oleh

Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional

FAKTUAL.NET, JAKARTA – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020 kembali mengadakan kegiatan Gelar Wicara dan penampilan Tunas Bahasa Ibu dengan tema “Melestarikan Bahasa Daerah untuk Pemajuan Bahasa”.

Bupati Bungo, Propinsi Jambi : H. Mashuri, S.P., M.E. ketika memberikan penjelasan pada media

Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Selasa, (25/02/2020) di Aula Sasadu, Gedung M. Tabrani, Rawamangun, Jakarta Timur. Selain itu, Badan Bahasa bekerja sama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).

Bahasa Ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh seorang anak sejak kecil secara alamiah dan menjadi dasar sarana komunikasi serta pemahaman terhadap lingkungannya. Dalam konteks di Indonesia bahasa ibu diidentikan dengan bahasa daerah atau bahasa lokal. Pengidentifikasikan ini didasarkan pada keberagaman suku dan wilayah yang memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda yang digunakan sehari-hari di lingkungan keluarga.

Tunas Bahasa pelestari Dideng berfoto bersama dengan Bupati Bungo, Propinsi Jambi

Menurut hasil Sensus Penduduk dari BPS tahun 2010, penduduk Indoensia berusia di atas 5 tahun yang masih menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari sebanyak 79,5%. Akan tetapi, dalam konteks sosial budaya di Indonesia, konsep bahasa ibu ini tidak serta merta dan secara sederhana dapat dilihat dari pemakaian bahasa sehari-hari di rumah.

 

Isu Bahasa Ibu ini menjadi penting ketika bahasa-bahasa lokal di dunia mulai banyak yang punah. UNESCO memperkirakan 3.000 bahasa lokal akan punah di akhir abad ini. Hanya separuh dari jumlah bahasa yang dituturkan oleh penduduk dunia saat ini yang masih akan eksis pada tahun 2100 nanti. Sehubungan dengan itu pula sejak tahun 1999, UNESCO menetapkan Hari Bahasa Ibu setiap tanggal 21 Februari. Penetapan ini dianggap penting karena dapat menjadi tonggak kesadaran suatu bangsa untuk menjaga bahasa ibunya kepada generasi penerus pada setiap bangsa.

Kepala Badan Bahasa Prof. Dr. Dadang Sunendar berfoto bersama dengan para nara sumber dan pelestari Dideng dari Kabupaten Bungo

Indonesia sebagai negara berkewajiban melindungi bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan tak benda yang sangat berharga dan tidak ternilai harganya, hal ini tertuang dalam UU NO. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, terutama Pasal 25 – Pasal 45. Disamping ada  Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan Pembinaan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia. Bahkan kewajiban melindungi bahasa daerah juga terdapat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 40 Tahun 2017 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah.

Dalam kesempatan itu Prof. Dr. Arief Rahman, MPd. selaku  Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dalam sambutannya menyampaikan, “Tanggal 21 Februari  sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.  Ini penting sekali, karena  keberagaman budaya dan linguistik menunjukkan nilai universal memperkuat persatuan dan memperkokoh masyarakat.  Pengakuan pentingnya dari keberagaman bahasa membawa UNESCO harus mempunyai Perayaan Bahasa Ibu Internasional di seluruh dunia,” ungkapnya.

“Tahun 1999 Konferensi UNESCO ditetapkan 21 Februari setiap tahun di seluruh  dunia diharapkan melakukan perayaan ini. Apakah yang  harus dirayakan? Yaitu mempromosikan  keberagaman linguistik dan multi lingual yang akan membuat kesadaran bahwa kita harus mengembangkan toleransi  dan melakukan dialog-dialog.  Yang terlibat di dalamnya adalah badan bahasa, guru,guru,  universitas dan media dapat terlibat di dalamnya,” papar Arief Rahman.

Hadir dalam kesempatan tersebut tokoh-tokoh yang menyampaikan isu penting dalam tema besar kegiatan Gelar Wicara Kepala Badan Bahasa Prof. Dr.  Dadang Sunendar, M.Hum, Mashuri, S.P., M.E., (Bupati Bungo, Jambi), Elissa M. Kisya (Tokoh Adat Maluku), Aktivis Polyglot Indonesia dan Wikitongue.

Tidak hanya itu ada penampilan Sastra Lisan Dideng oleh anak-anak dengan Maestro Dideng Ibu Jariah serta penampilan  teater mini dan monolog berbahasa daerah dari Komunitas Oryza Lokabasa sebagai penutup acara. (Johan Sopaheluwakan)

 

 

 

 

 

 

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :