Faktual.net, Gowa, Sulsel– 25 November 2025- Dalam rangka Hari Guru Nasional, saya, Muh Tahar, menuliskan kenangan pribadi yang selalu mengiringi langkah saya sebagai jurnalis.
“Saya lahir dari rahim orang tua pendidik, almarhum ayah saya H.Muh Yahya seorang Pensiunan guru SD sederhana dan ibu saya Hj.Haslina Pensiunan Guru SD yang juga mengabdikan diri di Sekolah Dasar, didikan mereka menanamkan disiplin, kerja keras, dan keimanan sejak kecil,” ungkap Tahar
Ayah, meski hanya menerima gaji pas‑pas, selalu menekankan bahwa ilmu adalah warisan paling berharga. “Tidak ada warisan yang lebih bernilai daripada ilmu,” katanya, dan jejaknya tetap terasa setiap kali saya duduk di depan monitor.
Ibu, Hj Haslina dengan kesederhanaan yang tak pernah lekang, selalu mengingatkan:
“Belajarlah, nak. Tidak ada warisan orang tuamu selain mandiri dan selalu beribadah kepada Allah SWT.”
Kisah kedua orang tua ini membentuk pandangan saya tentang guru: sosok pengayom yang tidak hanya mengajar, tetapi juga meneladani. Meski usia sudah lanjut, semangat disiplin mereka tetap seperti anak kecil bangunkan jam 4 subuh, melaksanakan ibadah, dan menekankan kejujuran jalani kehidupan.
“Mereka mengajarkan bahwa menjadi guru berarti menjadi contoh, menginspirasi murid‑muridnya dengan akhlak dan ilmu yang bermanfaat,” tambahnya.
Motivasi itulah yang mendorong saya menempuh jalur jurnalistik:
“Agar saya dapat terus menyebarkan manfaat dan ilmu yang berguna bagi sesama.”
Hari Guru ini menjadi momen bagi saya untuk menghargai setiap dedikasi pendidik.
“Guru adalah pilar utama pendidikan yang tanpa lelah membimbing, menginspirasi, dan memberikan ilmu kepada generasi muda. Terima kasih, guru‑guru hebatku. Orang Tuaku Baktimu abadi dalam ingatan kami,” Ditulis oleh Muh Tahar.
Redaksi.
















