Filosofis Kata ‘La Donggo’ Ala Akademikus Universitas Marcu Buana

196

FAKTUAL.NET, Jakarta– Perebutan eksistensi di Ibu Kota Jakarta mulai terasa. Hal ini terlihat dari peranan anak muda yang kian lama kian progres, mulai dari perananya mengangkat isu-isu lokal maupun isu-isu nasional.

Berangkat dari fakta tersebut, salah satu Dewan Pendiri Ikatan Pemuda Donggo Soromandi Jakarta (IPDSJ) Fadlin Guru Don (FGD), menawarkan satu terobosan untuk mengusulkan nama baru organisasi mereka lewat Musyawarah Besar (Mubes) ke II yang disepakati menjadi Laskar Pemuda Suku Donggo (LA DONGGO)-Jakarta.

“Nama sebelumnya kami memaknainya sempit, seolah-olah itu adalah organisasi dua kecamatan yakni kecamatan Donggo dan Soromandi, padahal kenyataanya yang bergabung disitu adalah semua orang Suku Donggo diseluruh Nusantara yang berdomisili di Jakarta”. Kata FGD saat dikonfirmasi via sambungan seluler pada Kamis, (12/12/19).

Ketika disinggung soal filosofis dari kata “La Donggo”, Fadlin yang akrab disapa FGD ini mengungkapkan, istilah itu merupakan hasil rembukan diwarung kopi bersama dengan salah satu anak tokoh penggerak peristiwa Donggo 72, Maulana Ikbal, S. Pd bersama alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Ruslin, M. IKom yang sekaligus Pendamping LA DONGGO-Jakarta.

“Kami sepakat bahwa kata “La” itu adalah merupakan potongan dari kata Laskar yang kebetulan memiliki makna tersendiri dari ejaan kata bahasa Bima yang berarti “dia, ia, atau si”. Sementara Kata Donggo, selain nama satu-satunya etnis di Bima tapi Donggo sangat diidentikkan dengan kata “Pembela Pemberani, Pejuang, Pecinta”. terang Fadlin.

Baca Juga :  Kapolsek tompobulu Gowa perkuat silaturahmi guna harkamtibmas

Jadi kata La Donggo sambung FGD, bermakna ” si pembela kebenaran (lewa kaima poda ro ma ncihi), si pemberani melawan ketidakadilan (disa ro wati cau di tonda ba dou) , si pejuang kesuksesan/masa depan (ngopa ngaha kai rawi ma taho),  si pecinta sesama (cua kataho ro meci angi), tetapi yang tak kalah penting adalah kami bermaksud untuk mengangkat kearifan budaya dan mempertegas identitas asal-usul kami agar tidak dilupakan”. Ungkap FGD

Selain mengusulkan nama baru, jebolan Universitas Negeri Makassar (UNM) ini juga menerangkan bahwa selain wilayah operasional lembaga di kota metropolitan Jakarta juga perannya dinilai besar, sehingga nama lembaga, kata dia, harus mencerminkan kebesaran Ibu Kota.

“Ini Jakarta, maka lembaga ini gaungannya harus mencerminkan ibu kota atau maenananya Nasional, tidak boleh bersifat biasa saja. Istilah Himpunan, Ikatan, Komunitas, itukan istilah-istilah klasik yang yang umum dipakai orang. Selain itu Istilah La Donggo sekaligus mencerahkan semuanya bahwa mengaku orang Donggo tidak perlu malu karena Donggo tidak malu-maluin” Cetus bapak satu anak ini.

Baca Juga :  Ini nama-nama bapak asuh polisi polsek tompobulu res gowa

Akademisi Universitas Mercu Buana ini pun mendorong Pemuda-Pemudi Donggo untuk segera mengambil bagian dipentas Nasional, mengingat potensinya terbilang  memadai.

“Apalagi yang ditunggu saatnya pemuda Donggo berkompetisi apalagi sudah berada dijantungnya negara. Kami bisa, tidak boleh terus disepelekan orang lain. Sumber daya kami mumpun, terbukti kami orang Donggo punya pengusaha-pengusaha hebat. Juga orang yang sekolah sampi S3 banyak, lalu apa alasannya kami untuk tidak bangkit”. Tegas darah kelahiran Desa Wadukopa ini

Menurut, Direktur Strategi dan Analisis Politik Indonesia tersebut, Jakarta saat ini membutuhkan Fighter bukan generasi suapan, sehingga ia berharap LA DONGGO menjadi wadah penghimpun kekuatan yang menularkan energi positif bagi anak muda lainnya bahwa Dou Donggo memiliki mimpi yang tak kalah besar dari orang lain.

“Paling tidak menjadi jembatan kesadaran bahwa mengaku diri sebagai orang Donggo adalah sebuah kehormatan,” Pungkasnya.

Reporter : J

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :