Faktual.Net, Kendari — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari, menggelar diskusi tentang Penggiringan Opini dan penulisan literasi media.
Kegiatan tersebut diselenggarakan di sekretariat DPC GMNI Kendari, pada 22 November 2023.
Hadir sebagai narasumber dari Redaktur Pelaksana PT Media Faktual.Net, Kariadi dan Ketua DPC GMNI Kendari, Rasmin Jaya dan dipandu oleh Biro Kajian dan Aktualisasi DPC GMNI Kendari Fendi.
Dalam ulasannya Ketua DPC GMNI Kendari, Rasmin Jaya mengatakan pentingnya penulisan literasi media dan penggiringan opini dalam menjawab arus perkembangan zaman dan modernisasi sekarang ini.
“Memang sejak dini literasi dan melek media sudah harus ada aktualisasi di ruang lingkup mahasiswa dan pemuda untuk mengikuti segala tren perkembangan zaman,” bebernya.
Ia juga membeberkan, penulisan produk Jurnalis harus sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik agar tidak berat sebelah apalagi merugikan satu pihak.
“Penulisan berita harus ada keberimbangan dari berbagai sumber agar tidak menyebabkan penyesatan publik.,” ujarnya.
Terakhir dia berpesan agar menjadi mahasiswa dan pemuda tetap menjaga nilai-nilai kritis, menganalisis segala persoalan dan wacana di tengah masyarakat sekaligus menjadi jembatan solusi disetiap komponen masyarakat.
Sementara itu, Direktur Pelaksana Faktual. Net, Kariadi menjelaskan Perkembangan informasi di era digitalisasi membawa dampak besar pada kehidupan manusia. Derasnya arus informasi tak hanya berdampak positif, namun juga memiliki sisi negatif.
Disinformasi cenderung meningkat, seperti yang terjadi kasus kriminal, politik dan sebagainya, untuk mengatasi hal itu, perlu melakukan langkah-langkah preventif.
“Langkah preventif dilakukan dalam bentuk upaya meningkatkan literasi digital mahasiwa dan mengajak masyarakat untuk kritis terhadap informasi di media sosial sebelum disebar.” ucapnya.
Menurutnya, menjelang pemilu 2024 terindikasi rawan munculnya berita hoax. Untuk itu, peran dari mahasiswa saat ini adalah menjadi salah satu penggerak masyarakat dalam menangkal berita-berita hoax.
“Bagaimana mahasiswa ini nanti bisa menjadi penangkal berita-berita hoax, di mana sebelum berita itu disebarkan terlebih dahulu analiisis dan diuji kebenaranya, apa berita tersebut hoax atau bukan, agar tidak merugikan orang lain dan menebarkan ujaran kebencian,” kata Kariadi.
Bukan hanya itu, apabila informasi palsu yang dibiarkan begitu saja bisa memengaruhi pola pikir masyarakat dan mengancam demokrasi.
“Jika dibiarkan berita hoax, masyarakat tak lagi mampu memilah informasi bohong dan fakta, maka perlu melakukan edukasi literasi digital terkait misinformasi dan disinformasi,” bebernya.
Dalam diskusi tersebut, berlanjut dengan sesi tanya jawab-diskusi, dan kesimpulan.
Reporter: Bambang















