
Faktual.Net, Buton, Sultra. – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang tergabung seluruh kominsariat di Univiersitas Muhammadiyah Buton (UM Buton) menggelar aksi damai dengan membawa gerakan Consorsium Revolusi Narasi (Corona).
Dalam aksi yang dilakukan puluhan kader IMM itu, membuat pimpinan kampus untuk mengadakan hearing bersama dengan tujuan menyelesaikan persoalan tersebut dengan diskusi terbuka.
Tuntutan Mahasiswa yang tergabung dalam aksi corona meminta Rektor UM Buton untuk menurunkan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) Mahasiswa sebesar 50 persen dan meminta biaya kuota internet selama kuliah online berjalan.
Laode Suwardin mengatakan, bahwa dalam hearing tersebut pihak kampus hanya mampu memberikan subsidi sebesar Rp. 150,000,- yang dipotong dari SPP Mahasiswa.
“Dalam keputusan tersebut masih belum sesuai dengan tuntutan kami, yang seharusnya UM Buton memberikan kebijakan yang lebih ditengah kondisi virus corona ini. Secara tidak langsung hanya menyanggupi 15 persen untuk pemotongan SPP”, kata korlap aksi corona itu.
Ia juga menyesal dengan kesimpulan tersebut. Pasalnya, pemberian subsidi kuota itu dipotong dari SPP yang ada dan tidak sesuai dengan kondisi serta tuntutan yang diterangkan saat hearing berlangsung.
“Pemberian subsidi kuota dipuruntuhkan untuk mengikuti penyelenggaraan proses belajar mengajar melalui via daring. Jelas berbeda jalur dan mekanisme pemotongan SPP”, tambahanya.
Selain itu, iya juga menyampaikan bahwa hasil hearing itu tidak sesuai harapan audiens, dengan itu ia menegaskan akan melakukan aksi lanjutan sampai tuntutan mereka dikabulkan.
“Kami akan melanjutkan aksi Jilid II, yang tergabung dari seluruh pimpinan komisariat F.Hukum, FAI, FEKON, TEKNIK, FISIP, FKIP dan perwakilan IMM Buton menegaskan bahwa pihak kampus belum memenuhi tuntutan kami”, tutup ketua kominsariat Fakultas Hukum UM Buton.
Reporter : Husni/Zahir














