PKB & PKS Merajut Sebuah Harapan Baru Perjuangan Islam di Senayan

7


Faktual.Net Pemiilu dan pilpres di 17 April lalu telah digelar, berbagai polemik dan dinamika menyerang tanpa henti, mulai dari kecurangan, keberpihakan serta disintegrasi.

Pertarungan partai politik adalah pertarungan krusial. Kawan dan lawan saling menantang. Menikung dan saling sekat dan terus menyekat.

Hasil lembaga hitung cepat melahirkan banyak spekulasi bagi partai politik yang sementara bertarung. Semisal partai Baru PSI yang tidak menunggu putusan KPU mengenai hasil rekap suara yang sah dan lebih dulu mendeklarasikan kekalahannya ke awak media.

Hasil hitung cepat merupakan kerja secara realitas terjadi di lapangan. Beberapa orang bergerak serempak sampai akar-akar, menganalisis sesuai fakta dan menguatkan data yang harus kredibel.

Saya mengamat bahwa kekuatan partai islam dalam proses demokrasi di 2019 sangat signifikan, namun tentu tak semua partai islam yang berbuah manis.

PKB,PKS,PPP, dan PAN merupakan empat pertai sebagai kekuatan islam. walau keempat partai ini dalam proses hitung cepat dan lolos PT empat persen namun persentase PPP dan PAN turun di bandingkan pemilu 2014 lalu.

Sebelumnya PAN berhasil 7,59 persen pada 2014 sedangkan sesuai hitung cepat pada pemilu 2019 memperoleh suara 6,57 persen. Sementara PPP di 2014 lalu mentok di posisi 6,53 persen sedangkan di 2019 turun ke 4,56 persen.

Turunnya posisi suara dua partai basis islam ini bukan tanpa sebab, PAN misalnya parpol yang dimotori oleh Amin Rais ini memiliki disintegrisi kelembagaan antara ketua dewan pembina dan ketua umum, masing-masing jadi matahari di dalam partai yang berlambang matahari itu.

Lain cerita dengan PPP, sejak dualisme pimpinan pusat, parpol yang bersejarah ini rupanya terjadi gejolak pimpinan hingga akar rumput. Sampai kasus terakhir ketua umum PPP resmi sebaga tahanan KPK. Faktor inilah yang membuat dua partai berbasis islam turun dari perolehan di 2014 lalu.

Berbeda dengan PKB dan PKS. PKB yang bertarung basis dengan PDIP juga tak gentar dan mampu mempertahankan basisnya walau PDIP merupakan parnert koalisi sejak Gusdur dan Megawati sebagai pimpinan negara. PKB juga beruntung karena mendapatkan nomor urut satu dan mengusung presiden dengan nomot urut satu. Sehingga suara signifikan untuk di paketkan antara partai dan paslon sangat cocok. PKB sesuai hitung cepat melampui suaranya pada pemilu 2014 dengan perolehan 9,09 naik menjadi 9,34 persen

Beda dengan partai oposisi PKS. Partai yang berjuang bersama Gerindra di garis oposisi dan tak pernah alpa mengkritik pemerintah. Pemilu 2019 PKS mendapat perolehan suara 8,56 persen naik signifikan dari pemilu 2014 dengan 6,79 persen. Faktor kisruh internal PKS dan munculnya ormas Garbi yang sebagian besar kadernya adalah eks PKS tidak membuat suara PKS goyah.

Kader-kader PKS rupanya berhasil menjual promosi politiknya untuk menggratiskan SIM dan STNK kendaraan walau terget utamanya harus memenangkan pemilu dan mendapat kursi terbanyak. Namun paling tidak PKS mampu menampar berbagai prediksi bahwa partai besutan Fahri Hamzah dan kawan-kawan ini tidak lolos PT empat persen.

Namun sejatinya angka-angka tadi hanya hasil hitung cepat dari lembaga survei sebaiknya seluruh partai politik dan masyarakat Indonesia harus putusan resmi dari KPU di 22 Mei 2019.

Penulis : Takbir Abadi ( Rumah AspirasiTA’)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :