Faktual.net – Balikpapan, Kalimantan Timur – Kamis (4/12/2025) – Musim mudik Nataru bulan Desember 2025 seharusnya penuh harapan bagi pemudik yang ingin pulang ke kampung halaman. Namun, di Pelabuhan Semayang Balikpapan, harapan itu berubah menjadi kekecewaan yang mendalam. Lembaga negara yang dijuluki “pengayom masyarakat”, Pelni, malah terjebak skandal pilih kasih dalam pemberian tiket – sebuah kejanggalan yang tidak pantas terjadi di tengah antrian yang memanjang dan penumpang yang menunggu dengan kesabaran luar biasa.
Kasus ini terbongkar langsung oleh Hesti, salah satu penumpang yang merasa dirugikan. Ia dan teman-temannya telah datang jauh hari, mengikuti semua aturan yang ditetapkan Pelni, dan bersedia menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrian. Antrian panjang memang wajar di musim pemudik, tapi apa gunanya patuh aturan jika yang tidak antri malah lebih cepat mendapatkan tiket? “Saya sudah antri loh, justru yang lain dapat tiket,” ujar Hesti dengan nada yang penuh kesal.
Unsur pilih kasih yang terlihat jelas ini bukan hanya masalah kecil. Ini adalah pelanggaran terhadap prinsip kesetaraan yang seharusnya menjadi tulang punggung pelayanan publik. Pelni dibentuk untuk melayani semua masyarakat, tanpa memandang latar belakang atau hubungan. Tapi apa yang terjadi di Semayang? Penumpang yang patuh diabaikan, sedangkan yang beruntung mendapatkan perlakuan istimewa – sebuah tindakan yang mempermalukan bagi lembaga yang mengaku sebagai pengayom.
Kecewa Hesti tidak hanya karena tidak mendapatkan tiket dengan cepat, melainkan karena perlakuan yang membuatnya merasa tidak dihargai. Berapa banyak penumpang yang datang dari jauh, membawa barang bawaan, dan menunggu di bawah panas matahari hanya untuk pulang bersama keluarga? Kesabaran mereka yang luar biasa seharusnya dibalas dengan pelayanan yang disiplin dan adil – bukan dengan ketidakadilan yang menyakitkan hati.
Masalah ini tidak hanya merugikan individu, tapi juga merusak citra Pelni secara keseluruhan. Jika pengayom bisa saja pilih kasih, bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap lembaga ini akan tetap terjaga? Di tengah persaingan moda transportasi, Pelni seharusnya memperkuat keunggulan sebagai sarana yang terjangkau dan adil – bukan membuat diri sendiri terlihat tidak bertanggung jawab.
Untuk mengakhiri kasus seperti ini, langkah tegas harus diambil segera. Hesti yang tepat sekali mengajak pihak Pelni untuk meninjau kembali sistem pemberian tiket. Apakah sistemnya sudah transparan? Apakah ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk pilih kasih? Selain itu, kedisiplinan petugas juga harus ditingkatkan dengan pengawasan yang lebih ketat – agar tidak ada lagi yang berani melanggar aturan dan merugikan penumpang.
“Semoga Pelni ke depan lebih disiplin lagi,” harap Hesti. Harapan itu juga menjadi harapan semua pemudik: bisa mendapatkan tiket dengan cara yang benar dan merasa diperlakukan dengan hormat. Skandal pilih kasih di Pelabuhan Semayang Balikpapan harus menjadi batu loncatan bagi Pelni untuk berbenah total – sebelum kepercayaan masyarakat sepenuhnya hilang dan gelar “pengayom masyarakat” hanya menjadi sebutan kosong. (Red/JS)

















