Example floating
Example floating
Daerah

Koordinasi Pengawalan Readsi di Sultra, Program Pertanian Mutlak Diperlukan

×

Koordinasi Pengawalan Readsi di Sultra, Program Pertanian Mutlak Diperlukan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.Net, Kendari, Sultra. Koordinasi pengawalan Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scalling Up Initiative (Readsi) di Sultra, terungkap capaian tiga puluh persen program, sejak tahun dimulainya program pada 2019 lalu. Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Judul MSi, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa, 30/3/2021, saat membawakan sambutan dalam kegiatan koordinasi pengawalan program Readsi dan peningkatan kapasitas Fasilitator Desa, di Hotel Claro Kendari.

“Capaian Program Readsi di Sultra masih tiga puluh persen, sejak tiga tahun terakhir, ini juga diakibarkan oleh bencana wabah Covid-19,” kata Muhammad Judul.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Masih menurut ia, Pemerintah Sultra berharap dengan makin melandainya wabah Covid-19 di Sultra, maka target sesudah 5 tahun pertama program Readsi dapat tercapai dan dilanjutkan lagi menambah bukan hanya tiga kabupaten saja, yaitu Kolaka, Kolaka Utara dan Konawe.

Menurut Muhammad Judul, dengan adanya Program Readsi, serta kehadiran para Fasilitator Desa maka bisa mendekatkan kesejahteraan bagi petani dengan hasil yang terukur, melalui ilmu, pendampingan, akses pasar dan akses modal.

“Program pertanian adalah mutlak diperlukan, bayangkan jika krisis pangan, lalu sektor pertanian tidak jalan, jika terjadi banjir satu musim saja maka akan lumpuh. Olehnya itu kehadiran Fasilitator Desa sangat kita harapkan bantu petani, bagaimana petani kita tahu tatacara penanam secara baik, dengan sentuhan teknologi saja tidak cukup tampa digenjot sumberdaya manusianya,” sambung Muhammad Judul.

Masuknya Program Readsi di Sultra dikatakan oleh Muhammad judul bahwa pemerintah Sultra kini tidak sendiri meningkatkan program pertanian, tetapi ada Readsi yang membantu kelancaran perkembangan pertanian di Sultra. Ia mengungkapkan komitmen pemerintah Sultra untuk mengawal Program Readsi dan menunggu keberlanjutan.

Sementara itu, penilaian capaian Program Readsi secara keseluruhan disampaikan oleh Manajer Readsi Pusat, Bayu Rahmawan, SP MM, sekaligus mewakili Kepala Pusat Pelatihan Pertanian. Menurut ia, serapan anggaran di Sultra yang sudah baik di Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara, sementara Kabupaten Konawe masih kurang serapan anggarannya.

Kurangnya serapan anggaran masih menurut Bayu Rahmawan disebabkan ketidakpahaam dan belum ada koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dan legislatifnya, sehingga diperlukan komunikasi dan koordinasi tentang mekanisne pembiyaan Program Readsi.

“Program Readsi ini adalah pinjaman luar negeri Indonesia kepada IFAD dibawah UN, dan dihibahkan melalui pemerintah pusat ke daerah, sehingga tuntutannya adalah kualitas,” ungkap Bayu Rahmawan mengawali pembukaan kegiatan.

Baca Juga :  Jalan Poros Sapaya–Malakaji Kian Memprihatinkan, Warga Dataran Tinggi Desak Perhatian Serius Pemerintah

International Fund for Agricultural Development (IFAD) adalah Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian dibawah organisasi Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB), tujuan utamanya adalah untuk menyediakan pendanaan dan menggerakkan sumber-sumber tambahan untuk program-program yang khusus dirancang untuk pengembangan ekonomi wilayah miskin, terutama dengan mengembangkan produktivitas agrikultural.

“Kalau dilihat tagline IFAD, Investing in Rural People, tujuan Readsi bermaksud untuk meningkatkan kesejahteraan petani keluarga miskin di pedesaan baik individu maupun kelompok, untuk meningkatkan taraf hidup secara berkelanjutan. Implementasi dimulai sejak tahun 2019, dan di tahun 2021 program di fokuskan pada kapasitas pertanian yang lebih beskala formal, bagaimana membangun korporasi petani di akhir project,” ungkap Bayu Rahmawan.

Masih lanjut ia, diakhir project akan ada riset dengan melibatkan FD untuk mengukur adopsi persentase Sekolah Lapang, diharapkan bisa sampai sembilan puluh persen. Selain itu fokus pada peningkatan literasi keuangan, riset kemiskinan dikaitkan dengan literasi keuangan, akses permodalan menjadi faktor kesulitan keuangan petani.

Akses pasar juga hal yang menjadi perhatian Program Readsi, sehingga Fasilitator Desa diharapkan menbantu jejaring akses pasar dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.

Tiga Kabupaten, Konawe, Kolaka, Kolaka Utara, yang menjadi daerah pilihan Program Readsi di Sultra dengan jumlah sembilan ribu petani, diharapkan
punya karakter pertanian masing-masing, dengan desain program botton up, sehingga pemerintah pusat dapat membantu kebutuhan yang diperlukan petani.

Khusus kegiatan alsintan Progran Readsi, menurut Bayu Rahmawan, kontribusi petani dari dana simpanan Poktan sebesar 30%. Petani harus diajari untuk terbiasa menabung pada setiap musim panen.

Diakhir pembukaannya, Bayu Rahmawan menekankan manager Readsi tiga Kabupaten yang hadir, agar konsen pada pengelolaan mekanisme keuangan jika ingin serapan anggaran menjadi baik.

“Kalau tidak ada konsen di mekanisme keuangan yang baik dalam program ini, maka serapan anggaran tetap rendah,” ungkapnya.

Koordinasi Pengawalan Program Readsi di Sultra juga merupakan peningkatan kapasitas Fasilirator Desa, berlangsung selama 3 hari, 30 Maret – 1 April 2021, melibatkan 54 FD, 1 orang Tenaga Ahli Provinsi dan 3 orang Tenaga Ahli Kabupaten, serta 3 orang Manager Readsi dari tiap kabupaten.

Reporter : Wa Ode Deli Yusniati

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit