oleh

Kartini–kartini READSI Berjuang dari Desa Ditengah Wabah Covid-19

Faktual.Net, Kendari, Sultra. Berjuang hidup di tengah wabah Covid-19, bagi sebagian perempuan petani pedesaan merupakan tantangan sekaligus berkah. Hal ini terungkap melalui pengakuan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) penerima bantuan Program READ-SI (Rural Empowerment and Agricultural Development Scalling-up Innitiative), di beberapa desa dampingan program di tiga Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara, yaitu Konawe, Kolaka dan Kolaka Utara.

Sebelumnya, Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scalling-up Innitiative (READ-SI) merupakan inisiasi perluasan Proyek Rural Empowerment and Agricultural Development (READ) Tahun 2008 hingga 2014 di lima Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, selanjutnya mendapat perbaikan rancangan untuk direplikasi di 6 Provinsi termasuk Provinsi Sulawesi Tenggara.

Adapun sumber pendanaannya berasal dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD). Proyek READ dinilai berhasil oleh Bappenas, sebab berhasil memberdayakan petani kecil, meningkatkan pendapatan dan produksi, serta memperkuat kelembagaan di desa melalui satu paket lengkap program pemberdayaan yang terintergrasi termasuk kemitraan dengan lembaga swasta antara lain PT MARS, untuk inovasi teknologi seperti tanaman kakao.

Survey dampak Proyek READ, membandingkan data rumah tangga sarasaran dan bukan sasaran program READ, menunjukan adanya peningkatan indeks ketahanan pangan. Proyek READ telah mampu mengurangi periode krisis pangan, 94 persen rumah tangga sasaran menjadi kurang dari 3 bulan dengan rata-rata 1,9 bulan, dan nilai maksimum paling parah yaitu 4 bulan, sedangkan rumah tangga yang bukan sasaran Proyek READ masih berada diatas 3 bulan dengan rata-rata 3,1 dan maksimum 10 bulan.

Selain itu, dari sisi peningkatan pendapatan, program READ telah mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga sasaran program READ (40% rumah tangga memiliki rata-rata pendapatan yang berada diatas garis kemiskinan) dan 83 persen peningkatan pendapatan tersebut berasal dari hasil pertanian.

Apabila dilihat dari sisi pemberdayaan perempuan, Proyek READ telah mampu meningkatkan partisipasi perempuan dalam program pemberdayaan yang ditunjukan dengan peningkatan partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan baik di tingkat rumah tangga dan desa serta telah meningkat aksesibilitasnya terhadap sumberdaya ekonomi, pertanian dan keuangan.

Selain itu, program READ juga mampu meningkatkan kemampuan 91 persen rumah tangga sasaran dalam mengakses pasar, 95 persen rumah tangga sasaran dalam mengakses kredit dan 81 persen rumah tangga sasaran dalam mengakses layanan keuangan dalam 12 belas bulan terakhir pelaksanaan program READ.

Berdasarkan keberhasilan tersebut, pemerintah menilai Proyek READ sebagai salah satu model pemberdayaan yang telah mampu mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional,sehingga program READ perlu di tingkatkan skalanya. Pada tahun 2015 Kementerian Pertanian menyediakan anggaran untuk mereplikasi program READ melalui pendanaan APBN di 2 (dua) kabupaten perbatasan yaitu Kabupaten Belu dan Kabupaten Kupang di Provinsi Nusa Tenggara Timur serta Kabupaten Sambas dan Kabupaten Sanggau di Provinsi Kalimantan Barat dengan total anggaran Rp 20 Miliar per tahun (USD 1,45 Juta).

Namun demikian, karena latar belakang geografis, kondisi pertanian dan sosial ekonomi masyarakat yang sangat berbeda, progres pelaksanaan Program Replikasi READ tersebut lebih lambat dari yang diharapkan.

Baca Juga :  Kasubdit Pemulihan Dan Peningkatan Perumahan BNPB RI Kuker Di Tidore

Selanjutnya, pemerintah menilai perlunya lanjutan kerjasama dengan IFAD dalam memperluas Proyek READ. Permohonan untuk memperoleh pendanaan dari IFAD untuk memperluas Proyek READ dimasukan dalam “Blue Book” periode 2015 – 2019. Pada tanggal 31 Agustus 2017 IFAD telah menyetujui untuk menyediakan dana pinjaman sebanyak USD 33,8 juta, mendanai program replikasi READ selama 5 (lima) tahun yaitu dari tahun 2018 sampai dengan 2022.

Proyek READ-SI dirancang sebagai peningkatan (upgrading) model pendekatan Proyek READ dan akan mengubah paradigma ‘proyek’ yang berdiri sendiri (stand alone) menjadi paradigma program yang lebih luas dan inklusif dengan tujuan untuk menarik investasi swasta dan masyarakat dalam kegiatan proyek. Pendekatan yang akan ditetapkan pada Program READ-SI diharapkan dapat lebih meningkatkan skalanya melalui pemberdayaan masyarakat secara Nasional. Strategi peningkatan skala proyek READ-SI akan mengkombinasikan hasil uji coba dan perbaikan (testing and refining) pendekatan Proyek READ yang dilaksanakandalam kondisi geografis yang berdeda melalui pengelolaan pengetahuan yang kuat (strong knowledge management) berdasarkan kerangka kerja kebijakan dengan mengacu pada bukti nyata, dan penguatan kapasitas kelembagaan.

Kehadiran READSI di Sulawesi Tenggara berada di 3 kabupaten yaitu Kabupaten Konawe, Kolaka dan Kolaka Utara, dimana setiap Kabupaten terdapat 18 desa dampingan, dan setiap desa ada 7 kelompok tani, terdapat 1 kelompok KWT (Kelompok Wanita Tani), berjumlah 21 orang per kelompok.

Ditengah wabah Covid-19, keberadaan Program READSI merupakan tantangan dan anugerah tersendiri bagi para perempuan petani di desa yang menjadi anggota Kelompok Wanita Tani, dimana mereka harus tetap keluar rumah, ditengah himbauan pemerintah untuk dirumah saja, demi merawat tanaman sayur mereka, jika tidak maka sudah pasti tanaman sayur tersebut akan mati.

Namun disisi lain, mereka sangat bersyukur dapat memenuhi asupan gizi keluarga dengan tanaman sayur dari hasil pekarangan atau kebun sendiri, tampa harus membeli ke pasar.

Dimomen Hari Kartini 21 April 2020, anggota Kelompok Wanita Tani Program READSI mengungkapkan perasaan dan pengalamannya, sebelum dan setelah masuknya Program READSI di desa mereka, yang telah merubah kondisi hidup diri dan keluarganya menjadi lebih baik, yaitu adanya penambahan penghasilan dari penjualan sayur maupun pemenuhan konsumsi keluarga.

Salah satunya, Samsuriati (42 tahun), anggota KWT Mekar Jaya Desa Puudongi, Kecamatan Polinggona Kabupaten Kolaka. Diceritakannya, bahwa awalnya pengalaman bertani asal saja, tampa ada ilmu, setelah mengikuti Sekolah Lapang (SL) sejak masuknya Program READSI tahun 20219, melalui penyuluh pertanian, kini ia dan teman-teman telah memiliki ilmu menanam yang sebenarnya.

“jika dulu saya menanam hanya asal saja dan seadanya saja namun sekarang kami sudah menanam dengan mengikuti cara penyuluh mulai dari cara menyemai, mengatur jarak, pemberian pupuk, pembuatan pupuk organic semua kami jalani,” tuturnya.

