
Ditulis oleh: Hasan
Faktual.Net, Buteng, Sultra — Belakangan ini dalam menjelang Pilkada Buton Tengah (Buteng) walaupun masih terbilang jauh yaitu di tahun 2022, narasi politik pulang kampung atau jaga kampung telah menjadi narasi yang setiap saat terus dihembuskan layaknya udara yang tak pernah berhenti berhembus di media sosial Facebook.
Menguraikan narasi politik pulang kampung dan jaga kampung dalam satu perspektif politik profetik. Keinginan yang mendorong saya untuk melakukan satu tulisan terkait hal di atas sesungguhnya didasari oleh satu kesadaran bahwa kita satu kampung, sebagai orang Buteng yang tujuannya agar kita mampuh membangun konsep poitik yang benar dan politik yang baik secara praktis. Disini saya hadir bukan sebagai hero atau pahlawan yang sok menggurui, melainkan saya hadir sebagai orang kampung yang menginginkan satu kedamaian dalam membangun relasi dalam konteks apapun itu.
Memahami politik sederhananya adalah satu relasi (Hubungan) yang di bangun karena memiliki kepentingan bersama dan juga dicapai secara bersama. Dengan memahami konsep politik sesungguhnya kita akan sampai pada satu harapan atau cita cita kehidupan yang adil juga sejahtera.
Disisi lain ketika kita melihat politik dalam pendekatan profetik maka setiap gerak politik bersandar pada agama sebagai pedoman kita dalam menjalankan kehidupan kita di dunia dan kemanusiaan. Politik baik secara pengertian dan pendekatan profetik kaduanya sama-sama sampai pada satu kesumpulan yang sama yaitu bagaimana kita bisa mencapai kepentingan bersama, dalam hal ini adil juga sejahtera demi kemaslahatan umat kahususnya masyarakat Buton Tengah.
Telah terlihat dengan jelas bahwa ada dua kelompok yang membangun narasi politik pulang kampung dan jaga kampung. “Hemat saya melihat narasi itu sesungguhnya dibangun dengan niat dari dua kelompok sebagai kekuatan politik agar satu dianatara keduannya menjadi atau terpilih sebagai kepalah daerah selanjutnya,”
Ooo yah…hampir lupa untuk menjelaskan kedua status pulang kampung dan jaga kampung ini. Narasi politik pulang kampung dan jaga kampung narasi yang dibangun oleh kelompok pendukung dan kedua kelompok itu mengidentikan pilihannya atau tokoh yang mereka pilih dengan sebutan pulang kampung dan jaga kampung.
Nah menariknya pulang kampung dan jaga kampung dijadikan satu kekuatan politik dalam bentuk narasi narasi politik yang di kemas sedemikian rupa dan menjadikan rekam jejak kedua tokoh yang mereka pilih sebagai kekuatan untuk menghegomoni atau mempengaruhi khalayak publik, agar mereka menyatakan sikap memilih satu diantara keduanya dan tentunya menjadi pemimpin ditahun selanjutnya.
Adapun narasi politik yang dikemas oleh dua kelompok itu yakni, pulang kampung ia tokoh Pendidikan Pak Dr. Azhari (Rektor USN Kolaka), petahana saat ini, Pak Samahuddin. yang juga mengapung ke permukaan dengan jaga kampung. (Bupati yang sekarang menjabat). Menariknya kedua tokoh ini sama-sama berasal dari satu kampung yang sama yaitu Buteng.
Kembali kita melihat narasi politik dari kedua kelompok tersebut lebih cenderung membanding bandingkan kelebihan juga kekurangan keduannya dengan harapan dapat mempengaruhi atau menarik simpatisan masyarakat untuk terlibat atau ikut mendukung satu di antara keduanya. Sayangnya beberapa hari ini saya melihat dan coba memahami narasi-narasi politik yang di bangun lebih cenderung saling menjatuhkan dengan memulai satu bangunan berfikir perbandingan.
“Bagi saya ini yang mestinya kita hindari untuk menjauhkan kita dari sentimen buta juga terpecah belah sebagai satu kampung juga orang kampung. Sebab, kedua tokoh tersebut berasal dari satu kampung yang sama dan tentu mereka memliki niat yang baik untuk membangun kampung mereka sendiri karena kedua tokoh tersebut adalah satu kampung dan orang kampung yang secara kapasistas mampuh membangun kampung untuk lebih baik lagi kedepannya,”
Agar kita terhindar dari narasi-narasi yang memiliki kemungkinan besar untuk terpecah bela, ada baiknya kita membangun satu konsep berfikir politik profetik (Kenabian) yang memuliahkan satu sama lainnya tanpa memandang latar belakang suku, agama ras dan lain sebagainya. Dengan menggunakan konep politik profetik maka kita akan menjadi orang kampung dan satu kampung yang baik juga solid demi mambangun daerah kita tercinta Buteng.
Oleh karena itu pendekatan politik profetik memberikan kita satu asupan nilai kemanusiaan yang amat penting untuk membangun satu kesatuan menuju kehidupan yang baik juga mulia. Sebagaimana politik profetik mengandung unsur Humanisme, Liberalisme dan Transdental.
Humanisme memiliki arti bagaimana kita sebagai manusia saling memuliakan atau memanusiakan manusia, sedangkan Liberalisme memiliki arti bahwa kita sebagai manusia mestinya jauh dari segalah bentuk penindasan juga kekerasan antar sesama manusia dan yang terakhir Transidental adalah nilai ketuhanan yang mesti di bumikan dalam satu dimensi atau ruang kehidupan manusia dimana kita hidup.
Ketiga konsep dari pada politik profetik ini sesngguhnya mengajarkan kita bagaimana mambangun satu konsep politik yang tidak merugikan antara kelompok yang satu dan lainnya. Sehingga politik yang kita pahami juga tindaki adalah politik yang hanya semata mata bicara untuk kemaslahatan umat atau kepentingan umum.
Penulis adalah: Direktur Pojok Literasi Indonesia.
(Isi Opini di luar tanggung jawab Redaksi).















