Example floating
Example floating
BeritaDaerahEdukasiPertanian

Supervisi Mid Term Review IFAD Program READSI Kawal Kemandirian Petani

×

Supervisi Mid Term Review IFAD Program READSI Kawal Kemandirian Petani

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.Net, Konawe, Sultra – Tiga tahun implementasi program hibah pengembangan pertanian untuk masyarakat miskin di Kabupaten Konawe, melalui Program Rural Empowerment and Agricultural Devolopment Scaling Up Innisiatif (READSI), mendapat kunjungan kunjungan supervisi Mr Thierry Konsultan International Fund for Agricultural Development (IFAD), salah satu lembaga pembiayaan keuangan dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dihadapan para pengurus kelompok tani (Poktan) dan Fasilitator Desa (FD) dari 18 desa-kelurahan, Mr. Thierry menyampaikan tujuan bantuan IFAD adalah untuk mengawal kapasitas petani mulai dari pengetahuan hingga terjadi perubahan perilaku menuju kemandirian berusaha, tidak sebatas menjual hasil pertanian secara langsung paska panen.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

“Tujuan IFAD meningkatkan kapasitas sumber daya petani di desa mulai dari penanam hingga pengelolaan komoditi hasil pertanian sehingga memiliki nilai tambah yang dikelola dalam lembaga usaha ekonomi petani di desa, agar hasil panen tidak saja dijual utuh secara langsung seperti yang dilakukan selama ini, komitmen IFAD adalah memandirikan petani menuju peningkatan kesejahteraan petani,” ujar Mr. Thierry Konsultan IFAD, Rabu (6/10/2021 ) bertempat di café KJA Latoma Konawe.

Masih lanjut Mr. Thierry, IFAD pun akan mengawal kemampuan petani membentuk lembaga usaha dan mengakses pasar dan perkreditan usaha di lembaga perbankan secara mandiri, hal ini pun sebagai exit strategi paska program, dimana sebelumnya lembaga perbankan telah berkomitmen untuk membantu perkreditan petani di desa dalam mengakses bantuan utamanya Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ditambahkannya tidak seluruhnya kebutuhan petani dibantu oleh dana IFAD. Petani diharapkan memiliki simpanan melalui Kelompok Simpan Pinjam (KSP) Poktan sebesar tiga puluh persen untuk mencukupi bantuan IFAD dalam pengadaan alsintan. Hal itu bermaksud agar petani tidak tergantung pada program bantuan seutuhnya, guna tercipta rasa memiliki dan menjaganya.

Perwakilan pengurus Poktan, FD dan PPL 18 desa – kelurahan di enam kecamatan yang hadir berkesempatan untuk berdialog langsung dengan Mr. Thierry. Mereka menyampaikan gambaran perubahan pola bertani sebelum mendapat pengawalan program READSI dan setelahnya, serta kendala yang dirasakan.

“Kami ibu-ibu sangat berterimakasi dengan adanya program ini, banyak manfaat yang kami dapat, dulu yang kami tanam yang disuka saja, dengan program ini kami berlomba-lomba untuk menanam. Bantuan bibit sayur yang diberikan sudah ada yang dijual, selain dimakan sendiri dirumah. Sekali panen per anggota bisa menjual sampai 500 ribu rupiah, meskipun belum maksimal penjualan seluruh hasil panen,” ungkap ibu Arisa Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Maju Bersama asal Desa Onembute Kecamatan Silea.

Kondisi sebelum diberikannya bantuan bibit oleh program, masih lanjut ia, konsumsi sayur keluarga tidak rutin setiap hari, namun saat ini setiap hari mengkonsumsi sayur. Diceritakannya pula bahwa bantuan 50 polibag bibit sayur per anggota dibagi pula kepada tetangga yang tidak masuk dalam poktan READSI, hal ini karena antusias para tetangga yang ingin mencontoh apa yang sudah dilakukan KWT Maju Bersama.

Dari hasil usaha pernjualan sayur anggota kelompok sudah memiliki simpanan kas kelompok, mereka berharap sekecil apapun perhatian pemerintah dan program sangat bermanfaat untuk masyarakat.
Poktan dampingan READSI pun berharap tidak saja peningkatan kapasitas ilmu pertanian yang dikawal oleh READSI, namun pengawalan pasar dan pemasaran hasil panen pun menjadi harapan bagi sebagian Poktan, utamanya komoditi kakao dan lada.

Baca Juga :  IPTU Firman Raih Apresiasi Berbagai Kalangan atas Kepemimpinan Humanis di Polres Gowa

“Bantuan bibit dan pupuk yang diberikan oleh program ini memberikan semangat petani untuk merawat kembali tanaman kakaonya, hanya saja harapan kami agar masalah harga juga dikawal oleh pemerintah agar tidak anjlok saat panen nanti,”ungkap Agus Emil pengurus Poktam Morome.

Selain meminta suara dari petani langsung, Mr. Thierry pun mendengar suka-duka pengalaman Fasilitator Desa dalam mendampini petani, yaitu medan menuju desa dampingan READSI tidak saja ditempuh dengan kendaraan roda dua, melainkan harus menyeberangi sungai dan berjalan kaki, sehingga mereka mengharapkan ada asuransi bagi Fasilitator Desa terkait keselamatan kerja.

“Kondisi medan menuju desa dampingan tidak mulus, apalagi saat musim hujan, jalan becek dan air sungai naik, sehingga kadang harus menyimpan motor lalu berjalan kaki masuk ke desa dampingan, menyeberangi sungai yang arusnya sangat kuat, salah berinjak bisa terseret arus, ini kami harapkan ada asuransi,” ungkap Andriani Fasilitator Desa Asinua Jaya.

Pertemuan supervise Mid Tern READSI dengan konsultan IFAD turut pula dihadiri oleh Sekdis Tanaman Pangan. Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Konawe Musakkir Alqipli, dan manajer READSI Kabupaten Konawe H. Yaser Arafat.

Disampaikan Sekdis Tanaman Pangan. Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Konawe Musakkir Alqipli, program READSI sejalan dengan program pimpinan daerah Konawe untuk menciptakan Konawe sebagai lumbung beras Sulawesi Tenggara. Sehingga untuk memaksimalkan program ini dibutuhkan kerjasama semua pihak.

“Dibutuhkan kerjasama yang baik untuk berkolaborasi agar tujuan program tercapai, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani dari sisi ekonomi dan perubahan pola pikir, mulai dari petani, FD, penyuluh dan pemerintah,” ungkapnya.

Penjelasan lebih jauh tentang gambaran Program READSI disampaikan oleh Manager READSI Kabupaten Konawe H. Yaser Arafat, terdapat 125 Poktan dampingan program yang tersebar di 18 desa-kelurahan, 6 kecamatan.

“Mid Term Review oleh donor IFAD bertujuan untuk mendapatkan progres kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan kurang lebih dua tahun setengah, dan umpan balik dari petani penerima manfaat di lapangan, terkait kendala yang dihadapi petani, dalam perkembangan kegiatan mereka yang sudah difasilitasi. Dari umpan balik tersebut mereka bisa mendapatkan solusi maupun exit strategi yang bisa diterapkan di tahun berikutnya berdasarkan informasi yang mereka peroleh langsung dari lapangan,” ungkap H. Yaser Arafat.
Selain itu mengumpulkan informasi terkait literasi keuangan, dari sisi keuangan apa yang bisa diintervensi untuk membantu petani penerima manfaat di dalam membantu kegaiatan petani dalam mengelola usaha kegiatan pertanian.

Pertemuan supervise MTR juga melakukan audiensi kepada penyedia sarana produksi, pengelola hasil usaha tani seperti penggilingan atau pengumpul atau pedagang yang berkecimpung di usaha-usaha hasil pertanian. Selain itu juga mengundang pihak perbankan apa yang bisa diintervensi untuk pendanaan yang dibutuhak petani untuk mengembangkan usaha taninya kearah yang lebih baik.

Turut hadir pada kegiatan supervise MTR READSI, Tim kerja NPMO Pusat Sitti Karimatun, Yuli Widiyatmanta, Koordinator Provinsi sebagai Tenaga Ahli (TA) Pemberdayaan Aisya Rauf, TA Kabupaten Alfian Ishak dan staff jajaran Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Konawe. (Red).

Tanggapi Berita Ini