oleh

Takut Di Karantina Karena Terdeteksi Positif Covid-19, Warga Enggan Lakukan Swab

Takut Di Karantina Karena Terdeteksi Positif Covid-19, Warga Enggan Lakukan Swab

Samosir saat pencerahan, positif Covid-19 tidak perlu takut dan malu

Faktual.Net,Jakarta Utara- mencegah lebih baik daripada mengobati, kata bijak yang harus diterapkan guna menangkal penularan Covid-19.

Mengetahui sanak keluarga ataupun rekan dan tetangga yang sudah dinyatakan positif Covid-19 dan harus mengikuti protokol kesehatan baik dilakukan isolasi secara mandiri ataupun melalui protokol kesehatan di Rumah sakit dan penampungan yang dirujuk oleh Pemerintah, membuat warga yang kontak erat takut melakukan tes keseharan Covid-19 yaitu tes Rapid dan Swab.

Hal ini membuat kewalahan Petugas kesehatan untuk mengambil tindakan perawatan dan pencegahan dini untuk pemutusan penularan virus corona.

Yudi Dimyati kepala suku dinas(kasudin) Kesehatan Jakarta utara,(23-10-2020), menuturkan keresahannya terkait warga yang keluarganya sudah positif Covid-19, tetapi anggota keluarga yang lain tidak mau dilakukan tes kesehatan Swap(PCR) oleh tim kesehatan untuk mengetahui jangkauan penularan Covid-19 dan memutus rantai penularan.

“Saat ini masih kurang pak pemahaman warga dengan dilakukan tes swab, karena masih ada stigma jelek bila diswab,” katanya.

Baca Juga :  Mendekati Pilkada Tahun 2020, Kapolres Pekalongan Pastikan Kesiapan Jajaran

Yudi mengatakan, jika hasilnya positif warga merasa takut, karena akan dikucilkan, ini yang membuat warga tidak mau melakukan swab secara mandiri (gratis dipuskesmas), Jika ada sebagian yang melakukan tes swab mandiri (bebayar) di laboratorium RS swasta, dengan harapan hasilnya tidak diketahui oleh banyak orang. Padahal secara sistem semua hasil laboratorium akan input diaplikasi yang datanya tetap disampaikan ke puskesmas.

“kita akan edukasi warga yang positif dengan kasus berat untuk dirawat di RS Rujukan, dan bagi kelurganya harus di swab, jika mengelak dan tidak bersedia diswab dan karantina, kami sampaikan ke Gugus tugas RW, biar teguran keras langsung dari Gugus tugas RW, selanjutnya teknis swab dipersilahkan pihak keluarga tersebut, langsung datang ke puskesmas terdekat, untuk melakukan tes Swab,” akhir Yudi.

Yudi Dimyati Kasudin kesehatan Jakut menerangkan, Untuk dari tes dari puskesmas minimal 400 sampel per hari, bila di gabung dengan RSUD dan RS swasta 1500 perhari.

Baca Juga :  Gelar Apel Kasatwil, Ini Arahan Dari Kapolri:

Samosir berusia 54 tahun, warga kecamatan Tanjung Priok Jakarta utara, saat di temui Media Faktual.Net(23/10/2020) di puskesmas kecamatan Tj.Priok, yang akan mengikuti tes swab, mengatakan ikut tes karena kesadaran sendiri sebab pernah melakukan kontak erat dengan rekannya yang sudah dinyatakan positif Covid-19 dan sudah dikarantina di Rumah sakit Rujukan.

“yang datang Swab bukan saya saja, tapi masih ada yang lain untuk tes, karena kami dalam satu kelompok sudah ada yang positif, dan kedatang kami untuk mengetahui positif atau tidak agar dapat mengindari penularan bagi anggota keluarga kami dan tetangga,” ujar Samosir.

Samosir, mengatakan tidak takut dan malu dengan hasil tes Swab, karena samosir menyadari bahwa tertular Covid-19 bukan penyakit yang harus disembunyikan atau penyakit memalukan.(zul)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :