Faktual.Net, Kendari, Sultra – Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi – Lukman Abunawas menggelar acara Ekspose kemajuan pembangunan 2 tahun membangun Sultra, di Hotel Claro, Kendari, Sabtu, (5/9/2020).
Acara ekspose 2 tahun kepemimpinan AMAN sekaligus launching buku Ali Mazi yang berjudul “Sultra Dalam Pikiran Ali Mazi” yang ditandai dengan pemukulan Gong oleh Gubernur Ali Mazi didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Sultra, Agista Ariany, Sekda Provinsi Sultra, Nur Endang Abbas, Ketua DPRD Sultra, Abdulrahman Saleh, Anggota DPR RI, Tina Nur Alam, Kapolda Sultra, Irjen Pol Yan Sultra Indrajaya, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam.
Turut disaksikan Komandan Korem 143/HO Brigjen TNI Jannie Aldrin Siahaan, Danlanal Kendari, Kolonel Laut (P) Andike Sry Mutia, Danlanud HO, Kolonel Pnb Muzafar, Kabinda Sultra, Brigjen TNI H Aminullah, Kajati Sultra, R. Febrytrianto, Kepala BNN Sultra, Drs. Ghiri Prawijaya dan tamu undangan.
Pasangan yang terkenal dengan akronim AMAN mempunyai visi misi mewujudkan Sulawesi Tenggara yang aman, maju, sejahtera, dan bermartabat. Berdasarkan hasil evaluasi, kinerja pasangan itu telah menunjukkan keberhasilan pembangunan di berbagai sektor.

Keberhasilan itu terwujud karena Seluruh program pembangunan dilakukan dengan memperhatikan aspek prioritas bersama, urgensi, relevansi dengan kebutuhan masyarakat serta kemampuan keuangan daerah demi terwujudnya sulawesi tenggara yang maju dan sejahtera tahun 2023.
“Pembangunan daerah dilakukan dengan sinkronisasi sasaran pokok pembangunan nasional beserta rangkaian kebijakan dan strateginya,” kata Ali Mazi.
Dengan konsep garbarata atau gerakan pembangunan terpadu wilayah daratan dan lautan, sulawesi tenggara menjawab berbagai tantangan untuk mendorong kemajuan wilayah yang lebih merata dan meningkatkan perekonomian daerah.
Pembangunan AMAN ditunjukan beberapa sektor diantaranya sektor perdagangan dengan berhasil membukukan volume dengan nilai 652,37 juta dollar. Sedangkan pada semester pertama tahun 2020 meski sedang dalam kondisi pandemi covid 19, volume ekspor sultra mencapai 527,62 ribu ton senilai 914 juta dollar atau sebesar Rp.12,80 triliun dengan negara tujuan utama yaitu tiongkok, jepang, korea selatan, amerika serikat, jerman, thailand, italia dan india.
Beberapa produk utama sultra yang menjadi primadona ekspor diantaranya adalah ferro nikel, aspal buton, stainlesssteel, ikan cakalang, udang vennamei, kacang mete, ccoabutter atau lemak kakao, gurita beku hingga serabut kelapa.
“Apabila dibandingkan dengan tahun 2019, terakumulasi sejak januari hingga juli terjadi peningkatan nilai ekspor pada tahun 2020 sebesar 9,59 %,” kata Ali Mazi.
Bidang Industri Kecil Menengah (IKM), sejak tahun 2018 jumlahnya tercatat mengalami kenaikan setiap tahun. Bimbingan teknis penumbuhan wira usaha baru ditiap kabupaten/kota yang rutin di selenggarakan dinas perindustrian dan perdagangan mencatat pertumbuhan IKM hingga 13.291 perusahaan. Nilai produksi IKM juga dilaporkan meningkat, pada tahun 2018, 3 miliar 45 juta Rupiah pada tahun 2019 menjadi 3 milyar 368 juta Rupiah dan naik 3 milyar 488 juta Rupiah pada semester pertama tahun 2020.
Selain itu, Sektor Pendidikan juga menunjukan keberhasilan AMAN dalam pembangunan manusia. Hal ini ditunjukan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia pada bidang pendidikan yang diaplikasikan dalam program sultra cerdas digambarkan dengan angka partisipasi kasar terutama pendidikan SMA dan sederajat, 84,83 % pada tahun 2018, dan mengalami peningkatan sebesar 86,81% di tahun 2019. selama 3 tahun berturut-turut sejak tahun 2018, 2019 dan 2020 angka kelulusan SMA sederajat jumlahnya 100%.
“Pemerintah provinsi sulawesi tenggara juga telah menggelontorkan dana khusus beasiswa pada tahun 2018 hingga 2019 sebesar Rp. 7 miliar 566 juta lebih yang di peruntukkan bagi pendidikan 3453 orang siswa, mahasiswa diploma, S1,S2,S3, profesi guru dan umum,” kata Kadikbud Sultra, Asrun Lio.

Asrun mengatakan, di tahun 2020 pemerintahan Ali Mazi dan Lukman Abunawas menunaikan janjinya kepada 3.704 guru honorer melalui dinas pendidikan dan kebudayaan. Guru honorer atau guru tidak tetap, menerima tambahan penghasilan sebesar Rp. 400 ribu selama 6 bulan atau sekitar Rp. 2,4 juta per orang. selain itu juga diberikan bantuan dana stimulus pandemi covid 19 sebesar Rp. 1 juta kepada seluruh guru tidak tetap se sulawesi tenggara.
Dalam kerangka sultra cerdas pula, pemerintah sulawesi tenggara menunjukkan keseriusan dalam melestarikan sejarah secara nasional, setelah ditunjukan secara resmi kepada pemerintah pusat, melalui keppres no 120/tk/tahun 2019, Presiden RI, Joko Widodo menetapkan gelar pahlawan nasional kepada Sultan Himayatuddin Muhamad Saidi atau Oputa Yi Koo yang berkuasa selama 2 periode sebagai Sultan Buton ke 20 pada tahun 1752-1755 dan ke 23 pada tahun 1760-1763 atas jasanya berjuang dan mengusir penjajah belanda di Pulau Buton.
“Selain itu, untuk menjaga kearifan adat dan budaya dalam kemasan Sultra berbudaya dan beriman, saat ini pemerintah provinsi juga memandang perlu untuk memasukkan falsafah budaya adat seperti kalosara dan prinsip adat lainnya yang sarat pesan moral dan nilai-nilai kebaikan menjadi bagian dalam kurikulum pendidikan baik dalam pendidikan formal, non formal dan in formal sehingga dapat di internalisasikan dalam seluruh aspek kehidupan,” jelas Asrun Lio.
Sementara itu, Sektor Pertanian Sultra mengalami penurunan produk. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, pada tahun 2018 sulawesi tenggara menghasilkan 538,88 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG) dan pada tahun 2019 mengalami penurunan diangka 19,17 ribu ton atau 3,56 %. Sehingga jumlah GKG pada tahun 2019 jumlahnya sebesar 519,71 ribu ton.
“Untuk mengatasinya pada tahun 2019 dilakukan perluasan sekitar 750 hektar sawah baru dan pengembangan 17 unit embung untuk mendukung usaha pertanian, perkebunan dan peternakan terutama pada saat musim kemarau,” kata Kadis Pertanian Provinsi Sultra,
Sektor Ekonomi merupakan kesuksesan pembangunan pasangan AMAN. Ini ditunjukan pada sejumlah program yang di canangkan Ali Mazi dan Lukman Abunawas sejak di lantik 5 september 2018 lalu, berjalan pada koridor positif dengan hasil menggembirakan. Salah satu diantaranya adalah peningkatan asset bank sultra menjadi Rp.10,00 triliun pada tahun 2019 dari Rp.7,05 triliun pada tahun sebelumnya.
Sedangkan sampai dengan semester pertama di tahun 2020 (30 juni 2020) jumlah asset bank sultra tercatat sudah mencapai Rp.9,79 triliun. Tidak hanya itu, bank perkreditan rakyat milik pemerintah provinsi sulawesi tenggara yang melayani usaha kecil menengah masyarakat juga membukukan nilai yang menggembirakan .
“Jika tahun 2018 BPR menghasilkan laba 7,4 milyar rupiah, pada tahun 2019 meningkat menjadi 11,2 miliar rupiah lebih, dan sampai dengan bulan juli 2020 telah menghasilkan laba berjalan sebesar 5,16 miliar rupiah. Dengan jumlah nasabah sebanyak 43.581 orang,” kata Direktur Bank Sultra.
Upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga di tunjukkan dengan kerjasama penanaman modal bersama berbagai pihak swasta, nasional maupun internasional. Pada tahun 2019 total realisasi investasi penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing sebesar Rp.18,64 triliun dan semester pertama tahun 2020 telah mencapai Rp.5,6 triliun.
“Beberapa investor dengan nilai cukup besar tercatat sudah merealisasikan kerjasama dengan pemerintah provinsi sulawesi tenggara dan menyerap ribuan tenaga kerja lokal seperti Virtue Dragon Nickel Industri (VDNI) di Kabupaten Konawe, PT.Ceria Nugraha Indotama di Kabupaten Kolaka, serta PT. Jhonlin Batu Mandiri di Kabupaten Bombana yang mendukung program kerja pemerintah pusat dalam rangka pemenuhan ketersediaan kebutuhan gula secara nasional,” kata Kadis Penanaman Modal PTSP Sultra, Masmuddin.
