Faktual. Net, Jakarta. Pemilu 2019 nanti adalah proses demokrasi yang akan menghantar mandat kedaulatan rakyat ketangan pemimpin yang tepat. “Ditangan seorang pemimpin kita titipkan amanat untuk membawa kesejahteraan bagi rakyat. Ditangannya tergenggam kekuatan untuk membangun rasa bangga, sebagai bangsa. Ditangannya ada kemampuan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Ditangannya, takdir kita sebagai orang-orang merdeka, harus terus dijaga,” ujar Yenny Wahid , putri Presiden RI keempat Almarhum Gusdur saat Deklarasi Paslon Presiden dan Wakil Presiden 2019 oleh Konsorsium Kader Gusdur bertempat di Rumah Pergerakan Gusdur Kalibata Jakarta Selatan, pada Rabu, 26/09/2018.
Kedekatan dengan rakyat hanya bisa dibangun ketika seorang pemimpin mampu berpikir sederhana. Bahwa tugasnya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghadirkan keadilan dan kesetaraaan.
Keadilan dan kesetaraan dalam kedudukan dimata hukum, keadilan dan kesetaraan dalam mendapatkan akses untuk hidup makmur, keadilan dan kesetaraan dalam hak untuk memperoleh pendidikan agar mendapatkan masa depan yang cerah, serta keadilan dan kesetaraan untuk mendapat perlindungan dari kesewenangan sesama warga bangsa, yang sering saling mengintimidasi atas nama agama dan sukunya.
“Hal ini bisa kita lihat dengan sangat gamblang dalam hidup Ayah saya. Beliau yatim sejak kecil karena kakek saya, KH. Wahid Hasyim, menteri agama pada kabinet Bung Karno, meninggal dalam kecelakaan mobil. Beliau mendiami rumah keluarga sederhana yang bersebelahan dengan rumah Eyang Margono, kakek dari Pak Prabowo Subianto. Nenek kami harus menyambung hidup dengan cara berjualan beras untuk menghidupi enam orang anaknya, dan Gus Dur kecil sampai harus sering naik truk pengangkut beras untuk membantu ibunya.
Ayah saya hidup tidak bergelimang harta, dan itu diteruskan sampai beliau dewasa hingga akhirnya menikah dengan gadis Shinta. Mereka meniti kehidupan secara apa adanya. Menapaki tangga kehidupan penuh perjuangan, berjualan es lilin pun pernah dilakoni. Kami dibesarkan dalam hidup tanpa kemewahan, namun sarat dengan penghargaan diri. Bapak menempa kami dengan semangat membumi, yang diwujudkan dalam hasrat untuk mengabdi.
Setelah mempunyai anak, Bapak dan Mama hijrah ke pinggiran selatan kota Jakarta. Rumah kami waktu itu letaknya terpencil. Sering kami berangkat sekolah dengan sepatu yang dibungkus plastik karena jalan dekat rumah kami berlumpur belum diaspal. Menunggu kendaraan dipinggir jalan yang penuh asap knalpot, basah kehujanan dihalte bis, atau berdiri berjam-jam dalam bis dari Ciganjur, rumah kami, ke Grogol tempat saya menuntut ilmu, adalah cerita ceria hidup saya sehari-hari,” papar Yenny.
“Sosok seperti Gus Dur dan Gandhi adalah sosok pemimpin yang kita butuhkan. Negara ini adalah negara besar, penuh dengan kekayaan alam yang berlimpah. Negara ini adalah negara kaya, penuh dengan anak-anak bangsa yang punya talenta, mereka yang meyakini nilai kebajikan serta punya keinginan untuk mengabdi. Namun semangat mereka sering berbalas kegetiran dan kekecewaan, melihat proses politik yang sering mengkhianati cita- cita negeri,” imbuhnya.
“Ayah saya menghadirkan keadilan sosial dengan cara memenuhi basic rights atau hak-hak dasar bagi segenap bangsa Indonesia, tanpa membeda-bedakan agama, keyakinan, warna kulit, ras, gender, maupun status sosial dari rakyat yang dipimpinnya, dan saya dapatkan sosok ini tercermin pada Paslon Nomor 1, oleh sebab itu kami menyatakan dukungan politik dalam pilpres 2019 pada Paslon Nomor 1,” tegas Yenny.
“Pilihan kami adalah Paslon yang berpikir dan bertindak sederhana, namun kaya dalam karya. Oleh karena itu, dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, dengan ini kami menyatakan mendukung pasangan Nomor 1 Presiden Jokowi akan kembali memimpin Indonesia . Kami mewakili segenap kader dan murid Gus Dur, diantaranya tergabung dalam jaringan : Barikade Gus Dur (Barisan Kader Gus Dur), Gatara (Gerakan Kebangkitan Nusantara), Forum Kyai Kampung Nusantara6 (FKKNU), Garis Politik Al Mawardi (GP Al Mawardi), Komunitas Santri Pojokan (KSP), Jaringan Perempuan NKRI (JPN), Millenial Political Movement, Forum Profesional Peduli Bangsa, serta Satuan Mahasiswa Nusantara,” pungkas Yenny Wahid.
Penulis : Rizal
















