Example floating
Example floating
Iklan Ramadhan
Politik

System Noken Pada Pemilu 2019 Mencederai Demokrasi Tanah Papua

262
×

System Noken Pada Pemilu 2019 Mencederai Demokrasi Tanah Papua

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.Net, Jakarta. Dalam rangka mewujudkan Pemilihan Umum 2019 yang Aman, Damai dan Demokratis, Ketua Dewan Pimpinan Nasional Bidang Kajian Strategis dan Kebijakan Publik Gerakan Rakyat Cinta NKRI (Gercin-NKRI), Petrodes M. Mega S. Keliduan S dalam keterangan persnya pada Jumat, 4/01/2019 di Jakarta menjelaskan bahwa secara antropologis pengesahan ‘system noken’ adalah mencederai demokrasi di Tanah Papua, bahwa penerapan system tersebut telah sesuai budaya masyarakat asli Papua, adalah sebuah ‘Kesalahan Fatal’.

Menurut Petrodes hal tersebut adalah kesalahan fatal karena tidak melalui kajian-kajian ilmiah sebagai materi penguatan atas keputusan tersebut, terutama kajian antropologis.

Pasang Iklanmu
iklan 468x60
Pasang Iklanmu

“Sebagai putra Papua dan antropolog Papua, hal tersebut kesalahan fatal kami katakan dan dapat kami pertanggungjawabkan.

Menurut kajian Petrodes sebagai antropolog, diuraikannya dalam beberapa point :

1. Noken itu Bahasa Biak (Salah satu suku dari daerah pesisir Papua) bukan bahasa dari suku-suku yang ada di wilayah pegunungan tengah – Papua; Inoken/Inokson di Biak saja tidak di berlakukan “System Noken’, mengapa di tempat lain digunakan ?

2. Noken itu seni kerajinan tangan “Menganyam”, dibuat untuk pakai isi hasil kebun, bukan untuk pakai Pemilu, jadi kalau ditinjau dari fungsi dan kegunaannya, sudah melenceng dari nilai-nilai  budaya dan kearifan lokal dari Noken dimaksud.

3. Tidak ada system politik tradisional di Tanah Papua yang menjadikan noken sebagai simbol demokrasi.

4. Yang terakhir, adalah suatu kesalahan fatal jika “system ikat suara” dalam system noken ini dipakai untuk mengklaim suara di TPS yang penduduknya HETEROGEN. Karena system ikat suara ini dilakukan apabila telah disetujui dalam pertemuan adat di komunitas adatnya sendiri.

Pada pertemuan itu akan keluar kesepakatan siapa tetua adat/yang memiliki kapasitas adat pada komunitas itu yang berhak untuk mewakili komunitas adatnya mencoblos pilihan yang sudah disepakati secara bersama melalui moment adat. Jadi kalau misalnya ada 1 TPS yang di dalamnya ada beberapa pemilih yang bukan dari komunitas adat tersebut sebenarnya harus diberi kebebasan untuk menentukan pilihannya berdasarkan hati nuraninya.

“Sebenarnya setelah dikaji lebih jauh lagi secara antropologis baik itu dari sisi sejarah asal usul noken, fungsi dan kegunaannya, serta pesan-pesan filosofi dari noken ini, banyak hal yang tidak bersinggungan dengan penerapan ‘system noken’ dalam pesta demokrasi di Tanah Papua,” ujar Petrodes.

“Kami dapat simpulkan bahwasanya penerapan ‘system noken’ pada pesta demokrasi di Tanah Papua ini adalah suatu tindakan yang bisa dikategorikan sebagai perbuatan ‘Incest/Tabuh’. Tindakan ini nyata-nyata adalah tindakan yang memperkosa nilai-nilai kearifan lokal dari NOKEN tersebut sebagai karya seni kerajinan tangan dari suku Biak,” tutur Petrodes.

“Ini murni diciptakan oleh elit politik dan untuk kepentingan politik kekuasaan, bukan dalam rangka melestarikan ataupun mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung didalamnya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Mahkamah Konstitusi RI.

Oleh sebab itu, lanjut Petrodes melalui kesempatan ini, “kami minta kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia agar dapat meninjau dan menarik kembali keputusan-keputusan yang dikeluarkan dalam mengakomodir ‘system noken’ pada pesta demokrasi di Tanah Papua. Sebab penerapan system noken sudah sangat nyata-nyata melenceng dari asas manfaat dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Tidak hanya itu, system noken ini sudah terbukti telah memicu beberapa konflik lintas suku di Tanah Papua dan memakan korban, beberapa asset negara seperti kantor KPU dibakar dan beberapa kasus lainnya. Jika terus dibiarkan akan berakibat fatal bagi kehidupan sosial budaya di Tanah Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Petrodes.

Reporter : Rizal

Tanggapi Berita Ini