Baca Juga :  Walikota Tidore Serahkan Sejumlah Bibit Pala Dan Cengkeh Ke Petani

Saat ini setiap anggota KWT Mekar Jaya sudah memanfaatkan lahan pekarangan untuk ditanami sayuran, selain di lahan percontohan, yang pemeliharaannya dilakukan secara bergilirian oleh seluruh anggota kelompok yang berjumlah 21 orang.

Samsuriati, juga menceritakan manfaat yang diperolehnya setelah mengikuti Sekolah Lapangan READSI.

“Kalau dulu kami selalu beli sayuran, sekarang untuk konsumsi sayuran sudah tidak beli lagi, malah jika ada keluarga yang berkunjung sudah bisa membawa oleh-oleh sayuran dari pekarangan sendiri. Bahkan jika sudah banyak sayurannya, kami menjualnya walau masih di dalam desa,” ungkapnya.

Ditengah wabah COVID-19 Samsuriati dan anggota KWT, tetap keluar rumah merawat tanamannya, dengan menggunakan masker, “dari sinilah kami hidup, kami tetap keluar rumah untuk rawat tanaman dengan tetap menjaga jarak sesuai anjuran pemerintah,” cerita Samsuriati.

Harapannya, anggota KWT Mekar Jaya, mendapatkan pula pelatihan lainnya selain pelatihan dibidang pertanian, antara lain pembuatan minuman dari bahan jeruk karena jeruk di Desa Puudongi sangat berlimbah hasilnya.

“Kami perempuan di khusunya anggota KWT Mekar Jaya sudah berbeda dulu dengan sekarang. Kami sudah tidak berpangku tangan, menunggu penghasilan suami tapi ikut juga membantu suami walau hanya menanam sayuran dan apotik hidup di pekarangan yang selalu di dampingi oleh Fasilitator Desa Puudongi READSI , Ibu Iluh Dewi Sari dengan penuh kesabaran,” tuturnya.

Pengalaman lainnya diungkapkan Ibu Riwes (50 tahun), Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Langgea Kecamatan Padangguni, Kabupaten Konawe. Setelah mengikuti 12 kali Sekolah Lapang (SL) READSI, ia dan teman-teman telah menerapkan tatacara bertanam sayur yang baik. Kini hasilnya telah dinikmati baik dikonsumsi sendiri maupun dijual.

“Hasil dari menanam sayur sudah bisa dinikmati, dikonsumsi sendiri dan dijual, alhamdulillah bisa mendapatkan tambahan penghasilan keluarga,” ceritanya.

Pengalaman bertani Ibu dua anak ini sebelumnya didapat dari bertanya kepada sesama petani, tetapi hasilnya tidak sebagus saat setelah menerapkan ilmu Sekolah Lapang. Setelah menerapkan ilmu bertani Program READSI dengan mengikuti Sekolah Lapang, maka ia dan anggota KWT telah mengetahui ilmu cara bercocok tanam, mulai dari pengolahan tanah, persemaian, menanam bibit, perawatan, pemupukan, penyiangan, dan penyemprotan, termasuk cara pembuatan pupuk organak maupun pembuatan pestisida nabati sehingga bebas residu.

Kini, tanaman sayur anggota KWT Desa Langgea telah dipanen berulang-ulang. Dengan memanfaatkan lahan pekarangan sekitar rumah yang sebelumnya tidak termanfaatkan, tidak sulit lagi untuk mendapatkan sayur, dulunya harus membeli di penjual sayur keliling, sekarang malah balik menjual sayur.

Dengan adanya wabah Covid-19, Kartini-Kartini perempuan petani di desa, khususnya dampingan Program READSI berjuang dengan cara tetap fokus bertani dan memanfaatkan lahan pekarangan demi mencukupi kebutuhan keluarga, tampa khawatir akan kekurangan akses sayur, sebaliknya justru dapat menjadi penyuplai sayur masyarakat perkotaan yang harus tetap berada dirumah saja.

Penulis : Nur Aisa Rauf (Koorwil READSI Provinsi Sultra)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :