Oleh: Ansar Parawangsa
Faktual.Net, Makassar, Sulsel – Ajang Musyawarah Cabang (Musycab) XXXI Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Makassar merupakan kegiatan tahunan yang di lakukan oleh cabang untuk melakukan pergantian kepengurusan, sehingga ajang tahunan ini bukan hanya tentang suksesi kepemimpinan saja tapi juga tentang suksesi gagasan.
Namun euforia musyawarah cabang harus dipandang dalam kacamata refleksi-kolektif-kritis. Mengapa hal tersebut dianggap penting, hal ini tersebut dianggap menjadi proposal yang akan diuji dalam pentas musyawarah tingkat cabang.
Melihat hal itu, secara internal organisasi pimpinan cabang Kota Makassar saat ini berada dalam surplus kader. Kuantitas kader yang Ada ditengarai karena banyak nya komisariat yang Ada dikota Makassar dan tersebar dibeberapa kampus. Dan hal itu Saya memandangnya positif. Namun Ada syndrome akut yang mendera organisasi saat ini dan terkadang sering menjadi dosa jairiyah yang terus dipertontonkan.
Fenomena membentuk komisariat baru namun melupakan porsi pembinaan sebelumnya menjadi fenomen banal Dan nyeleneh dikota Makassar. Ramai-ramai membentuk komisariat namun menypelekan komisariat yang mati suri adalah perilaku biadab pimpinan. Dan itulah yang Saya sebut dosa jairiyah pimpinan cabang Dari beberapa periode akhir-akhir ini.
Tentu hal ini tidak kita inginkan, perilaku seperti ini sering dilakukan ketika menjelang musycab Dan paradigma awam pastinya akan melihat ini dalam kacamata bermotif politik.
Walaupun dalih ekspansi gerakan Dan kepentingan ideologis yang dikorbankan. Misalnya saja, komisariat farmasi yang bernaung di fakultas kedokteran, yang notabenenya saat ini sudah Ada 4 komisariat dalam satu fakultas. Namun, bukan itu yang menjadi soal.
Secara aspek regulasi tidak Ada yang mengatur itu, namun hal tersebut dianggap cukup resisten ditengah kondisi internal cabang yang sangat tidak stabil dikarenakan porsi pembinaan yang tidak merata Dan banyak nya komisariat fiktif di Kota Makassar. Makassar sebagai kiblat gerakan sudah saatnya dikembalikan pada khittahnya. Tertib organisasi dan tertib administratif adalah demplot/model percontohan yang mesti dijadikan teladan untuk pimpinan cabang yang lain. Hal ini lah yang kita sebut sebagai degradasi kepemimpinan IMM dikota Makassar.
Menindak lanjuti perhelatan Muscab IMM Kota Makassar yang Mines berapa hari lagi maka mewakili pimpinan komisariat IMM Faperta Universitas Muhammadiyah Makassar memiliki pandangan kedepannya untuk pimpinan cabang dapat berbenah, bukan hanya kepentingan kelompok semata,
Dalam kepengurusan cabang periode IMM MASSIF yang sudah berjalan satu periode banyak yang perlu di benahi oleh cabang periode selanjutnya salah satunya yaitu pengawalan komisariat yang tidak massif sehingga banyak komisariat yang tidak terkontrol sebagai mana mestinya sehingga beberapa komisariat mati suri akibat pembinaan yang tidak begitu merata.
Ini merupakan masalah yang besar dalam periode sekarang ini apalagi Cabang IMM Kota Makassar akan mengadakan musycab. Maka dari itu, mengenai banyaknya komisariat fiktif di Kota Makassar Dan pembentukan komisariat yang bernuansa politis mesti dipertanggungjawabkan oleh bidang organisasi Cabang Kota makassar saat ini.
Tak hanya itu, bidang organisasi DPD tak boleh mendiamkan hal itu, Karena persoalan ini Sudah berlarut-larut. Kami dari komisariat sangat menantikan klarifikasi secara terbuka dari yang bersangkutan untuk dipertanggungjawabkan kepada khalayak luas.Tentu upaya reflektif-kritis ini Saya harus sampaikan sebagai langkah awal untuk melakukan pembenahan secara kritis untuk internal cabang kedepannya.
Pimpinan komisariat IMM Pertanian siap menyukseskan Musycab Makassar dengan catatan, bargaining Gagasan yang dibangun oleh audience nantinya adalah prioritas penting tanpa memandang sektoral gerbong, primordial kampus, dan apapun itu bentuknya.
Penulis adalah Sekbidor Pikom IMM Faperta Unismuh Makassar.














