Faktual.Net, Kendari, Sultra. Penggiat bisnis di sektor pariwisata disarankan untuk segera mengurus sertifikasi CHSE (Cleanlines, Health, Savety & Envioronment Suistainablility) untuk menjamin kepercayaan wisatawan pulih kembali.
Hal ini disampaikan anggota DPR RI Komisi X, Drs Hj Tina Nur Alam, MM saat membuka
kegiatan Bimbingan teknis (Bintek) singkronisasi adaptasi kebiasaan baru promosi pariwisata dan ekonomi kreatif di pasar Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Amerika, terselenggara selama dua hari di Hotel Claro Kota Kendari, tanggal 1 sampai dengan 2 Desember 2020.
“Sertifikasi CHSE penting dimiliki setiap penggiat sektor pariwisata untuk menjamin kepercayaan wisatawan pulih kembali,” kata Tina Nur Alam, usai membuka acara Bintek, Selasa, (1/12/2020).
Menurutnya, sektor pariwisata merupakan pemasok devisa dan penyerap lapangan kerja terbanyak di Indonesia, Namun karena adanya wabah Covid-19, sektor pariwisata Indonesia menurun drastis.
“Adanya wabah Covid- 19, di Wakatobi saja 385 orang di rumahkan, 27 obyek wisata ditutup, semua merasakan dampak pandemic Covid-19,” ungkap Tina Nur Alam.
Meski demikian, katanya Tina Nur Alam, Komisi X DPR RI bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkomitmen untuk terus membangkitkan pulihnya sektor pariwisata sebagai sebagai salah satu sektor yang paling terdampak pandemic Covid-19.
Olehnya itu, di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) beberapa program telah direalisasikan dalam mendukung pemulihan ekonomi pariwisata antara lain program Balasa atau sembako dan sosialisai Indonesia Bisa di Wakatobi.
Dia menjelaskan, sertifikasi CHSE bertujuan menjajamin keyakinan wisatawan terhadap produk dan layanan, telah memenuhi protokol 4 K yaitu kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.
Ditempat yang sama, Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I, Deputi Bidang Pariwisata, Kementerian
Pariwisarta dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Tringsasi Agus Rini SE mengungkapkan proses pengurusan sertifikasi CHSE seluruhnya digratiskan oleh pemerintah, serta dapat dilakukan secara online melalui pendaftaran mandiri oleh para pelaku usaha disektor pariwisata dengan membuka situs resmi chse.kemenparekreaf.go.id, lalu mengikut petunjuk di dalam situs tersebut.
“Pengurusan sertifikasi CHSE tidak dipungut bayaran alias digratiskan seluruhnya oleh pemerintah, olehnya itu penting bagi hotel, restoran, dan pelaku usaha sektor pariwisata terus melakukan penerapan protokol kesehatan,” katanya.
Ia berharap bintek ini dapat memberikan pemahaman yang baik tentang protokol kesehatan di lingkungan kita dan adaptasi kebiasaan baru sebagai upaya menekan laju penularan Covid-19, disaat yang sama sektor usaha lain dapat menjalankan usahanya dengan baik.
Kegiatan bimtek sinkronisasi adaptasi kebiasaan baru dan promosi pariwisata dan ekonomi kreatif di pasar Eropa, Timur Tengah, Afrikan dan Amerika, di Kota Kendari, Provinsi Sultra, terselenggara atas dukungan Kemenparekraf dan Komisi X DPR RI, diapresiasi oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sultra, La Ode Saifuddin.
Kadis Pariwisata Provinsi Sultra, La Ode Saifuddin menyampaikan ucapan terimakasih kepada Angota DPR RI Komisi X dan Kemenparekraf yang telah menunjuk Sultra sebagai tempat pelaksanaan kegiatan bimtek.
Ia pun mengungkapkan komitmen Pemerintah Provinsi Sultra bersama kabupaten dan kota bersinergis membangun sektor pariwisata dengan dukungan infrastruktur, seperti pengembangan bandara internasional Haluoleo, pembangunan jembatan Muna-Buton, pembangunan peningkatan kualitas jalan provinsi, penyiapan kawasan jalan stratergi Toronipa, penyiapan masker, dan tempat cuci tangan, serta sosialisasi protokol kesehatan melalui media.
La Ode Saifudin berharap peserta yang hadir dapat menyebarluaskan informasi pentingnya sertifikasi CHSE diboomingkan di seluruh kabupaten kota di Provinsi Sulawesi Sultra.
Menurutnya, sebelumnya telah diadakan pertemuan seluruh kepala dinas pariwisata se-Provinsi Sultra, di Kabupaten Wakatobi untuk memboomingkan program ini.
“Pertama kami boomingkan di Wakatobi, beberapa Kadis Pariwisata se Provinsi Sultra hadir disitu, mereka juga sebenarnya sudah tahu, tapi lagi-lagi keterbatasan kami untuk datang ke kabupaten untuk mengecek apakah betul, materi yang diterima saat
di Wakatobi telah mereka realisasikan di kabupaten-kota. Untuk itu harapan kami peserta yang hadir hari ini menyampaikan kepada halayak umum dan jaringannya tentang singkronsasi ini,” pintanya.
Diakhir sambutannya, Saifuddin menyampaikan meskipun sertifikasi CHSE ini dianggap penting untuk menjamin protokol kesehatan di sektor pariwisata, namun tidak ada konsekuensi hukum bagi pihak yang tidak menerapkannya, selain konsekuensi sosial, dimana masyarakat sendiri yang akan menilai dan memilih untuk berkunjung atau tidak ke tempat sektor wisata tersebut.
Diketahui, Narasumber lain kegiatan bintek ini yaitu, Puding Saepuding, S.ST. Par, MP.Par Lektor Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Rachmat Widya Setya Dharma, Pakar Digital Mareketing. Rangkaian pelaksanaan kegiatan dimulai dari test rapid kepada seluruh peserta, panitia senantiasa mengingatkan untuk menjaga jarak dan menggunakan masker, selama proses pelaksanaan kegiatan.
Wa Ode Dely Yusniati
















