FAKTUAL-NET, JAKARTA UTARA, Siang itu Sabtu (07/12/2019), memasuki kompleks Gereja Portugis Tugu yang kini dibawah pengelolaan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Tugu DKI Jakarta ada suasana duka, karena seorang tokoh agama Sektor Betlehem Majelis pada zamannya Bapak Buce E. Dotulong yang separuh hidupnya didedikasikan dalam pelayanan di Gereja Portugis Tugu itu dipanggil ke pangkuan Bapa di Sorga.
Ternyata saat itu juga dalam hitungan beberapa menit ke depan akan dilangsungkan pemberkatan nikah dari salah seorang putra Tugu keturunan Maluku Yunus Kailuhu terhisap dalam keluarga Cornelis di Kampung Portugis Tugu itu.
Kunjungan ke Kampung Portugis Tugu untuk meliput Sanggar Budaya Portugis Tugu terpaksa harus terhenti, karena harus kulunuwun melewati rekan-rekan, saudara-saudara yang sudah beberapa bulan tidak rutin dikunjungi seperti bernostalgia kembali. Senyum mengembang karena ada rasa haru dan gembira menyeruak menyatu dalam batin, lalu kaki melangkah ke belakang Gereja Portugis Tugu yang menurut informasi Pelaksana Harian Majelis Jemaat GPIB Tugu akan segera direnovasi tapi mungkin tahun 2020. Syukurlah semoga Gereja Portugis Tugu ini dikembalikan beberapa bagian yang sudah berubah keasilannya.

Tiba di Sekolah Tugu Bhakti suasana agak lengang ada beberapa guru di sana karena tidak ada kegiatan pembelajaran. Tetapi yang khusus dengan kedatanganku adalah ingin bertemu dengan Ketua Sanggar Budaya Portugis Tugu Senhora Sylvia S.S. Corua dan Senhora Clara Maria Nunes de Carvalho pengajar Kelas Bahasa Portugis di Tugu. Ia bergelar Doktoranda dan Master of Sains (Dra & M.Si) tentu tidak diragukan kemahiran dalam berbahasa Portugis karena memang ia keturunan Portugis.
Dengan senyuman yang khas Senhora Sylvia menyambutku. Lalu ia mulai berkisah, “Ibu dari ayah saya berfam Abrahams, ayah dari ibunya berfam Quiko dan nenek dari ibunya berfam Andries,” tegasnya.
Jadi keturunan Senhora Sylvia terikat dalam 3 fam Tugu yaitu Abrahams, Quiko dan Andries sehingga mereka merasa keturunan Portugis Tugu yang sangat kuat yang begitu mencintai Kampung Portugis Tugu.
Tahukah anda nama familia yang disandang Senhora Sylvia adalah Corua merupakan nama dalam bahasa Portugis Coroa (dibaca : Korua) yang artinya Crown atau mahkota. Jadi sungguh kuat darah yang mengikat berhubungan dengan keportugisan tugunya.
Ketika penulis menanyakan kepada Senhora Sylvia mengenai latar belakang didirikan Sanggar Portugis Tugu, dengan antusias ia berkata, “Kampung Tugu mempunyai budaya Portugis Tugu, musik keroncong Tugu sudah terkenal, ada kuliner Tugu, bahasa Portugis Tugu, sejarah dan tari-tarian yang dimiliki. Tetapi selama ini seakan-akan berjalan sendiri, tidak ada wadah yang membuat keturunan Portugis Tugu lebih berkembang. Dengan kerinduan orng-orang Tugu untuk membentuk suatu wadah dan dengan itu bergandengan tangan untuk memajukan budaya Portugis Tugu inilah yang menyebabkan dilahirkannya Sanggar Budaya Portugis Tugu.
Sanggar Budaya Portugis Tugu dihadirkan untuk semua orang Tugu dan terbuka. Dengan tujuan untuk melestarikan Budaya Portugis Tugu agar budaya itu tidak punah dan dapat di kembangkan sesuai dengan keadaan zaman yang pada akhirnya dapat memberikan kesejahteraan bagi mereka.
Harapan ke depan dengan dibentuknya Sanggar Budaya Portugis Tugu agar Kampung Portugis Tugu berkembang maju hidup dengan teratur. Melalui Sanggar akan dikemas satu paket supaya lebih tertib lebih dikenal oleh banyak orang. Sanggar Budaya Portugis siap bekerja dengan lembaga manapun untuk membangun Tugu. Dan Sanggar ini terbuka untuk seluruh generasi Tugu yang menjadi skala prioritas utama, agar SDM orang Tugu semakin maju.
Usai mewawancarai Senhora Sylvia berikut berlanjut kepada sang guru bahasa Portugis. Ia memperkenalkan diri dengan mengawali, “Obrigada, Senhor Johan nama saya Clara Maria Nunes de Carvalho,” ujarnya.
Senhora Clara memiliki banyak keluarga di Timor Leste tetapi ia warganegara Indonesia. Dengan suami dan dua orang anak sudah pernah ke Kampung Portugis Tugu tahun 2015. Kunjunga pertama ke Kampung Portugis Tugu karena kebetulan ada temannya dari Kelurahan Semper Barat mengikuti Diklat di Islamic Center, “Wow kamu keturunan Portugis ya?” Clara mengikuti uapan temannya bahkan lebih lanjut lagi, “Saudara-saudaramu ada di dekat sini di Kampung Portugis Tugu,” maka terjadilah program Classe Portugis Tugu.
Senhora Clara kagum dan menghargai dari sekian tahun Orang Tugu dapat mempertahankan sejarah dan seni budaya leluhur. Dan ia mengakui Keroncong Tugu dengan nama besarnya, luar biasa. Ada juga tarian yang Noni Tugu yang sudah dishare di youtube.com, ada lagi warisan gereja Tugu yang sudah berusia 271 tahun.
Walaupun dalam keadaan belum maksimal kita harus punya komitmen ke depan lebih berkembang dan Senhora Clara akan mengupayakan support dari Kedutaan Portugal untuk membantu kita terutama dalam hal buku termasuk audionya.
Pesan Senhora Clara kepada generasi milenial, “Bahasa itu adalah jendela dunia”. Atau dalam bahasa Portugisnya, “A lingua é uma janela para o mundo,” ungkapnya dengan semangat. Senhora Clara mengingatkan bagaimana Bung Karno bisa sampai menguasai 7 bahasa, apalagi bahasa Portugis kini sudah diakui UNESCO sebagai bahasa ke 6 bahasa resmi di PBB. Terlebih lagi karena penghargaan UNESCO kita sebagai keturunan Portugis kita harus berbangga jika dapat belajar dan menguasai bahasa Portugis.
(Johan Sopaheluwakan)















