Example floating
Berita

Kitab Ma Ha Is Ma Ya: Spiritualitas Nusantara Jadi Kompas Kepemimpinan Bangsa

×

Kitab Ma Ha Is Ma Ya: Spiritualitas Nusantara Jadi Kompas Kepemimpinan Bangsa

Sebarkan artikel ini

Faktual.net – JAKARTA – 22 September 2026 – Di Gedung Juang Semar Suryakencana, Jakarta Pusat, bertepatan dengan peringatan Hari Perdamaian Dunia, tersibak kembali warisan luhur yang selama ini tersembunyi di kedalaman sanubari bangsa. Diskusi mengupas Kitab Ma Ha Is Ma Ya mengingatkan seluruh elemen bangsa: Indonesia bukan sekadar negara yang kaya sumber daya alamIndonesia adalah bangsa yang kaya jiwa, kaya budaya, dan kaya nilai spiritual yang menjadi fondasi sejati persatuan.

Acara yang diselenggarakan bersama PEWARNA Indonesia, Nusantara Centre, Yayasan Semar Suryakencana Cipta Amalindo, serta Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) ini bukan sekadar membahas isi buku — melainkan membangun kembali kesadaran jati diri bangsa yang sempat kabur terbawa arus zaman.

KENALI DIRIMU SENDIRI SEBELUM MENGAGUMI BANGSA LAIN

Penulis Kitab Ma Ha Is Ma Ya, Sri Eko Galgendu, membuka pesan yang menyentuh hati:

“Jika bangsa Nusantara tidak bertuhan, tidak mungkin kita menerima bangsa-bangsa lain beserta keberagaman agamanya. Kesuburan tanah air ini adalah bukti nyata bahwa kita adalah bangsa yang terpilih.”

Pesan paling mendasar dari kitab ini: “Kenali dirimu sendiri sebelum engkau mengenali orang lain.” Selama ini banyak yang lebih sibuk meniru pola, gaya, dan pencapaian bangsa lain — lupa bahwa di dalam diri sendiri, di tanah sendiri, telah tersimpan kekuatan yang jauh lebih besar dan lebih cocok dengan jiwa bangsa ini.

KEPEMIMPINAN BUKAN KEKUASAAN — ITU PENGABDIAN DAN PENGORBANAN

Kitab ini mengingatkan kembali empat pilar kepemimpinan sejati yang sudah lama mulai terlupakan:

Pertama, Karakter dan Keberanian. Memimpin bukan demi jabatan atau kemewahan, melainkan karena dipanggil oleh nilai luhur dan doa rakyat. Pemimpin yang takut kehilangan kedudukan tidak akan berani membela kebenaran.

Kedua, Kehormatan Tanah Air. Bumi, air, dan kekayaan Nusantara bukan sekadar barang milik untuk diperjualbelikan — itu harga diri bangsa, titipan leluhur, dan warisan anak cucu yang wajib dijaga dengan nyawa sekalipun.

Ketiga, Empati Sejati. “Suatu waktu rakyat menderita, aku pun menderita.” Kalimat ini bukan sekadar kata-kata manis di pidato — itu cermin hati pemimpin yang benar-benar merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Tidak ada pemimpin yang tenang saat rakyatnya menangis.

Baca Juga :  Sengketa Penjualan Saham RS Taman Harapan Baru (THB): Dugaan Manipulasi Nilai Transaksi Ratusan Miliar dan Pelanggaran Hak Kesepakatan Berujung Ancaman Pidana & Perdata

Keempat, Semangat Progresif. Bangkit mengejar ketertinggalan bukan dengan rasa iri atau dengki, melainkan dengan kerja nyata, kejujuran, dan kebersamaan. Kemajuan sejati adalah kemajuan yang merata.

Ditekankan pula: pemimpin politik tidak boleh berjalan sendirian — ia memerlukan pendamping yang memegang teguh nilai spiritual, agar kekuasaan tidak membutakan mata dan menutup telinga. Diperlukan sosok yang memadukan kelembutan hati dengan keteguhan pendirian — jiwa yang tidak mudah tergoda oleh pujian maupun ancaman.

PERDAMAIAN DIBANGUN DARI HATI, BUKAN DI ATAS KERTAS

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan ibukota, ditegaskan kembali: kemajuan tanpa kebaikan dan keadilan hanyalah bayangan yang tidak nyata. Spiritualitas bukan hal kuno yang harus ditinggalkan — itulah justru yang menjaga kemajuan tidak melenceng dari kemanusiaan.

Tradisi Nusantara mengajarkan: mendoakan sesama sebelum mendoakan diri sendiri; mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi; saling menguatkan di saat lemah, bukan saling menjatuhkan di saat kesempatan datang.

Sosok Sri Sultan Hamengku Buwono XII dikukuhkan sebagai teladan Bapak Spiritual Perdamaian — membuktikan bahwa kerendahan hati, kesetiaan pada prinsip, dan kasih kepada rakyat adalah kekuatan yang jauh lebih awet daripada kekuatan senjata atau kekayaan.

PANGGILAN BANGKIT: TULIS SEJARAH SENDIRI, JANGAN HANYA MENJADI PENONTON

Pesan yang paling menghentak dari diskusi ini: sudah saatnya Indonesia berhenti menjadi penonton dalam sejarahnya sendiri. Cukup lama kita melihat pencapaian bangsa lain dengan kagum — kini saatnya menggali kekayaan yang ada di tanah sendiri, mewujudkan persatuan yang tidak pura-pura, dan melangkah sebagai bangsa yang mengenal Tuhan, mencintai tanah air, dan memeluk sesama tanpa memandang perbedaan.

“Suara hati nurani adalah istana kerajaan Tuhan.”

Setiap keputusan, setiap kebijakan, setiap langkah kita — jika kembali pada kebenaran yang hidup di dalam hati, maka Nusantara akan kembali bersinar bukan karena dipuji bangsa lain, melainkan karena menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain.

Red

Tanggapi Berita Ini