oleh

Disinyalir Tahura Abd Latif “Murka” Pegunungan Longsor Pesisir Banjir

Faktual.Net, Sinjai, Sulsel, Sebuah bencana alam di luar kendali manusia disebut murka, seperti gempa bumi atau tsunami, Termasuk longsor di dataran tinggi akibat banjir di dataran rendah.

Dimana kejadian tersebut tadi seorang pun dapat memegang tanggung jawab Sebaliknya, peristiwa politik atau buatan manusia luar biasa lainnya dianggap sebagai force majeure.

Lain halnya di ungkap sebelumnya budayawan Kabupaten Sinjai, Bahwa Slogan Bumi Panrita Kitta terdiri dari dua wilayah yang didataran tinggi di kenal Pitulimpoe Dan didataran rendah di kenal Tellulimpoe.

Di saat itu dia “Ibaratkan batang tubuh manusia kepalanya di gunung kaki di pesisir karena di ikat dua kerajaan yakni kerajaan Pitulimpoe di pegunungan dan Tellulimpoe di pesisir” menurut budayawan

Keterangan Foto: kondisi Longsor dataran tinggi atau lereng gunung

Bukan hanya versi budayawan didalam kitab Al-Qur’an, berbunyi “ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba’ḍallażī ‘amilụ la’allahum yarji’ụn, terjemahan arti “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” .dalam Q.s Ar-rum ayat 41.

Berita Terkait:  https://faktual.net/peneliti-asal-palangka-ungkap-titik-rawan-bencana-di-sinjai/

Hal serupa di ungkap oleh salah peneliti bencana Asal Sinjai, Muhlis Salfat, bahwa di setiap di Kecamatan yang ada di Kabupaten Sinjai ada beberapa titik rawan longsor akibat curah hujan tinggi dan lahat gundul pohon sebagai penyangga di lereng gunung di tebang di antaranya berpolemik Tahura Abd Latief, Desa Batu Belerang, Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai.

“Kalau di hulu gundul atau pohon pohon penyangga di tebang dan kantong air tidak ada, khusus nya di lereng gunung habis di babat itu kuat berpotensi rawan longsor hingga mengakibatkan air meluap jadi di hilir akan mengalami banjir” Tutur Muhlis.

Keterangan Foto: kondisi Banjir di perkotaan dataran rendah

Salah satu contohnya, kayu penyangga di tebang ada pembangunan bumi perkemahan di taman hutan raya (Tahura) Abd Latief Sinjai hingga kini, berpolemik karena adanya penolakan dari Aliansi Tahura Mengugat (ATM) yang tergabung dari berbagai elemen organisasi masyarakat dan pemerhati lingkungan.

Berita Terkait:  https://faktual.net/atm-sambut-hjs-ke-457-kado-pemkab-perusak-hutan/

Sekalipun itu berbagai cara yang di lakukan bahwa pembangunan tersebut di hentikan tidak nampak membuah hasil justru Issu pertambangan Tambang Bonto Katute kembali muncul di permukaan.

Adapun terjadinya tanah longsor maupun banjir yang sempat di himpun, Jum’at (14/05/2021)

Kini baru masuk sekitar tiga hari turung hujan sudah ada berapa titik di pegunungan terjadi longsor yakni Desa Bonto, Desa Pattongko, Kecamatan Sinjai Tengah dan air tergenang (banjir) seperti di jalan Jendral Sudirman hingga RSUD Sinjai tergenang Air.

Editor: Dzul

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :