faktual.net, Maros, Sulsel- Ketua DPK LIPAN Maros yang lahir dan besar di Kecamatan Bantimurung sebelum terbentuknya Kecamatan Simbang menyayangkan kondisi sekarang ini di permandian Alam Bantimurung.
“Nenek-nenek kami terlibat pelaku sejarah dalam pekerjaan permandian alam Bantimurung, yang mana masa itu permandian ini terkenal dengan banyaknya Kupu-kupu beterbangan di pepohonan dan hinggap di tepi sungai di sekitar air terjun untuk mencari makan karena kealamian dan kesejukan Bantimurung masih sangat terasa,” ungkap Muhammad Tahir selaku ketua DPK LIPAN, Minggu (23/10/22).
Kata Tahir seiring bergesernya waktu dengan banyaknya anggaran yang dikucurkan melalui Dinas Parawisata untuk pengembangan pembangun permandian Alam Bantimurung justeru membuat kealamian permandian Alam Bantimurung mulai menghilang.
“Kalau dulu mulai dari patung kera kesejukan Bantimurung sudah mulai terasa tapi sekarang ini kalau musim panas pengunjung hanya bisa merasakan kesejukan itu jika berada di sekitaran air terjung,” lanjutnya.
Menurutnya ia tidak menyalahkan pembangun yang ada di lokasi permandian Alam Bantimurung, akan tetapi seharusnya pihak pengelolah permandian Alam Bantimurung harus jelih melihat sisi positif dan negatif sesuatu yang akan dibangun di areal permandian.
“Misalnya pinggir-pinggir sungai itu tidak perlu dicor karenadi situ tempat kupu-kupu hinggap untuk dapatkan makan, lokasi yang banyak pepohonannya juga demikian,” ungkapnya.
“Beton itu membuat akar pohon terhalang mendapatkan pasokan makanan dan udara, bahkan sekarang ada lagi pembangunan panggung baru, padahal sudah ada panggung lama, panggung yang sudah ada tidakk terlalu dipungsikan oleh pengungjung sebagaimana tujuan pungsinya lalu kenapa membangun panggung baru lagi,” pungkasnya.
Muhammad Tahir sebagai putra daerah Bantimurung berharap pemerintah dalam hal ini Dinas parawisata untuk menjaga kelestarian Kupu-kupu dan pepohonan yang ada di sekitaran permandian Alam Bantimurung.
Editor: Anton















