sudah melalui uji klinis yang panjang, tetapi pemerintah tidak melakukan paksaan. Anak yang akan divaksin harus ada persetujuan dari orang tua/wali nya.
“Anak – anak yang akan divaksin harus ada persetujuan dari orang tuanya, kami tidak akan memvaksin jika tidak disetujui oleh orang tua. Target pemerintah itu 70 – 80 % warga tervaksin agar herd immunity tercapai”, ucap DR Juriadi Pado, dengan menambahkan bahwa dirinya berharap agar orang tua siswa sebagai pengambil keputusan mengizinkan anak – anaknya di vaksin.
“Tujuan pemerintah mencanangkan program vaksin pada anak adalah untuk memberikan keamanan pada anak – anak kita, agar kekebalan tubuhnya semakin meningkat. Omicron ini tingkat penyebarannya sangat tinggi walaupun fatalitasnya rendah. Kami berharap agar sama – sama kita sukseskan program ini, karena ini program nasional. Kami dari Puskesmas hanya pelaksana sana, tetapi penggeraknya adalah bapak dan ibu semua”, tambahnya.
Ditempat yang sama, kepala sekolah SD Ibnu Abbas Kendari, Ustadz Irham Lc mengatakan bahwa khusus untuk sekolah yang dipimpinnya, selama 2 kali pelaksanaan vaksin telah diikuti sebanyak 16 % siswa. Dari sekitar 400 an siswa/siswi telah diikuti oleh lebih kurang 70 an siswa/siswi.
“Kami dari pihak sekolah hanya menfasilitasi saja proses vaksinasi ini, tidak ada paksaan dari pihak sekolah. Untuk proses belajar tatap muka, tidak ada syarat bahwa yang divaksin saja yang bisa offline sementara yang tidak divaksin tidak bisa offline. Itu hanya rumor saja”,ucap Ustadz yang menamatkan pendidikannya di LIPIA Jakarta tersebut.
Beberapa keadaan seseorang tidak boleh divaksin :
1. Saat demam
2. Ada riwayat alergi
3. Ada penyakit auto imun
4. Ada riwayat asma
Vaksin bukan untuk membunuh virus tetapi untuk melemahkan virus dan memberi kekebalan pada tubuh. Seseorang yang telah divaksin masih dimungkinkan terpapar Covid-19 tetapi fatalitasnya akan lebih ringan dibanding seseorang yang belum divaksin.
Pantauan media, orang tua siswa sangat antusias dalam forum diskusi yang dipandu langsung oleh Ustadz Irham, LC. Tampak Ustadz Abu Bakar Ramli, LC dan Ustadz Tasmin Aminuddin, Lc,.MA turut hadir pada acara tersebut.
Redaksi