Ia mengatakan peningkatan pendapatan ekonomi di Sultra sangat dipengaruhi dengan kegiatan Investasi. Untung saja besarnya investasi yang dilakukan para pengusaha di wilayah sulawesi tenggara merupakan dampak positif dari singkatnya proses perizinan yang di atur pemerintah dengan memberlakukan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
“Sejak bulan september tahun 2018 hingga semester pertama 2020 jumlah izin investasi dan penanaman modal asing yang di terbitkan oleh PTSP provinsi sulawesi tenggara sebanyak 2.372 izin. Yaitu tahun 2018 sebanyak 1.172 izin, tahun 2019 sebanyak 950 izin dan sampai dengan semester pertama 2020 telah mencapai 257 izin,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, proses perizinan dilakukan melalui optimalisasi pelayanan perizinan onlinesinglesubmission (oss) serta aplikasi perizinan sispadu. Baiknya pelayanan perizinan ini bahkan di ganjar dengan penghargaan Top 99 inovasi serta penghargaan bidang pelayanan publik dengan kategori A oleh Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN-RB).
Kinerja pembangunan AMAN dibeberapa sektor menunjukan peningkatan kinerja perekonomian daerah Provinsi Sultra. Hal ini tergambar dari angka-angka makro ekonomi yaitu tingkat kenaikan harga-harga umum yang ditunjukkan dengan laju inflasi provinsi sulawesi tenggara pada tahun 2018 sama dengan tahun 2019 yaitu sebesar 2,7% . Pada tahun 2020 diperkirakan menurun menjadi 2,0% – 2,4% dan masih berada pada sasaran inflasi nasional sebesar 3,0% + 1%.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sultra, pertumbuhan ekonomi sulawesi tenggara tumbuh di atas 6%, sementara rata-rata nasional mencapai 5%. Pada tahun 2019 pertumbuhan ekonomi sulawesi tenggara mencapai 6,51% dan pertumbuhan nasional mencapai 5,02 %. Pada kuartal i perekonomian sulawesi tenggara tumbuh sebesar 4,37 %, lebih tinggi dibandingkan perekonomian nasional yang tumbuh sebesar 2,97% (yearonyear). Pada kuartal ii perekonomian sulawesi tenggara mengalami kontraksi sebesar minus 2,39%, sedangkan perekonomian nasional mengalami kontraksi sebesar minus 5,32%.
Persentase penduduk miskin yang mencapai 11,32% pada tahun 2018, turun menjadi 11,04% di tahun 2019 dan pada periode maret tahun 2020 kembali turun menjadi 11%. Penduduk bekerja pada februari 2020 sebanyak 1.274.067 orang bertambah sebanyak 15.965 orang (1,27 %) dibanding februari 2019. Sementara tingkat pengangguran terbuka pada februari 2020 sebesar 3,17 %, masih lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 4,99 persen.
Capaian kinerja pembangunan manusia di sulawesi tenggara terus meningkat. Sejak tahun 2018, status pembangunan manusia di sulawesi tenggara telah mencapai level ”tinggi”, pada tahun 2019 indeks pembangunan manusia sulawesi tenggara telah mencapai target RPJMD tahun 2020 sebesar 70,26 poin.
APBD Sultra setiap tahun mengalami kenaikan anggaran. Pada tahun 2018 Rp. 3,97 triliun, angka ini naik menjadi Rp.4,24 triliun pada tahun 2019, dan menjadi 5,64 triliun pada tahun 2020. Penambahan pendapatan juga terjadi di PAD atau pendapatan asli daerah. Pada tahun 2018 Rp.694,7 miliar naik menjadi 867,7 milyar rupiah pada tahun 2019, dan diproyeksikan naik menjadi 1,2 triliun rupiah pada tahun 2020.
Persentase penduduk miskin yang mencapai 11,32% pada tahun 2018, turun menjadi 11,04% di tahun 2019 dan pada periode maret tahun 2020 kembali terjadi penurunan menjadi 11% . Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (tpt) pada tahun 2018 sebesar 3,26%, turun menjadi 2,96% pada tahun 2019, kemudian akibat dampak pandemi covid 19 jumlahnya meningkat menjadi 3,17% pada semester pertama tahun 2020. Namun lebih rendah dari angka nasional yang besarnya 4,99%.
Reporter: Marwan Toasa
















