Faktual. Net, Kendari. Jagalah hati,
وعنْ أبي هريرةَ عبدِ الرحمانِ بنِ صخرٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم: «إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى
أجْسَامِكُمْ، ولا إِلى صُوَرِكمْ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم». رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa kalian dan tidak juga harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian” (Shahih Muslim juz 4 hal. 1987 no. 2564).
Hadits ini merupakan hadits yang sangat agung lagi mulia, yang menjelaskan bahwasanya Allah Azza Wa Jalla tidak melihat kepada bentuk dan rupa seseorang. Walaupun ia berbadan gemuk atau kurus, cantik maupun jelek, hitam atau putih dan besar maupun kecil, akan tetapi yang menjadi patokannya adalah hati dan amalan seseorang. Sebab manusia yang paling mulia di sisi Allah Subhana Wa Ta’ala adalah orang yang paling bertakwa, dan takwa itu tempatnya dihati.
Mengingat kedudukan hati adalah sebagai raja bagi seluruh anggota tubuh, maka segala amalan yang keluar dari hati yang bertakwa pasti bersesuaian dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab ia adalah teladan bagi orang-orang yang bertakwa.
Karena itulah, amalan dan hati seseorang harus senantiasa selaras di atas syariat Allah Subhana Wa Ta’ala. Hatinya harus jujur dan ikhlas kepada Allah Azza Wa Jalla, sedangkan amalannya harus tetap di atas petunjuk dan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karenanya, seyogyanya setiap muslim untuk memperhatikan keadaan hatinya daripada keadaan lahiriyahnya. Sebab niat yang benar menjadi penentu amalan. betapa banyak orang yang melakukan amalan-amalan yang besar namun menjadi kecil karena niat dan betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya.
Sebagai contoh : 2 orang yang sholat dalam shaf yang sama, gerakan yang sama dan imam yang sama. Namun perbedaan hasil ke 2 orang tersebut sangat jauh seperti jauhnya antara timur dan barat.
Hal ini disebabkan karena hati mereka yang berbeda. Salah satunya ia sholat dalam keadaan hatinya lalai bahkan berbuat riya’ dengan sholatnya dan mengharapkan bagian dari tujuan duniawiyah. Adapun yang lainnya, ia sholat dengan penuh kekhusyuan dan mengharapkan dengan sholatnya tersebut wajah Allah dan meniatkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu keduanya berada dalam perbedaan yang sangat jauh.
Oleh karenanya, marilah memperhatikan niat-niat kita dan senantiasa berusaha menyucikan dan membersihkan hati-hati kita dari noda-noda kesyirikan, bid’ah dan maksiat.
Sumber : Ustadz Abu Dawud Ilham Al Atsary
















