Faktual.Net, Baubau — Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Bau-Bau kecam tindakan dan ucapan yang tidak pantas dilontarkan oleh oknum Kepala Dinas Perindag Kota Bau-Bau yang meneriaki warga “pencuri” saat mengantre beras pasar murah di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) Rabu (6/3/2024), membuat warga geram.
“Tindakan dan ucapan tersebut tidak hanya merusak citra pemerintah, tetapi juga menimbulkan rasa sakit dan kekecewaan di kalangan masyarakat,” kata La Ode Awal Ramadhan, Ketua PC IMM Baubau.
Dia menegaskan sebagai masyarakat yang beradab, lebih mengutamakan asas praduga tak bersalah dan menghargai hak setiap individu untuk diperlakukan secara adil dalam proses hukum.
“Kepala Dinas Perindag, sebagai seorang pejabat publik, seharusnya bertanggung jawab dalam menyampaikan pernyataan yang mematuhi etika dan norma-norma sopan santun,” ucapnya.
Awal Mendesak agar pihak berwenang mengambil langkah yang tepat untuk menangani masalah ini dan memastikan bahwa setiap individu, termasuk pejabat pemerintah, bertanggung jawab atas tindakan dan ucapnya.
Dilanjutkan oleh Kabid Hikmah harus menegaskan untuk menjunjung tinggi norma dan etika dalam kegiatan sosial.
“Kita harus menjunjung tinggi norma-norma sopan santun dan menghormati martabat setiap individu,” ucapnya.
“Kepala Dinas Perindag harus secepatnya meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Kota Bau-Bau atas pernyataannya yang tidak pantas, untuk menghindari segala kemungkinan yang akan terjadi yang tidak di inginkan,” sambungnya.
Sementara itu, Kadis Perindag Kota Baubau, La Ode Ali Hasan meminta maaf usai meneriaki wanita bernama Fitriani (FR) sebagai pencuri saat antre beras murah. Hasan mengaku khilaf melontarkan kalimat bernada tuduhan itu.
“Iya, kami sudah meminta maaf,” kata La Ode Ali, Jumat (8/3/2024).
Dia mengaku permintaan maafnya disampaikan langsung saat datang ke rumah Fitriani pada Kamis (7/3) malam. Hasan menyebut Fitriani telah memaafkannya.
“Sudah selesai, kami sudah ketemu warga bernama Fitriani, kami datangi rumahnya tadi malam,” ujarnya.
“Kita secara kekeluargaan dan menyampaikan bahwa manusia dalam kondisi seperti itu, akhirnya kata-kata keluar,” tambah Hasan.
laporan: Aris
Editor: Kariadi
















