Example floating
Berita

Kampung Boyong Jeneponto di Bawah Ancaman Ekspansi Korporasi, Perampasan Ruang Hidup Dan Krisis Ekologi Laut.

×

Kampung Boyong Jeneponto di Bawah Ancaman Ekspansi Korporasi, Perampasan Ruang Hidup Dan Krisis Ekologi Laut.

Sebarkan artikel ini
Kampung Boyong Jeneponto di Bawah Ancaman Ekspansi Korporasi, Perampasan Ruang Hidup Dan Krisis Ekologi Laut.
Kampung Boyong Jeneponto di Bawah Ancaman Ekspansi Korporasi, Perampasan Ruang Hidup Dan Krisis Ekologi Laut.

faktual,net,Jeneponto,Sulsel – Tambang pasir dan pembangunan tambak udang di Kampung Boyong, Kelurahan Tonrokassi Timur, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, tidak dapat dilihat semata-mata sebagai persoalan investasi. Senin, ( 05/10/2026) 

Di balik ekspansi ekonomi terdapat persoalan mendasar mengenai penguasaan ruang, distribusi keuntungan, serta beban sosial dan ekologis yang harus di tanggung masyarakat.

Dari tanah Cangkuridia ri Boyong, sikap penolakan tersebut disampaikan oleh Agung Indar Jaya, S.E., M.Si., Tokoh Pemuda Boyong, akademisi, aktivis pergerakan, dan Dewan Kehormatan Eksekutif Pusat Federasi Keadilan Rakyat.

Ia menegaskan bahwa Boyong bukan tanah kosong. Boyong adalah ruang hidup. Di dalamnya ada manusia, sejarah, adat, laut, tanah, ingatan kolektif, dan masa depan generasi yang belum lahir.

kemudian, secara antropologis, tanah dan laut tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membentuk identitas, hubungan sosial, kebudayaan, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat. 

lebih jauh, Karena itu, perubahan fungsi ruang pesisir harus mempertimbangkan masyarakat sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan.

Sejarah lokal dan sumber – sumber primer menunjukkan bahwa Boyong dan kawasan pesisir Turatea telah memiliki struktur sosial, kepemimpinan adat, hubungan genealogis, serta posisi strategis dalam jaringan sosial dan maritim di abad ke 18.

Riwayat tersebut tidak cukup diperlakukan sebagai cerita genealogis semata. Ia merupakan pintu masuk untuk memahami bahwa wilayah yang sekarang disebut Lingkungan Boyong telah memiliki struktur sosial, kepemimpinan, hubungan genealogis, serta posisi strategis dalam jaringan kekuasaan dan mobilitas maritim jauh sebelum wilayah tersebut masuk dalam wacana ekploitasi atas kepentingan korporasi dan logika kapitalisme.

Menurun Agung Indar Jaya dalam perspektif sosial – ekonomi & politik, persoalan tanah dan pesisir tidak dapat dilepaskan dari relasi kuasa dan proses akumulasi modal. 

Baca Juga :  31 Tahun Menjalani Ujian, 4 Tahun Terbaring Lumpuh: Supiana Menanti Uluran Tangan Dermawan

ketika ruang yang selama ini menjadi basis kehidupan nelayan dialihkan menjadi objek investasi, masyarakat berpotensi kehilangan akses terhadap alat produksi kehidupannya sendiri.

“Di sinilah konsep perampasan ruang hidup menjadi relevan. Keuntungan ekonomi dapat terkonsentrasi pada korporasi pemilik modal, sementara dampak sosial dan ekologis justru dibebankan kepada masyarakat, nelayan Boyong & Tamanroya” tegas Agung.

Karena itu, tambang pasir dan pembangunan tambak udang harus dilihat berdasarkan dampaknya terhadap mata pencaharian nelayan, akses masyarakat terhadap pesisir, ekosistem laut dan pesisir, kualitas air dan lingkungan, perubahan bentang alam serta keberlanjutan kehidupan generasi berikutnya.

Agung menyerukan kepada masyarakat nelayan Boyong, Tamanroya, dan seluruh elemen masyarakat Kecamatan Tamalatea untuk membangun kesadaran kolektif, 

Mempertahankan ekologis, serta mengawal setiap kebijakan yang menyangkut ruang hidup masyarakat. Boyong bukan halaman kosong dalam peta investasi. Di tanah leluhur kami terdapat jejak manusia, sejarah , mata pencarian manusia yang hidup di atasnya.

“Mempertahankan ruang hidup adalah perjuangan agar pembangunan tidak kehilangan manusia, sejarah tidak dihapus oleh kepentingan modal, dan laut tidak diperlakukan semata-mata sebagai komoditas.” 

Tamalatea bukan tanah yang lahir tanpa sejarah. Ia ditempa oleh perjalanan panjang masyarakat, adat istiadat, pengetahuan, dan pergolakan intelektual yang membentuk keberanian untuk mempertahankan martabat serta ruang hidupnya. Karena itu, kami tidak pernah tunduk kepada ancaman, tekanan, intimidasi, atas kepentingan modal yang hendak mengeksploitasi tanah dan laut kami.,

Tutup Agung Indar Jaya, S.E., M.Si.

Reporter: Pupung

Tanggapi Berita Ini