Quick Qount Rilis, Provokasi Eksis

123

Opini Ditulis Oleh: Wulan Amalia Putri, SST

Faktual.Net, Kolaka, Sultra. Hasil hitung Cepat (Quick Qount) Pilpres 2019 menuai reaksi negatif dari sejumlah pihak. Berkaitan dengan hal ini, Polri mendeteksi adanya peningkatan penyebaran infirmasi yang sarat provokasi dengan tujuan menciptakan kerusuhan. Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menemukan adanya peningkatan postingan bernada provokasi berupa ajakan berbuat kerusuhan di media sosial sebesar 40%.Hal itu ditemukan saat patroli siber pada 17 April 2019 pukul 21.00 WIB hingga 18 April 2019 pukul 08.00 WIB. (kabar24.bisnis.com/ 18 April 2019).

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri menyatakan “Memang ada tren peningkatan, kalau biasanya dari hasil patroli siber itu 10-15 akun yang sebarkan konten-konten provokatif, sampai jam jam 9 pagi ini ada peningkatan sekitar hampir 40 persen,”. Setidaknya ada 20 akun yang tengah di prifilling dan diklarifikasi berkaitan dengan ajakan provokatif tersebut. Konten provokastif tersebut berupa ajakan untuk melakukan aksi sebagai reaksi terhadap hasil quick qount yang rilis di sejumlah media nasional.

Tak dapat disangkal bahwa Pemilihan Presiden kali ini sangat panas. Perdebatan demi perdebatan semakin menajamkan fanatisme masing-masing Calon Presiden. Forum akal sehat, kerja nyata atau apalah namanya sesungguhnya bukanlah suatu konten yang menjadi daya tarik. Justru romantisme politik masa lalu, harapan akan masa depan yang lebih baik atau konten ideologis nusantara bercampur baur dalam kontestasi kali ini.

Menyasar Provokasi Media Sosial.

Melek teknologi yang semakin meluas di tengah-tengah masyarakat rupanya ibarat dua sisi mata uang. Terjebak antara ranah positif dan negatif. Postif, tentu saja karena menjadi jendela dunia yang lebih mutakhir sehingga masyarakat tidak lagi ketinggalan informasi. Dalam medan Pilpres, media sosial adalah sarana paling massif untuk mendapatkan suara bahkan menggerakkan massa. Namun menjadi negatif ketika media sosial blunder. Media massa yang dapat menyebarkan informasi secara sporadis berubah konten menjadi hasutan dan hujatan yang memicu tindakan agresif.

Berbicara untung dan rugi, ataupun manuver politik, media sosial bisa dimanfaatkan oleh okmun Calon Presiden manapun. Apalagi hasil quick Qount berganti sangat cepat padahal perbedaan versi tersebut sangatlah siginifikan. Di awal, Pasangan Prabowo- Sandiaga Uno merasa di atas angin, namun tidak butuh waktu lama posisi tersebut berubah, menempatkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai Pemenang. Di sisi lain, hasil perhitungan KPU melalui aplikasi Situng juga berbeda dengan hasil Quick Qount. Di sinilah sisi sentimental media yang membawa oknum netizen ke area negatif, area provokatif.

Baca Juga :  Tanpa Oposisi??? Itu Juga Demokrasi Yang Cantik

Apakah ada pergerakan masyarakat sebagai akibat dari konten provokatif? Sejauh ini memang belum terlihat. Tetapi riak-riak kerusuhan bisa saja menjadi ombak besar jika tak segera ditangani. You Tube, Twitter ataupun Facebook yang menjadi sarana penyebaran konten provokasi ini harus senantiasa dikawal oleh masyarakat yang sadar. Yang pasti, Polri akan mengidentifikasi setiap narasi yang muncul, apakah masuk delik pidana atau tidak. Bila masuk Undang-undang Informasi dan transaksi elektronik (UU ITE) hukumannya empat tahun. ”Tapi, kalau sampai membuat onar hukuman mencapai 10 tahun,” paparKaro Penmas Divisi Humas Polri Brigjen, Dedi Prasetyo.Dedi menjelaskan, akan dilihat hukum sebab akibatnya. Apakah informasi provokasi itu yang memicu terjadinya keonaran atau tidak. ”Maka dari itu kami harap semua bisa mengendalikan diri,” ujarnya.

Islam PunyaSolusi.

Dalam kzahanah Islam, tindakan provokasi dikenal dengan istilah tahrisy. Al Baghawi mengatakan bahwa “Tahrisy adalah memicu adanya saling bertengkar dan saling berbuat kasar antara sesama Muslim” (Syarhus Sunnah, 13/104). Senada dengan Al Baghawi, Ibnu Atsir mengatakan bahwa“Tahrisy adalah memancing pertengkaran antara orang-orang satu sama lain” (Jami’ Al Ushul, 2/754).

Provokasi antara sesama Muslim atau tahrisy adalah perbuatan setan dan termasuk perbuatan yang tergolong dalam perbuatan namimah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda “Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa melakukan tahrisy di antara mereka” (HR. Muslim no. 2812).Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian ia mengutus para tentaranya. Tentara iblis yang paling bawah adalah yang paling besar fitnah (kerusakan) nya. Salah satu tentara iblis berkata: saya telah melakukan ini dan itu. Maka iblis mengatakan: kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian tentara iblis yang lain datang dan berkata: Aku tidak meninggalkan seseorang kecuali setelah ia berpisah dengan istrinya. Maka tentara iblis ini pun didekatkan kepada iblis. Lalu iblis berkata: kamulah yang terbaik, teruslah lakukan itu” (HR. Muslim no. 2813).

Baca Juga :  Tanpa Oposisi??? Itu Juga Demokrasi Yang Cantik

Sementara itu, berkaitan dengan Namimah, Adz Dzahabi mendefinisikan bahwa: “Nammam (pelaku namimah) adalah orang yang menukil perkataan dari satu orang ke orang lain atau antara dua orang untuk menimbulkan gangguan pada salah satunya, atau memprovokasi salah satu dari mereka terhadap yang lain atau terhadap temannya. Yaitu dengan mengatakan: ‘si Fulan mengatakan tentang kamu demikian dan demikian’” (Al Kabair, 217). Mengenai jenisnya, Imam Ibnu Katsir mengatakan “Namimah ada dua macam: terkadang berupa tahrisy (provokasi) antara orang-orang dan mencerai-beraikan hati kaum Mu’minin. Maka ini hukumnya haram secara sepakat ulama” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/371, Asy Syamilah). Ahlul hikmah mengatakan, “Tukang namimah (adu domba) adalah racun yang membuat suatu kaum tidak mendapat rahmat Allah selama masih ada mereka”.

Alhasil, betapa besar dosa provokasi atau tahrisy dalam Islam. Perbuatan provokasi yang memicu kerusuhan sesungguhnya adalah perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan. Meskipun berbagai hal terjadi dalam Pemilihan Presiden kali ini, namun tindakan provokatif juga bukanlah hal yang bisa memperbaiki keadaan masyarakat. Kesadaran masyarakat harus kembali pada kesadaran Ideologis religius agar pemikiran masyarakat juga menjadi lebih cerdas dan logis. Elite-elite politik harus membina masyarakat dengan edukasi politik yang sesuai dengan Islam, agar masyarakat ke depannya bisa memilih berdasarkan Iman bukan dengan sekedar perasaan apalagi rupiah. Saatnya untuk kembali pada kemuliaan Islam dan kesempurnaan ajarannya. Wallahu a’lam bishawwab.

Penulis Adalah Seorang Staf Dinas Sosial Kab. Kolaka

(Opini Diluar Tanggungjawab Redaksi)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :